Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Teka-Teki


__ADS_3

Dia diam sesaat, lalu mengangguk. Dan aku tahu ia berbohong. Dia pasti belum makan sama sekali dari pagi.


"Daddy belum makan, ya kan?"


"Em, ya, nanti...."


"Makanlah... makan bareng aku, ya?"


"Iya, sebentar."


Daddy berdiri lagi, mengambil boks chicken-nya dengan segumpal nasi putih dan saus. Menggambarkan keadaan kami yang sebenarnya: polos, tanpa banyak rasa.


"Pesan online, ya?" tanyaku iseng untuk mencairkan suasana.


Daddy mengangguk. Aku tahu kalau dia pun paham kalau aku berusaha menutupi keadaanku yang sebenarnya.


"Dad?"


"Emm? Ada apa?" tanyanya lembut.

__ADS_1


"Aku bingung."


"Bingung kenapa? Ceritakan padaku."


"Emm... itu, aku bingung, aku mesti bagaimana menghadapi keadaan sekarang ini? Aku bingung. Sulit untuk membenci seseorang yang kuanggap baik selama tujuh tahun ini. Tapi... rasanya sulit juga untuk menganggapnya baik. Dia orang yang kubenci selama setahun belakangan ini, sejak aku tahu apa yang menimpa ibuku. Aku mesti bagaimana?"


Daddy menyuapiku suapan ke-empat, lalu ia menggenggam tanganku. Sambil bicara ia menatap mataku dalam-dalam. "Aku juga masih marah, masih benci, tapi aku berusaha untuk tidak dendam. Aku sudah berterimakasih kepadanya karena sudah menyelamatkanmu. Dan... aku sudah mencarikan pengacara terbaik untuk membantu meringankan hukumannya. Itu satu-satunya yang bisa kulakukan. Tapi... aku tidak akan memaksamu untuk melakukan hal yang sama. Aku sudah melakukannya untukmu, untuk kita. Oke? Sekarang makan lagi."


"Em, Daddy juga sambil makan."


Kubuka mulutku menerima sesendok makanan yang nyaris hambar itu dan mengunyahnya pelan-pelan. Aku melamun lagi, berpikir lagi. Rasanya benar-benar sulit. Aku tidak bisa menghilangkan amarah dan rasa benciku atas perbuatan Pak Fikri terhadap ibuku. Tapi aku tak bisa melupakan semua yang dilakukan Pak Fikri selama tujuh tahun ini, bagaimana dia menjaga dan melindungiku dari mara bahaya. Lagipula, Oma selalu menekankan kepadaku bahwa aku mesti berterimakasih kepada siapa pun yang sudah berbuat baik kepadaku.


"Terserah padamu. Sebaiknya iya. Tapi kalau sekiranya itu membuat luka hatimu semakin sakit, sebaiknya tidak usah. Tidak apa-apa."


Tapi aku perlu tahu, aku perlu bertanya pada Pak Fikri, apa Riko sempat masuk ke dalamku? Apa dia sempat...?


"Pikirkan baik-baik, Kejora."


"Aku mau bertemu dengannya."

__ADS_1


"Kamu yakin?"


"Em, aku... yakin."


"Baiklah, aku tahu kamu pasti akan melakukan ini. Jadi aku sudah bertanya dan meminta izin pada dokter. Aku juga sudah menyiapkan kursi roda untukmu. Tapi, kamu mesti menghabiskan makananmu dulu. Oke?"


Deal. Dan itu membuatku gemetar. Aku cemas. Bagaimana reaksiku nanti saat aku bertemu dengan Pak Fikri?


"Yakin?" tanya Daddy lagi sewaktu makanan kami habis.


Aku mengangguk. Aku harus bertemu Pak Fikri dan mengenyampingkan ego dan amarahku.


"Aku yakin, aku ingin bertemu dengannya, tolong?"


Daddy menghela napas dalam-dalam. Dia juga terlihat gugup. Dia pasti sangat mengkhawatirkan keadaanku, perasaanku, psikis dan mentalku juga. Tapi aku tak boleh mundur, kendati rasa cemas itu membuncah di hati dan pikiranku. Aku bahkan jadi hilang fokus. Aku mendesis pelan ketika telapak kakiku tak sengaja tertekan di penapak kaki kursi roda. Lukaku bergelenyar, namun untungnya tidak sampai mengeluarkan darah di permukaan perban yang membalut kakiku.


Aku... aku harus bertemu dengannya.


Tok! Tok!

__ADS_1


__ADS_2