
"Baiklah," kata Daddy, "kalau itu yang kamu inginkan. Aku akan segera kembali padamu." Dia tersenyum dengan kerlingan matanya yang nakal. Kemudian, tanpa menunggu jawabanku, ia masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.
Sementara aku, aku menatapnya -- menatap pintu kamar mandi itu, mencoba tidak membayangkan seorang Gibran Aditama berdiri di bawah pancuran air, air mengaliri bahunya yang lebar dan dadanya yang bidang dan turun ke perutnya yang rata dihiasi otot. Tubuh yang bagus, panjang, dan ramping, dengan kulitnya yang putih bersih. Dia juga memiliki lengan berotot. Betapa sempurnanya dia.
"Tidak," kataku pada diri sendiri. Aku menyentakkan pikiranku dari arah itu. Bukan waktunya untuk memikirkannya, sebab itu benar-benar akan terjadi sebentar lagi. Aku melepas jubah mandiku dengan hati berdebar. Dan tiba-tiba... aku mendapati diriku menegang ketika air pancuran dimatikan.
Ya Tuhan, mungkin aku pengantin wanita paling konyol pada hari itu. Di luar dugaan, karena menyadari lingerie yang -- kurasa sama sekali tak menutupi tubuhku, aku malah melompat ke tempat tidur dan menyelubungi tubuhku dengan selimut.
Praktis, Daddy terkekeh-kekeh melihatku seperti itu saat ia keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian dengan jubah mandi yang aku yakin ia tak mengenakan apa pun di baliknya. Namun, meski ia terkekeh-kekeh geli, pesonanya tetap membuat jantungku berdegup kencang. Dia sangat tampan dengan rambut hitamnya yang masih basah.
Ya ampun... aku mengulum senyum. Aku tahu kedua pipiku pasti sangat merah ketika Daddy berjalan menghampiriku. Dia duduk di tepi tempat tidur persis di hadapanku. Untuk waktu yang sesaat namun terasa sangat lama, kami hanya terdiam. Aku menunduk, sementara tatapan Daddy tetap terasa menembus diriku -- meski aku tak balas menatapnya. "Daddy...," kataku, "jangan menatapku seperti itu. Aku malu...."
__ADS_1
"Lalu, aku harus bagaimana?"
Bertambah malu, aku menarik selimut hingga menutupi kepala. Tetapi...
Omaaaaa...
Ingin rasanya aku memekik saat pria itu memegangi tubuhku dan perlahan merebahkanku hingga aku terbaring di tempat tidur. Aku mulai gemetar.
"Boleh kubuka selimutnya?" ia bertanya.
"Aku tidak keberatan jika mesti memakai selimut. Tapi sebenarnya aku berharap aku bisa melihatmu seutuhnya -- yang sudah menjadi milikku. Hakku sepenuhnya."
__ADS_1
Huffft....
Tenanglah, Kejora. Ini memang sudah menjadi haknya.
Dengan perlahan, aku menarik turun selimut itu hingga menyingkap bagian wajahku, juga Daddy yang sekarang berbaring di sisiku -- mungkin tepatnya di atasku.
Dia tersenyum, senyuman yang lebih hangat daripada sinar mentari di bulan Juni. "Kamu sangat cantik," gumamnya, suaranya berupa geraman rendah.
Jantungku berdegup keras ketika Daddy menggerakkan tangannya, dia menarik tali pengikat lingerie di bahuku yang langsung terlepas dalam sekejap, dan, ujung jemarinya membelai kulitku. Lebih cepat daripada yang kuduga, ia sudah melepaskanku dari sutra tipis itu, dan juga selimut yang menutupi tubuhku. Aku mengulum bibir lagi, dan aku tahu pipiku semakin merona ketika tatapan Daddy menelusuri tubuhku, terpaku pada satin berenda yang menutupi keindahan dadaku.
"Kau, sangat indah," ia berbisik. Lalu, dengan perlahan, amat perlahan, tangannya meluncur sensua* di pahaku hingga aku kembali bergetar karena sensasi sentuhan jemarinya yang menggelitik. "Aku menginginkanmu," bisiknya lagi.
__ADS_1
Dengan tersipu, aku pun mengangguk. "Aku milikmu," kataku.
Ouch!