Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Harus Kuat....


__ADS_3

Sekarang, Daddy cengar-cengir. "Pembuktian edisi kedua," katanya. Tangannya mulai menyelip-nyelip, meraba-raba ke balik bajuku.


"Pembuktian... atau terapi?"


Aku paham maksudnya. Daddy menunduk sesaat, lalu menatapku penuh arti. "Keduanya, Kejora. Keduanya."


Aku mengangguk, dan entah kenapa mataku berkaca. Masih perih karena peristiwa ini, tapi juga bahagia karena perjuangan Daddy mendampingiku.


"Ya," kataku, air mataku menetes. "Aku butuh terapimu."


Aku menciumnya, dan dia membalas ciumanku. Perih, tapi ada segelintir rasa bahagia yang penuh rasa syukur. Kuberikan lidahku padanya, dan kubiarkan juga lidahnya masuk, liar ke belakang kerongkonganku.


"Jangan trauma, Kejora," bisiknya. Kusadari tangannya melepaskan pengait baju pasien itu. Kemudian, dia membelai bagian depan tubuhku dengan jemarinya. "Jangan trauma."


Aku mengangguk.


Daddy membungkuk. Ia menyapukan bibirnya di dadaku, menjumput puncak itu dan menariknya dengan lembut. Bohong, bohong kalau aku tidak teringat dengan apa yang telah dilakukan Riko kepadaku. Tapi aku berusaha melawannya.


Daddy di sini bersamaku. Dia berjuang untukku, berjuang bersamaku. Jangan lemah, Kejora. Jangan lemah....

__ADS_1


Tapi tubuhku terguncang jua. Dan, Daddy memelukku erat-erat. "Sentuh aku, Kejora," katanya di telinga. "Sentuh aku. Bawa aku bersamamu. Ajak aku bersamamu. Please... sentuh aku."


Aku mengerahkan kekuatan dari dalam diriku, kekuatan -- namun bukan tenaga. Aku menyentuhnya, dengan tangan gemetar kuarahkan ia ke dalam jiwaku.


"Terima kasih, Daddy. Aku tidak akan membiarkan diriku kalah. Tidak akan."


Dia masuk, perlahan, lalu menekan. "Aku mencintaimu."


Tangisku pecah. Bahagia, haru, dan luka, menyatu, larut dalam deraian air mata yang sama.


"Jangan menangis, Sayang. Jangan...." Daddy mengusap air mataku ketika terapisnya telah usai.


Tidak hanya itu, setelah kami sarapan pagi itu, dengan sengaja Daddy mengambil sebutir apel dari keranjang buah, dan ia mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang sama persis dengan pisau lipat yang kubawa kemarin. Aku bergidik begitu melihatnya, teringat saat Riko menyayat telapak kakiku dengan kejam. Praktis kakiku mengerut, jemariku spontan menekuk karena rasa ngeri.


Aku mengangguk. Aku paham, tapi tetap saja ingatan akan kakiku yang tersayat itu terngiang-ngiang di kepala.


Aku bisa melawannya. Ingat, biar saja ingat. Takut, biar saja takut. Ngeri pun biar saja. Aku harus kuat.


"Sekarang makan. Buka mulut...."

__ADS_1


Aku menurut, menyambut suapan buah apel darinya, dan lagi-lagi bersyukur karena ia terus menguatkan aku.


"Kejora?"


"Emm?"


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Aku... lumayan."


"Sudah lebih kuat?"


"Mmm... kurasa begitu."


"Harus, dan wajib. Kamu harus kuat. Karena setelah ini, ada banyak hal yang mesti kamu lewati." Dia merema* lembut jemariku. "Kuat, ya? Semuanya akan baik-baik saja. Aku ada di sini bersamamu."


Tegang, sedikit, karena situasi dan suasananya, tapi sorot mata Daddy meyakinkan aku kalau segalanya bisa diatasi. "Apa saja yang mesti kulewati?"


"Pertama," Daddy mengambil hasil pemeriksaanku kemarin, "ini," katanya, ia menunjukkan isi map itu kepadaku. "Aku mesti menyampaikan ini dulu, kabar baiknya dulu. Ini laporan hasil pengecekanmu kemarin. Semuanya baik-baik saja. Hanya luka di kaki dan kepala. Tidak ada luka dalam yang serius. Terus, pengecekan di... bagian organ vital, semuanya baik, dan tidak ditemukan... kamu mengerti, kan? Rahim dan organ vitalmu bersih, tidak ada... tidak ada *perma lelaki yang masuk... ke dalam... ke dalam tubuhmu."

__ADS_1


Aku mengangguk. Aku tahu itu memang tidak mungkin kalau berdasarkan durasi waktu dan keterangan dari Pak Fikri.


"Kejora, kamu baik-baik saja?"


__ADS_2