Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Oh Dad....


__ADS_3

Tapi itu tak lantas membuat segalanya menjadi baik dalam sekejap. Aku masih butuh waktu lama untuk memulihkan diri dari rasa trauma dan dari ingatan-ingatan buruk itu.


Hari-hari berikutnya berlalu dengan suasana yang sama dan samar. Aku lebih pendiam, menghabiskan waktu dengan membaca novel, membereskan rumah dan segala pekerjaan rumah, memaksakan diri memasak, memaksakan diri memegang pisau, atau sekadar meringkuk menonton TV di dalam kamar. Tak pernah sehari pun kulewati tanpa air mata, diam-diam aku meneteskan air mata. Dan saat Daddy tahu, ia hanya menyekanya namun tak mengatakan apa pun.


Begitu pula setiap kali di persidangan, saat kesaksianku diperlukan, aku pun hadir. Aku melihat Pak Fikri lagi, dan merasa sakit karena rasa bersalah, namun aku tetap enggan bicara dengannya. Dan begitu pula saat Arini disidang sebagai salah satu tersangka penjebakanku, aku juga selalu hadir. Dari ponsel Riko yang disita polisi, ditemukan video mesum antara mereka berdua. Kesalahan Arini yang fatal. Ternyata, Riko menggunakan video itu untuk mengancam Arini, supaya ia selalu menuruti apa pun yang Riko perintahkan kepadanya. Demi menjaga aibnya itu, ia bahkan rela membantu Riko untuk menjebakku. Entah akan memaafkannya atau tidak suatu hari nanti, tapi yang bersalah harus dihukum setimpal dengan perbuatannya. Yang dilakukan gadis itu jahat. Dia terlalu keji.


Yeah, tak terasa hari demi hari berlalu. Kendati berat aku mampu bertahan. Hingga, tiba juga hari ulang tahunku yang ke-delapan belas. Namun dari jauh-jauh hari aku mengatakan kalau aku tak ingin merayakannya, jadi ulang tahunku yang ke-delapan belas itu tidak dirayakan. Sebagai gantinya, Daddy mendatangkan psikiater ke rumah.

__ADS_1


"Saya telat menstruasi, Dok," kataku, mengutarakan beban pikiranku yang kupendam selama berhari-hari.


Dokter mendengarkan, ia memahami kekhawatiranku. Aku takut kalau Daddy -- sekarang, atau nanti -- meragukan kandunganku seandainya aku benar-benar hamil sebelum menstruasi pada bulan Juli, setelah kejadian yang menimpaku pada bulan Juni yang lalu. Aku merasa seandainya benar aku hamil, kehamilanku itu seakan tak tepat waktu, seakan merupakan ujian yang baru untukku, juga untuk Daddy.


Aku bisa jujur pada psikiaterku untuk hal ini, namun dukungan yang ia berikan tak seperti biasanya, seakan kali ini tak berpengaruh banyak. Aku butuh Daddy untuk meyakinkanku kalau tidak ada yang salah. Tapi aku terlalu pengecut untuk berterus terang. Terlalu pengecut untuk membaca sirat kecewa di wajahnya meski itu belum tentu akan kulihat.


Beberapa saat kemudian, Daddy masuk ke dalam kamar dengan senyuman super ceria dan sehangat warna oranye di langit senja yang kulihat melalui dinding kaca di kamarku.

__ADS_1


"Pak Ujang pergi menjemput Bu Nita," katanya antusias. "Bidan di klinik sana. Kamu tahu, kan? Ya ampun, aku deg-degan. Aku berharap hasilnya positif. Aamiin, ya, Sayang. Aku percaya ini anakku. Aku tidak akan meragukannya."


Oh, Dad. Kita saja belum tahu apa aku benar-benar hamil, tapi kau begitu yakin dan percaya kalau aku mengandung anakmu.


Lagi, sungguh dia membuatku terharu.


Terima kasih, Daddy. Terima kasih untuk cinta yang begitu besar untukku.

__ADS_1


__ADS_2