Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Modus


__ADS_3

Aku terbangun pagi pada keesokan harinya. Aku bangkit, membuka tirai jendela, dan memandang ke luar jendela. Tidak ada apa pun kecuali langit yang masih cukup gelap, beberapa batang pohon, dan padang rumput sejauh mata memandang. Pemandangan yang indah, sangat damai. Pada awalnya, kesunyian di sini membuatku terganggu. Aku sudah terbiasa dengan bunyi letupan mesin kendaraan bermotor, sirene, decitan ban, ataupun gonggongan anjing. Di sini, hanya ada suara ternak, ringkikan kuda, dan kicau burung yang saling bersahutan. Ini perubahan yang menyenangkan, perubahan yang semakin kusukai meski hari minggu esok aku sudah mesti meninggalkan tempat ini.


Setelah menghirup udara segar dari jendela kamarku yang terbuka, aku keluar dari kamar dan berjalan ke dapur untuk memanaskan air, membuat teh, lalu membuatkan sarapan untuk semua orang. Ada nasi di rice cooker yang kumasak kemarin sore, untuk jaga-jaga kalau ada yang mau makan malam sebelum atau sepulang kami dari pesta. Dan ternyata nasinya belum berkurang sama sekali. Aku segera memasaknya menjadi nasi goreng dengan bumbu instan. Lalu menggoreng telur mata sapi, mengiris-iris kol dengan irisan memanjang, menambahkan sosis, dan menambahkan taburan bawang goreng di atasnya.


Aku baru saja selesai menyiapkan sarapan ketika pintu belakang terbuka dan Daddy masuk ke dapur, jaketnya disampirkan di sebelah bahunya, kausnya yang pas badan itu basah oleh keringat.


Dia mengangguk ke arahku, lalu pergi ke kamar mandi dan membuka kausnya, menaruhnya ke dalam mesin cuci beserta jaketnya. Kemudian, ia membersihkan wajah dan tangannya yang berkeringat. Aku mengamatinya dari sudut mataku, tanganku mengepal untuk mencegahnya agar tak lancang membelai punggung yang -- ingin sekali kurasakan panasnya di bawah telapak tanganku.


Daddy mematikan keran dan meraih handuk. Dan bodohnya aku hingga ia menyadari tatapanku. Lalu, setelah menaruh kembali handuk ke gantungan di dinding, ia berputar menghadapku tanpa aba-aba. Alhasil, pipiku memerah ketika menyadari Daddy telah menangkap basah diriku yang sedang menatapnya dengan hasrat.


"Daddy dari mana?" tanyaku dalam kegugupan, dan berusaha mengalihkan perhatian.


Dia berjalan keluar dari kamar mandi dan menghampiriku. "Dari lari pagi," katanya. Kemudian ia menopangkan tubuhnya di tepian meja dapur, sekarang posisinya sangat dekat denganku.


"Oh, emm... mau teh? Biar kutuangkan."

__ADS_1


Dia mengangguk. "Boleh," katanya. "Bagaimana tidurmu semalam?"


"Nyenyak. Aku minum obat tidur, supaya istirahatku cukup. Aku takut jatuh sakit. Oh, ya, Daddy sendiri, bagaimana?"


Dia mengedikkan bahu. "Nyenyak, setelah kelelahan berkuda."


"Bagus. Kalau begitu Daddy sarapan dulu."


"Nanti saja, biar bareng dengan yang lain."


Dia tidak menyahut, hanya mengangguk sedikit, tapi tatapannya tak teralihkan dariku. Sungguh, aku benci kewaspadaan di antara kami. Dan, seandainya bisa, aku ingin meminta Daddy untuk mengenakan baju. Mungkin itu akan sedikit lebih baik dan aku tidak mesti susah payah mengalihkan tatapanku dari tubuhnya yang bertelanjang dada.


"Bisa tuangkan tehnya sekarang, tolong?" Dia mengulurkan tangan dengan sebuah gelas kosong ke hadapanku.


Oh, ya ampun. Itu yang mestinya kulakukan sedari tadi. "Maaf," kataku, lalu segera menuangkan teh untuknya.

__ADS_1


"Kejora."


"Ya?"


"Soal semalam...."


"Tidak apa-apa. Aku mengerti."


Dengan sedikit senyuman -- plus modus, aku pun memeluknya. Kesempatan untuk merasakan kulit tubuhnya tanpa harus memperlihatkan hasratku. Daddy pun balas tersenyum, ketegangan di antara kami sedikit berkurang, dan bibir kami sudah nyaris menempel. Tapi...


"Moduuuuus...!" teriak Mommy, lalu ia cekikikan.


Aaah... mestinya dia membiarkanku sebentar lagi saja bermesraan dengan Daddy.


Kejora yang aneh, padahal aku sendiri yang meminta Mommy sekeluarga untuk bermalam di sini supaya aku dan Daddy tidak hanya berduaan. Tapi aku masih kepingin menikmati...

__ADS_1


Ups! Ssst....


__ADS_2