Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
With You


__ADS_3

"Menangislah. Lampiaskan kalau itu bisa membuatmu lega."


Kedua lengan kokoh Daddy melingkari tubuhku. Dekapannya sangat erat. Dia menemaniku di bawah siraman air hujan, merasakan lukaku, dan melawan dinginnya hujan bersamaku. Kemudian, dengan perlahan ia memutarku, menatapku sejenak, dan kembali mendekapku ke dalam pelukan. Entah berapa lama, ia menemaniku hingga perasaanku sedikit lega, aku bisa lebih tenang, dan air mataku sudah bisa terkendali. Setidaknya, keadaanku sudah lebih baik.


"Sudah lega?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Ya, ya," kataku terbata. "Aku... aku... aku baik-baik saja, Daddy. Aku baik. Daddy tidak perlu khawatir. I am fine."


"Daddy percaya kamu gadis yang kuat. Sekarang kita masuk, ya?"


Lagi, aku mengangguk. Tetapi...


"Auuuuuw...!"


"Kenapa?"


"Kakiku keram," aku meringis dan hampir terjatuh.


Tapi kedua tangan itu dengan sigap menahanku. Dan dalam hitungan detik, aku sudah berada dalam gendongan kedua lengannya yang kokoh, ia membawaku kembali ke pondok. "Kamu tunggu di sini dulu," katanya setelah mendudukkan aku di kursi dapur. "Daddy siapkan air panas untukmu mandi, ya."

__ADS_1


"Tidak usah. Kejora bisa sendiri."


"Jangan rewel. Dengarkan perkataan Daddy. Oke?"


"Iya, oke," sahutku yang masih terbelenggu duka.


Setelah Daddy menyiapkan air hangat untukku, ia membantuku ke kamar mandi. Entahlah, padahal aku tahu kakiku sudah tidak keram, tapi aku membiarkan saja dia membantuku.


Ya Tuhan, betapa beruntungnya ibuku dulu pernah dicintai olehnya. Daddy benar-benar lelaki yang sangat baik dan juga sangat tulus.


Setelah mandi kilat pagi itu, kusuruh Daddy yang tak hentinya mengawasiku untuk segera mandi juga. Yeah, dia menungguiku di luar kamar mandi dan mengikuti sewaktu aku hendak kembali ke kamarku. Aku tahu, dan aku mengerti ketakutannya: dia takut kalau aku akan pergi darinya seperti yang dulu dilakukan oleh ibuku. Tapi kuyakinkan dia kalau aku baik-baik saja, dan aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku akan terus bersamanya.


"Iya," sahutku. "Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tetap di sini."


"Oke, Daddy mandi. Kamu cepat ganti pakaian, terus buatkan teh. Kita sarapan. Oke? Ingat, buatkan teh, jangan lupa."


Aku mengangguk, dan baru saja hendak menutup pintu kamarku ketika ia berbalik.


"Lupa, senyumnya mana?"

__ADS_1


"No, nanti saja kalau Daddy sudah selesai mandi."


"Baiklah. Daddy mandi sekarang. Jangan lupa tehnya, ya."


Aku tahu, dia ingin membuatku sibuk supaya aku tidak larut dengan pikiranku sendiri. Aku paham akan caranya itu. "Aku tidak akan ke mana-mana, Daddy," gumamku setelah ia berlalu. "Tempatku di tengah-tengah Daddy dan Oma. Aku tidak akan pergi dari kalian." Dengan sendirinya, senyumku pun mengembang. Dan kupikir, lebih baik aku membuatkan tehnya dulu, setelah itu baru berpakaian, supaya dia bisa segera minum tehnya kalau ia selesai mandi nanti.


"Lo, kamu belum ganti pakaian?"


Ya ampun, dia mandi super kilat. "Daddy mandinya pakai sabun? Kok cepat mandinya?"


Dia nyengir. "Pakai, Sayang. Pakai sampo juga, kok."


Ya terserahlah, pikirku. Sebegitu takut dia melepaskanku dari pengawasannya. "Ya sudah, ini tehnya, ya. Kejora ke kamar dulu." Aku pun berlalu.


Sempat aku menoleh ke belakang, Daddy tersenyum, sambil mendongakkan kepalanya -- ia mengelus dada. "Terima kasih, Tuhan," ucapnya.


Daddy tidak perlu meragukan kekuatanku. Aku bukan gadis rapuh. Memang masih terasa sakit di dalam, tapi aku akan tetap -- selalu di sini, bersama keluargaku. Semuanya akan baik-baik saja.


Sekarang aku berdiri di depan cermin, tersenyum sambil menatap wajahku -- sekaligus menatap wajah ibuku.

__ADS_1


"Terima kasih sudah memberikan kehidupanmu untukku. Terima kasih karena engkau mau melahirkan aku ke dunia ini. Terima kasih juga -- karena telah menitipkan aku di tangan yang tepat. Daddy sangat menyayangiku. Dia mencintaiku seperti dia mencintaimu. Aku bahagia, dan kuharap... Ibu juga bahagia di atas sana. Aamiin. I love you."


__ADS_2