Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Halal


__ADS_3

Seakan tahu aku sedang memandanginya, Daddy menoleh sedikit. Ia tersenyum, senyum yang hanya ditujukan kepadaku. Aku merasakan panasnya tatapan Daddy membakar dan menembus diriku. Dan setelahnya, aku tidak mendengar musik, hampir tidak menyadari segala sesuatunya: orang-orang yang ada di sekitarku, ucapan-ucapan sambutan, ceramah, dan bahkan kalam-kalam suci yang kuaminkan, semuanya kulalui bersamaan dengan reaksi alami yang entah kenapa tak bisa sirna dari diriku. Yang benar-benar kusadari hanyalah diriku, rasa gugup dan berdebar-debar, tersipu malu dan semburat kemerahan yang kutahu semakin mewarnai kedua pipiku, juga senyum bahagia yang tak hentinya mengembang hingga akhirnya kata sah sebagai pasangan suami istri membuat mataku terpejam sesaat.


Aku bersyukur di dalam hati. Sekarang aku sudah sah menjadi istrinya.


Aku tidak sedang bermimpi.


Tak hanya tanganku, kurasakan Daddy juga gemetar saat aku menyentuh dan mencium tangannya. Dan pada saat dia mencium keningku, rasanya aku tak bisa mencegah senyumku mengembang dengan sempurna. Rasa haru dan lega menyergap bersamaan. Aku tahu, aku pengantin yang paling bahagia pada hari ini.


"Aku mencintaimu," ucapnya pelan. Ia menatapku selama sepersekian detik, seakan ingin mengenang momen ini selamanya.


Perasaan damai yang tak pernah kuketahui -- meliputi dan memenuhiku. Rasanya ingin sekali menyepi sebentar untuk memeluk suamiku dengan bebas. Uuuh... sayangnya tak bisa.


"Bahagia?" tanya Daddy dalam bisikan di antara ucapan selamat dan salaman hangat para keluarga dan tamu-tamu undangan.


Aku mengangguk, senyumanku sudah mewakili jawabanku. Aku sangat bahagia, sampai-sampai aku berharap waktu cepat berlalu dan malam segera tiba.

__ADS_1


Ssst... kami tidak menyelenggarakan resepsi sampai malam. Hanya sebatas sore hari saja. Setelah acara santap siang, acara muda-mudi berlangsung, dan kami berdansa sejenak sebelum akhirnya meninggalkan tempat untuk berganti pakaian sementara acara bebas kaum muda-mudi itu masih terus berlangsung.


Di dalam kamar, karena takut ritsleting gaunku rusak, aku meminta tolong pada Daddy untuk menurunkannya. Namun, alih-alih menyentuh ritsleting gaunku, Daddy justru membuatku terkesiap, tahu-tahu dia menarikku ke tempat tidur dan menindihku, bagian atas tubuhnya menutupi tubuhku.


"Daddy...." Aku mendorong dadanya. "Daddy membuat simbol love-nya berantakan...," protesku karena kelopak-kelopak mawar yang menghiasi tempat tidur kami jadi berserakan.


Daddy menunduk menatapku, sebelah alisnya terangkat. "Memang seharusnya begitu, kan? Masa kita mesti bermesraan di lantai atau di sofa? Kita kan pengantin baru. Nanti tidak nyaman, lo."


"Ya, bukan begitu juga. Tapi kan--"


"Sama-sama," kataku. "Sudah seharusnya aku membahagiakanmu. Tapi sekarang, tolong lepaskan aku. Aku mesti berganti pakaian. Oke?"


Daddy tersenyum, tatapannya menusuk. "Yakin?" tanyanya.


"Yakin. Sabar, ya. Tunggu malam," kataku.

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau sekarang?"


"Daddy... aku tidak ingin absen saat keluarga kita berpamitan nanti."


Pura-pura tuli, dia malah mendaratkan ciuman-ciuman ringan di leherku. "Sebentar saja," bisiknya.


No. Aku menggeleng. "Daddy...," kataku, "kata orang, kalau setelah berhubungan yang pertama kali, perempuan akan merasa seakan kehilangan separuh nyawa. Katanya bakal merasa semacam kehilangan kesadaran. Nanti kalau aku mengalami itu, orang-orang tidak bisa berpamitan padaku. Aku tidak enak nanti."


"Memangnya iya bakal seperti itu?"


"Ih... mana aku tahu. Kan katanya. Aku belum berpengalaman, tahu!"


"Jadi mesti menunggu sampai malam?" tanyanya, tapi matanya menjelajahi tubuhku, bibirnya sedikit merengut, dan tangannya nakal. Aku meng*rang pelan ketika ia menangkup dan membelai dadaku.


Oh, ya ampun. Aku pun hampir tak sabar menunggu waktu hingga kami bisa berduaan, sampai aku bisa memeluk Daddy dan menciumnya, plus menjelajahi tubuh kerasnya sampai puas.

__ADS_1


"Segera," kataku. "Bersabarlah sedikit lagi."


__ADS_2