
Di dalam tidurku, berputar kembali memori-memori masa lalu, saat pertama kali aku mengenal Pak Fikri. Dulu, Pak Fikri berdagang ikan hias di depan SD tempat aku menempuh pendidikan. Setahuku ia sudah lama berdagang di sana. Aku juga pernah beberapa kali menghampirinya, melihat-lihat ikan dagangannya yang dimasukkan ke dalam kemasan kantung plastik bening. Dia tidak pernah bertanya siapa namaku, tapi ia selalu tersenyum hangat kepadaku setiap kali ia melihatku, seolah-olah dia memang sudah mengenalku tanpa kami harus berkenalan terlebih dahulu.
Waktu aku SD dulu, Daddy belum mempekerjakan Pak Ujang. Oma yang biasanya mengantar dan menjemputku sekolah. Lalu, pada suatu siang, sewaktu Oma terlambat menjemputku, aku menunggu di depan gerbang sekolah karena Oma melarangku pulang sendiri dengan ojek. Yang kuingat, hari itu ada dua orang asing yang menghampiriku, menawarkan tumpangan untuk mengantarku pulang. Tapi, karena aku selalu mengingat pesan Oma untuk tidak ikut pergi dengan orang asing, aku menolak untuk ikut. Waktu itu -- mungkin -- aku belum mengerti sepenuhnya, dan ketika salah satu di antara orang itu menarik tanganku, persis di saat itu Pak Fikri menghampiri kami.
"Ini siapa, Kejora?" tanyanya.
"Tidak tahu, Pak," kataku.
"Kami keluarganya," kata seseorang berambut gondrong.
"Tapi aku tidak kenal pada Oom," kataku kala itu dengan polosnya.
__ADS_1
Pak Fikri pun menarikku, dan kedua orang itu pergi begitu saja ketika Pak Fikri menatap tajam kepada mereka seraya berkata, "Ada banyak orang di sekitar sini kalau kalian mau dikeroyok massa."
Setelahnya, Pak Fikri mengajakku menunggu Oma di dekat sepedanya. Sejak hari itu aku mengenal Pak Fikri dengan baik, begitu juga dengan Oma.
Beberapa bulan kemudian, saat aku masuk SMP, Pak Fikri berganti dagangan. Ia tak lagi menjual ikan hias dan berganti lokasi mangkal. Ia berdagang siomay di depan SMP tempat aku melanjutkan pendidikan. Hari bergulir begitu saja, setiap hari dia ada di tempatnya berjualan ketika aku pulang sekolah, dan dia selalu tersenyum saat aku menyapanya.
Saat duduk di kelas delapan, aku mulai sedikit nakal. Ada seorang seniorku yang kala itu sudah tamat SMP dan lanjut ke tingkat SMA. Nama aslinya Ridho, tapi ia beken dengan nama Edho. Cowok keren yang difasilitasi sepeda motor oleh orang tuanya. Yap, dia menaksirku, dan mulai melakukan pendekatan alias pedekate denganku.
Setelah kejadian itu aku memohon-mohon kepada Oma supaya ia tidak memberitahukan kejadian itu kepada Daddy, bahkan aku berbohong dengan mengatakan kalau aku hanya keserempet motor. Keesokan harinya, tahu-tahu Pak Ujang sudah dipekerjakan dan aturan baru diterapkan. Aku diwajibkan pulang pergi dijemput dan diantar oleh Pak Ujang, dan selalu di bawah pengawasan Pak Ujang. Jiwa nakalku merasa Oma dan Daddy sangat jahat, aku merasa mereka mengekangku, mengatur-aturku, dan aku merasa mereka seperti merantai kakiku. Tetapi aku diam saja. Aku menurut tanpa bantah. Jelas, karena aku masih dalam kategori anak kecil, dan saat itu hatiku belum sepenuhnya jadi anak yang baik walau aku tak bisa bertingkah lagi.
Kemudian, saat aku masuk SMA, lagi-lagi tanpa curiga, aku kembali bertemu dengan Pak Fikri di sekolah dengan pekerjaan barunya sebagai penjaga sekolah yang baru di SMA tempatku bersekolah.
__ADS_1
Dan kini, di alam bawah sadarku, perkataan Daddy memicu rasa curigaku: siapa Pak Fikri sebenarnya? Kenapa Daddy mengatakan bahwa ia melakukan pengorbanan yang setimpal untukku? Pengorbanan atas -- jasa, atau atas kesalahan apa?
Lalu tentang Riko, tentang masa kecil kami. Memori lama menyeretku mengingat kenangan masa kanak-kanakku.
"Kejora akan selalu menemani Kakak, tapi Kak Riko jangan nakal lagi, ya? Janji?"
Aku ingat, aku pernah berkata seperti itu saat aku masih kecil. Tapi sesaat kemudian, Riko kecil di depanku itu bukan lagi dirinya yang kanak-kanak. Dia berubah menjadi sosoknya yang dewasa, yang membuatku langsung ketakutan.
Aku mulai gelisah.
Tidak. Dia sudah mati. Dia sudah mati. Bagaimana mungkin dia ada di sini? Tidak. Ini hanya mimpi. Pasti mimpi. Seseorang... tolong aku. Tolong....
__ADS_1