Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Amarah


__ADS_3

Dua hari lagi pembagian ijazah, itu berarti kami akan segera meninggalkan Jakarta. Meninggalkan rumah besar Daddy, rumah tempat aku dibesarkan, kolam renangku, dan kamar yang baru saja kutempati.


Hari itu Dinda dan Tiara membantuku berkemas. Rumah besar itu tidak akan dijual, hanya saja aku mesti merapikan perabotan dapur, menyusun dan menyimpannya ke lemari. Sementara yang lain dibiarkan saja. Meski tidak ditempati, rumah itu akan rajin dibersihkan, paling tidak dua atau tiga kali sebulan. Pak Ujang tidak akan ikut pindah ke Malang karena jasanya sebagai supir sudah tidak diperlukan. Ada Daddy yang akan mengantar kami ke mana pun jika aku dan Oma ingin bepergian. Tapi, Daddy meminta Pak Ujang sekeluarga untuk tinggal di paviliun, dan menugaskannya untuk merawat rumah itu beserta pekarangannya.


Aku mengemas semua novel-novelku dan menyusunnya ke dalam kardus besar, sedangkan buku-buku sekolah sudah lama kusimpan dan tak akan kubawa. Pun, alat-alat mekapku juga sudah tersusun di dalam kotaknya.


Selanjutnya aku mulai memilah baju. Baju yang sudah tidak terpakai kujejalkan ke dalam kardus besar, belum tahu hendak kuapakan, sedangkan baju-baju bagus kumasukkan dengan rapi ke koper besar bersama semua tas tangan dan pernak-pernik. Lalu, aku pun mengemas semua pakaian Daddy dan pakaian Oma. Oma tidak punya banyak pakaian, karena ia sering menyumbangkan pakaiannya yang masih sangat layak pakai melalui BiBi Sum.


"Gue pasti akan sangat merindukan rumah ini," kataku, "juga pada kalian."


Ting!


"Sialan!" Dinda mengumpat kasar setelah membaca pesan di ponselnya.


Praktis aku dan Tiara keheranan, dan wajah Dinda langsung membeku.


"Ada apa?" tanyaku.


Dinda menggeleng cepat. "Tidak ada apa-apa," sahutnya.

__ADS_1


Tapi ia lengah, Tiara berhasil merebut ponselnya dan ia malah ikut tercengang.


"Ada yang tidak beres," kataku.


"Lupakan!" kata Dinda.


"Kasih tau gue, Din, Ra, please?"


"Sudahlah, Ra. Ini privasi gue. Oke?"


Aku tak percaya. "Kalian bohong," kataku pelan. Aku berdiri dan berjalan menuju jendela di kamar lamaku.


Aku memandang ke luar jendela, tenggelam dalam pikiranku sendiri. Aku tak bisa mencegah pikiranku mengarah pada teror yang melibatkan Riko terus berputar di dalam kepalaku. Andai saja aku bisa melakukan hal berbeda... entah bagaimana bisa membela diri, atau andai saja aku bisa menyingkirkannya....


Dinda dan Tiara saling melempar pandang, tapi tak bisa menyahut.


"Apa dari nomor ponsel Riko? Itu bisa jadi bukti kalau dia--"


Dinda menggeleng. "Bukan," sahutnya. "Nomor tidak dikenal."

__ADS_1


"Dia bilang apa?"


"Ya... tentang tujuannya. Soal... itu. Dia...."


"Gue mau lihat, daripada gue menebak-nebak sendiri, kan? Please?"


Mengalah, Dinda mengulurkan ponselnya.


》 Arungi satu momen indah bersamaku, Kejora. Jangan buat aku jadi mati penasaran. Aku janji tak akan mengganggumu lagi setelah ini. Please....


Oh, aku akan benar-benar membuatmu mati.


《 Katakan di mana tempatnya. Aku akan datang. Asal kau menepati janjimu tidak akan pernah menggangguku lagi. Oke?


Aku bermaksud memancingnya, tapi seperti dugaanku, dia tidak bodoh. Dia membaca whatsapp balasanku, namun ia tak mengatakan di mana tempatnya. Dan, pasti percuma saja melacak nomor ponselnya, dia tidak mungkin menggunakan data diri yang sebenarnya.


》 Waktu akan mempertemukan kita, Kejora. Pada saatnya, saat aku berada di hadapanmu, tolong, jangan menolakku. Bukankah kamu pernah berjanji, kamu aku selalu menemaniku? Aku tak menagih untuk selamanya, hanya untuk satu kesempatan. Aku mengagumi keindahanmu. Dan aku cinta padamu.


Oh, baiklah. Kamu ingin memberiku kejutan? Lihat kapan dan di mana kamu punya kesempatan. Jika memang ada kesempatan itu, aku akan membuatmu mati, dan penasaran.

__ADS_1


Kali ini aku tak gemetar, namun aku marah, dan saking marahnya aku seperti kesetanan, sampai-sampai aku ingin sekali membunuhnya.


Aku mesti membekali diri dengan senjata tajam. Ke mana pun, di mana pun, dan kapan pun. Demi harga diri dan kehormatanku sebagai seorang istri. Aku sudah muak pada terormu.


__ADS_2