
Kena skors -- itu yang terjadi padaku dan Tiara.
Belum habis jam pelajaran terakhir pada hari senin itu, aku dan Tiara dipanggil oleh guru BK. Bu Fatma yang terkenal killer itu memasang wajah masam saat aku dan Tiara masuk ke ruangannya. Namun, karena aku merasa aku tidak bersalah, aku sama sekali tidak gentar menghadapinya. Tapi... percuma, aku dan Tiara dianggap bersalah atas tuduhan pengeroyokan terhadap Sandra. Penjelasanku dan Tiara tak digubris sama sekali. Pembelaan diri yang sia-sia, karena faktanya memang aku dan Tiara yang melakukan tindakan kekerasan terhadap Sandra, terlepas bahwa dialah yang mencari gara-gara lebih dulu.
Jujur saja, ada rasa menyesal dalam diriku: akibat aku yang tak bisa mengontrol emosi. Dan yang paling kusesali, harusnya Tiara tidak mesti ikut kena skors, terlebih selain diskors, pihak sekolah juga memanggil wali kami.
Klop! Kurang apa lagi?
"Gue minta maaf," kataku. "Semua ini gara-gara gue."
"Ngomong apa, sih? Lu berhak dibela, kok. Memang Sandra yang keterlaluan."
"Gue tahu. Tapi gue nggak enak lu jadi ikut kena skors. Gue sangat merasa bersalah, Ra. Maaf, ya?"
Dia memelukku. "Sudah, ya. Jangan merasa bersalah. Kita sahabat. Lu juga yang selalu ada di saat gue kesusahan. Jadi wajar kalau gue juga ada di saat lu susah."
"Thank you. Lu sahabat terbaik."
"Urwell, pokoknya kalau ada apa-apa, cerita ke gue. Gue akan selalu ada untuk lu."
"Oh... so sweet...! Tiara memang yang terbaik. Tapi sekarang bagaimana? Kita balik ke kelas?"
Dia ngakak. "Iyalah, tas kita masih di kelas. Lagipula kan skors-nya mulai besok."
Yeah, Tiara benar. Dan untungnya skors ini di minggu terakhir sebelum ujian. Biasanya guru-guru menggunakan kesempatan ini untuk memberikan ujian remidial atau nilai tambahan untuk siswa-siswa yang nilainya di bawah standar. Skors ini tidak akan memengaruhi kelulusanku nanti. Dan bagaimanapun juga, Oma dan Daddy menganggapku gadis yang baik, mereka pasti percaya padaku dan tak akan menyalahkanku atas masalah ini. Ini kasus pertama dan terakhir selama aku berstatus sebagai seorang pelajar. Begitu juga dengan Tiara, neneknya tidak akan marah karena Tiara melakukan itu untuk membelaku. Dia seorang nenek yang baik, dia menyukaiku dan selalu bersikap baik setiap kali aku ke rumahnya.
Satu masalahnya, bagaimana memulai pembicaraan ini dengan Oma? Ini bukan tentang perkelahianku ataupun tentang skors, tapi ini tentang awal mula masalah: tentang fotoku dan Daddy yang sedang berciuman mesra. Aku tidak berani menyampaikan masalah ini sampai keesokan paginya. Setelah menyiapkan sarapan, aku bergegas mandi, dan berdandan. Kemudian...
"Lo? Kok kamu tidak memakai seragam?"
Deg!
Dengan takut-takut aku menghampiri Oma dan memberikan selembar kertas panggilan wali murid yang kemarin kuterima. Oma pun membacanya dan terbelalak. Yeah, wajar saja kalau dia kaget.
"Kamu diskors?"
"Maaf, Oma."
__ADS_1
"Ada masalah apa?"
"Anu, Oma. Aku... aku anu."
"Anu apa?"
"Aku berkelahi dengan siswi lain. Aku... aku menampar Sandra."
Dia menghela napas dalam-dalam, lalu menyuruhku duduk di hadapannya. "Oma tahu persis bagaimana kamu. Kamu tidak akan mencari masalah dengan orang lain. Kamu pasti punya alasan, kan, kenapa kamu sampai berkelahi?"
Aku menunduk, tak berani menjelaskan. Tapi aku juga tak boleh diam saja. Lebih baik Oma tahu penjelasan ini dariku langsung. Aku tahu dia akan percaya padaku. Tapi... ini juga tak semudah membalik telapak tangan. Ciuman itu perkara yang sensitif, apalagi hal itu dilakukan oleh anak lelaki kebanggaannya.
Hmm... kuhela napasku dalam-dalam.
"Kenapa? Cerita pada Oma."
"Tapi Oma jangan kaget, ya?"
"To the point!"
"Jantung Oma kuat. Cepat cerita."
"Aku berkelahi karena...."
"Apa?"
"Ada siswi yang menyebarkan fotoku."
"Foto? Foto apa?"
"Itu... itu foto...."
"Apa sih?"
"Anu, itu foto...."
"Kamu tidak melakukan...?"
__ADS_1
"Tidak, Oma. Jangan... berpikir begitu."
"Lalu? Cepat katakan."
"Em, itu... itu foto saat aku... dicium Daddy."
Praktis, aku memejamkan mata. Aku tak berani melihat reaksi Oma.
"Coba lihat fotonya?"
"Ini," kataku menunjukkan foto itu.
"Kejora?"
"Emm? Oma marah, ya?"
Sesaat, ia menunduk dan menghela napas dalam-dalam. "Oma mengerti kalau Gibran--"
"Daddy tidak salah, Oma."
"Hmm...."
"Oma, please... jangan marah padanya. Hukum aku saja, Oma."
"Iya, iya, Oma mengerti kalau dia mungkin... kamu mengertilah. Tapi... dia tidak sampai...?"
Cepat-cepat kugelengkan kepalaku dan mengatakan, "Tidak sama sekali. Daddy cuma peluk dan cium doang, kok. Tidak lebih. Aku masih perawan. Sumpah! Aku bisa buktikan. Oma bisa bawa aku ke dokter."
Huffft...
Oma tersenyum lega. "Oma percaya," katanya. "Nanti Oma ke sekolahmu."
Oh, Tuhan, aku bersyukur. Dia Oma terbaik. Aku langsung menghambur ke pelukannya. "Terima kasih, Oma. Tapi tolong jangan ceritakan hal ini ke Daddy. Aku tidak mau dia tahu. Aku tidak mau dia merasa bersalah dan membuatnya malu. Please? Tolong, Oma?"
"Tidak. Dia harus tahu karena dia mesti mempertanggungjawabkan semua ini."
Eh? Maksudnya?
__ADS_1