
"Omong-omong, jadi mau memandikanku dan menyuapiku makan? Aku lapar."
Tapi dia masih terdiam.
"Ayolah, aku sungguh tidak apa-apa. I am sure. Kita tidak mesti bercinta sekarang untuk membuktikannya, kan? Aku capek, aku juga lapar. Please...?"
Hmm... Daddy hanya mengangguk dengan sedikit senyuman.
Dari dulu Daddy tidak pernah berbohong kepadaku. Kalau aku bertanya sesuatu dan dia belum bisa menjawab, dia selalu mengatakan kalau itu belum saatnya bagiku untuk tahu. Tetapi, mungkin karena saat ini aku sudah menjadi istrinya, maka dia memilih untuk jujur. Dia sudah tak mungkin menghindar lagi demi tidak mengecewakan aku. Namun, jujur pun membuatnya juga merasa bersalah. Aku tahu, dia sangat takut aku kecewa padanya. Sampai-sampai, meskipun aku sudah berusaha bersikap sebaik mungkin di depannya, ia tetap tidak enak hati. Daddy jadi agak murung. Ia tak seperti dirinya yang biasa -- dirinya yang ceria seperti satu tahun terakhir sejak kami menjadi sepasang kekasih.
"Jadi, tidak, mau memandikan aku?"
"Iya, jadi."
"Atau aku saja yang memandikanmu, hmm?"
"Katanya kamu lelah."
"Sanggup sih kalau sekadar memandikan."
__ADS_1
"Baiklah, silakan."
Well, Kejora, pintar-pintarlah menangani situasi.
Aku berdiri, keluar dari bathtub untuk mengambil sabun dan sampo, menuangkannya dan mulai melakukan tugas kecilku: memanjakan suami. Satu-satunya kecanggunganku hanya ketika membersihkan bagian itu. Sulit untuk menahan senyum malu ketika aku memeganginya di depan Daddy.
"Hati-hati," godanya. "Jangan sampai dia kembali on fire. Kamu harus bertanggung jawab."
Hahaha!
Aku cepat-cepat menggeleng sambil menahan tawa dan segera membilas tubuhnya.
Dia menurut tanpa celotehan apa pun, langsung keluar dan aku segera menutup pintu.
"Huffft... dia selalu memanfaatkan kesempatan," gumamku. "Tapi dia memang seorang pria yang manis."
Semanis setelah aku keluar dari kamar mandi, di saat yang bersamaan dia masuk ke kamar dengan sebuah nampan makanan di tangannya. Benar-benar manis sekali. Bahkan setelah kami selesai makan, dia yang menaruh bekas makan itu ke lantai bawah, juga mencucinya. Kurang apa lagi? Bahagianya aku. Sepenggal kisahnya di masa lalu tak akan membuatku menjadi pribadi yang hilang rasa syukur. Bagaimanapun juga, aku bahagia menjadi istrinya. Sekalipun dia menganggapku Kejora -- kekasihnya yang dulu, tidak apa-apa. Toh, dia ibu kandungku.
"Yang penting bukan orang lain."
__ADS_1
"Kamu sedang bicara dengan siapa?" Tiba-tiba Daddy masuk.
"Tidak ada," kataku, dia membuatku tersentak kaget. "Hanya bicara sendiri. Kira-kira, besok suamiku akan mengajakku ke mana?"
"Ke mana pun yang diinginkan istriku." Dia memelukku dari belakang dan mencium sisi keningku. "Katakan saja, mau ke mana? Hmm? Ke surga terindah?"
Ya ampun... bicaranya masih ke sana sana juga.
"Aku bicara serius, Daddy. Aku mau ke taman, tapi sebelumnya kita ke toko buku dulu. Aku ingin membeli banyak novel sebagai bahan inspirasi untuk aku mulai menulis. Oke?"
Dan persis seperti itu yang terjadi pada esok siangnya. Setidaknya -- setengahnya. Kami pergi ke toko buku besar yang terletak di pusat kota.
Begitu memasuki toko, Daddy langsung turun ke bagian non fiksi. Dia baru menghampiriku lagi lima belas menit kemudian, dengan membawa dua buku di tangannya. Yang satu adalah buku tentang tanaman, satunya lagi tentang jenis-jenis produk yang digunakan untuk pemeliharaan tanaman: sejenis pupuk dan jenis-jenis racun serangga. Yeah, keduanya tentang pertanian.
"Sayang," panggil Daddy sambil nyengir, dia menunjukkan gambar serangga di cover bukunya. "Serangga ini mengingatkanku tentang sesuatu."
Ya ampun... dasar pria...! Pikirannya kotor sekali.
"Lupakan tentang serangga itu, Daddy...."
__ADS_1