
"Kejora."
Daddy? Daddy di mana?
"Kejora, Sayang. Hei, bangun. Ada apa denganmu?"
Aku menoleh mengikuti suara itu, suara yang lembut, suara yang kukenal seumur hidupku, tetapi aku tetap menutup mata. Aku takut kalau-kalau itu tidak nyata. Kalau-kalau aku hanya bermimpi. Kata-kata itu terdengar lagi.
"Kejora... Sayang... kamu bisa mendengarku? Jangan takut. Aku di sini. Buka matamu."
Aku membuka mata perlahan. Wajahnya terlihat lebih fokus. Air mata menyengat, dan tenggorokanku terbakar.
"Kamu terlihat gelisah."
"Aku baik-baik saja. Hanya mimpi buruk."
"Tenangkan pikiranmu, Sayang. Tenang, ya. Tenang."
__ADS_1
Aku mengangguk, lalu menoleh ke arah jam dinding. Sudah hampir jam enam sore. Aku haus, juga lapar. Aku melihat ke atas meja, ada buah-buahan, juga roti tawar dan selai cokelat, satu boks chicken, plus nampan makanan dari rumah sakit. Tapi rasa penasaran di hatiku lebih memberontak ketimbang rasa lapar di perutku.
"Apa Pak Fikri sudah siuman?"
Daddy tertegun, lalu ia mengangguk. "Ya," katanya.
"Siapa dia, Dad? Kenapa dia selalu ada di sekitarku?"
Raut wajah Daddy menyiratkan ketidaktahuan. Dia bahkan nampak terkejut mendengar pertanyaanku.
Daddy terdiam. Seolah pertanyaanku adalah pertanyaan yang paling sulit yang pernah ia dengar dan ia tak mampu menjawabnya.
"Apa aku harus menebaknya sendiri?"
Daddy menunduk. Kentara sekali ia menghindari tatapan mataku yang menyiratkan seribu tanda tanya, kemudian ia gugup, "Dia... dia sepupu ibumu."
Ya Tuhan... sakit hatiku berkombinasi dengan sakit kepala. Hari itu aku dikejutkan oleh banyak hal. Dan kenyataan ini membuat perasaanku sakit.
__ADS_1
"Dia salah satu pelaku pemerkosaan ibuku?"
Jawabannya berupa anggukan. Aku tahu, Daddy pun merasakan sakitnya. Kejadian pahit di masa lalu seakan terulang kembali. Wajah yang sama, orang yang sama, situasi yang sama. Hanya saja saat ini Pak Fikri berperan sebagai hero, bukan lagi sebagai penjahat -- predator kaum perempuan yang memangsa korbannya dengan buas.
"Tadinya aku kaget melihat lelaki itu," kata Daddy, suaranya serak. "Aku... aku seakan melihat kejadian yang dulu, kejadian yang tidak pernah kulihat. Dan lagi-lagi aku merasa gagal...." Bulir bening menetes dari matanya, tapi Daddy berusaha tegar, ia menyeka air matanya berulang-ulang. "Maafkan aku, Kejora. Maaf...."
Aku terluka, sangat terluka secara psikis, juga mentalku. Tapi lelaki di depanku ini juga mengalami hal yang sama. Dia juga terluka -- luka yang sama, luka yang berulang. Yang kutahu pasti lebih sakit.
Jangan rapuh, Kejora. Kau kekuatan bagi Daddy. Masa lalunya untuk diobati, bukan untuk dicemburui. Tenang, Kejora. Tenang. Kau rapuh di dalam, tapi harus terlihat kuat untuk lelaki ini.
"Maafkan aku, aku lalai. Lalai lagi."
Aku mengangguk. "Sudah, Daddy. Aku lapar, haus. Mau makan. Tolong?"
Dengan malu, Daddy tersenyum. Lalu ia sibuk membersihkan wajahnya yang lembab karena air mata. "Mau makan? Aku suapi, ya?"
Dia bangkit, berdiri dan mengambil nampan makananku. Aku juga meminta air dingin untuk menyejukkan tenggorokanku. Setelah suapan pertama yang rasanya nyaris hambar, aku bertanya, "Daddy sudah makan?"
__ADS_1