Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Pagi Yang Manis


__ADS_3

Aku terbangun oleh suara alarm ponselku yang berdering setiap pukul jam empat pagi. Dengan canggung, aku bertumpu di kedua siku lalu melihat ke jam dinding. Benar, hari sudah jam empat. Ruang di kamarku masih terang benderang karena aku, juga Daddy, langsung tertidur pulas setelah bercinta di babak kedua yang membuat tenaga kami terkuras habis. Namun, bau manis keringat dan gairah masih tertinggal di udara.


Sudah tak sekaku sewaktu pertama bangun tadi, aku berhasil duduk dengan cepat, lalu menunduk menatap pria yang tertidur di sampingku. Menyadari betapa tampan parasnya, dan betapa gagah dan perkasanya dia saat kami bercinta. Dia bahkan lebih tampan daripada saat ia bangun, karena dalam tidurnya, ia tampak santai. Aku jadi bertanya-tanya bagaimana sosok pria itu saat masih kanak-kanak. Pasti dia sangat lucu dan menggemaskan.


Dengan mengantuk, aku meregangkan tubuh. Karena takut kembali tertidur, aku menyelinap pergi dari sosok tubuh Daddy yang ramping dan hangat, kupaksakan diriku turun dari tempat tidur.


Demi tidak membangunkan Daddy, aku berjalan melintasi ruangan, kaki telanjangku melangkah tanpa suara. Aku mengambil jubah mandiku dan pakaian ganti, lalu lekas-lekas ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, sambil menguap aku berpaling lagi ke arah Daddy, dan berpikiran konyol -- aku ingin mengulang kehangatan di ranjang itu bersamanya.


Sayang, ini bukan saatnya. Aku mesti keluar dari kamar dan pergi ke dapur, aku mesti tetap berkomitmen atas tanggung jawabku dengan urusan dapur: memastikan bahan masakan yang sehat untuk Oma dan sesuai selera Daddy. Tetapi, waktu yang kupakai untuk mandi membuatku kalah cepat. Oma, Bibi Sum, dan Mommy Rani sudah bersibuk-sibuk ria di sana.

__ADS_1


"Selamat pagi, Nyonya Gibran...."


"Mommy...." Aku mendelik padanya, malu.


"Uuuh... ada yang keramas subuh-subuh. Bagaimana malam pertamanya? Berapa ronde, Sayang?"


"Rani...," tegur Oma. "Gesrekmu mbok ya dikurangi-kurangi, Ran... Ran. Kasihan pengantin baru sampai tersipu begitu."


Oma terkekeh-kekeh. "Tidak perlu ditanya. Melihat caranya berjalan saja kita bisa tahu seberapa capeknya dia."

__ADS_1


Tawa mereka pecah. Dengan pura-pura merengut aku membantu menyiapkan tatanan piring ke atas meja untuk sarapan, lalu membuatkan teh dan menyiapkan beberapa topping seperti kerupuk, abon, dan merebus telur. Pagi itu Oma membuat bubur, sementara Mom Rani tengah menggoreng ayam untuk disuwir-suwir. Tidak ada lagi pekerjaan setelahnya, aku segera kembali ke kamar.


Ya Tuhan, Daddy pasti sangat kelelahan. Dia masih terlelap. Dengan lembut, aku menunduk untuk mencium pipinya. Sudah pagi, aku harus membangunkannya.


Tapi, meski sudah dicium, Daddy masih tidak bergerak. Dengan sangat lembut, aku mengisa* daun telinganya dan menggigitinya dengan ringan. Merasakan itu, mata Daddy bergetar membuka, ia mengerjap lalu menatapku. Kemudian, hampir saat itu juga, wajahnya pecah menjadi sebuah senyum mengantuk yang indah.


"Selamat pagi, Nyonya Gibran," bisiknya, suaranya masih kental diwarnai kantuk.


Aku nyengir. "Selamat pagi, Suami...," aku berseru sambil -- bermain-main -- menyibakkan selimutnya, lalu terkekeh-kekeh. Aku berhasil membalas kejahilannya yang menyoroti tubuh polosku tengah malam tadi.

__ADS_1


"Dasar gadis kecil nakal," geramnya. Dia bangkit dalam satu gerakan indah dan mendapatkanku dalam genggamannya. Sambil mencengkeram pergelangan tanganku, Daddy menarikku mendekat, lalu menyeretku ke ranjang. Saat ia berhasil membuatku terlentang, Daddy langsung merangkak ke atas tubuhku lalu menindihku dengan seluruh bobotnya. "Kau belum puas rupanya."


Hah! Ampun, ringsek aku dibuatnya. Suamiku sungguh lelaki yang perkasa.


__ADS_2