
Sama sekali tidak mengherankan jika malam ini aku tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan nyaris tidak bisa tidur semalaman, hingga keesokan paginya mataku enggan terbuka. Yang kuingat, semalam itu mataku bisa terpejam setelah rasa kantuk berat menguasaiku, persis setelah kudengar suara ayam berkokok pertanda hari sudah pagi.
Pagi ini, aku masih meringkuk miring di bawah selimut sambil memeluk bantal ketika Daddy mengetuk pintu kamarku. Suaranya terdengar sayup olehku. Rasa kantuk berat yang kurasakan itu membuatku tak mampu membuka mata, apalagi mesti bangun dan menggerakkan badan. Kalau aku tidak salah, karena tidak mendapat respons dariku, Daddy meminta izin untuk masuk ke kamarku, dia sempat menanyakan dari luar kamar: apakah aku baik-baik saja. Dia mengetuk pintu kamarku lagi beberapa kali sambil menyerukan namaku. Dan akhirnya dia menurunkan handle pintu, dan mungkin terkejut melihatku yang masih terbaring di tempat tidur.
"Kamu kenapa?" tanyanya sembari berjalan menghampiriku, lalu menempelkan tangannya di kening dan tengkuk leherku. "Tidak panas," gumamnya. "Kamu kenapa, Sayang?"
Aku menggeleng lemah. "Ngantuk," gumamku pelan, nyaris tak bersuara. "Aku tidak bisa tidur semalam."
"Kenapa? Nonton? Main game? Iya?"
Sembarangan. Aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu, Daddy. Karena Daddy menghantui pikiranku dan membuatku selalu terbayang-bayang. Kucoba membuka mata sedikit, tapi tetap tidak bisa. "Hanya tidak bisa tidur...," kataku dengan amat pelan sekali.
"Bangun, yuk? Sarapan dulu."
"Aku baru tidur, Daddy."
"Sayang... katanya mau beli gaun."
"Titip Mommy saja. Please... biarkan aku tidur dulu, ya. Kasihani aku. Ngantuk sekali. Aku tidak bisa bangun, Daddy."
"Hmm... kamu ini. Ya sudahlah, lanjutkan tidurnya. Nanti Daddy bilang ke Mommy. Kalau kamu lapar bangun, ya. Sarapan."
Aku tidak menyahut lagi. Hanya mengangguk lemah. Dan, mungkin karena gemas, tahu-tahu kurasakan bibir Daddy menempel di sudut bibirku. Ya ampun... andai dia mau berbuat macam-macam, kurasa aku tidak akan sanggup berdiri untuk melawan, meski belum tentu aku akan melawan.
"Kasihan," gumam Daddy. Kurasakan jemarinya membelai rambutku, lalu ia membenahi selimutku. Setelah itu, ia keluar dari kamarku dan kudengar suara derakan pintu ketika ia menutup pintu di belakang punggungnya.
__ADS_1
Tiga jam kemudian, rasa kantukku perlahan menghilang, dan benar-benar enyah tatkala Mommy Rani datang dengan suaranya yang melengking. Dia masuk ke kamarku setelah pintu terbuka dengan handle pintu dalam genggaman tangan Daddy.
"Kejoraaa...," lengkingnya. "Ya ampun anak gadis, kok jam segini masih tidur?"
Aku nyengir. "Semalam aku tidak bisa tidur, Mom," kataku. Lalu kami berpelukan.
"Kenapa tidak bisa tidur? Kamu diajak Daddy ngapain? Lembur? Hah?"
"Heh, Kunti! Sembarangan kalau ngomong," celetuk Daddy. "Dasar gesrek!"
"Nggak ngapa-ngapain, Mom. Cuma... emm... tidak usah dibahas, ya." Aku melirik ke Daddy hingga ia mengerti dan berlalu meninggalkan kami berdua. "Mommy bawa gaun untukku?"
Sehangat sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela kamar, Mom Rani tersenyum dan mengangkat paper bag di tangannya. "Ini," katanya. "Tapi jangan dilihat dulu. Kejutan untuk nanti malam."
"Apa itu maksudnya?"
"Aku mau lihat, mau coba, pas atau tidak."
"Dijamin pas-lah. Jangan ragukan kemampuan eyke. Mommy jamin, Daddy bakal pangling melihatmu nanti malam. Dan dia akan semakin jatuh cinta."
Hah? Kurasakan pipiku merona dan terasa panas. Aku juga membekap mulutku dengan tangan. Bisa-bisanya Mom Rani bicara seperti itu, pikirku. Dan aku mesti bertanya. "Mom, kok Mommy bilang begitu?"
"Mommy sudah tahu, dong...."
"Tahu apa?" Aku bertambah malu.
__ADS_1
"Jangan sok polos...."
"Hmm, iya. Mommy tahu dari siapa? Masa Daddy cerita?"
"Dari Oom Hendri," sahutnya. "Setelah itu, Mommy kepo sama Daddy-mu." Ia pun tersenyum dan menatapku dalam-dalam. Kemudian dia menggenggam tanganku dengan erat. "Terima kasih. Kamu membuat Mommy lega. Rasa bersalah Mommy pada Daddy-mu sekarang sudah... pupus, lepas, sudah plong rasanya."
Aku mengerti maksudnya. Ternyata selama ini Mommy merasa terbeban karena sudah meninggalkan Daddy dan memutuskan ikatan pernikahan di antara mereka. Tapi kalau dipaksakan pun, mereka berdua juga tidak akan merasakan kebahagiaan yang hakiki untuk hati mereka masing-masing.
Aku berdeham pelan. "Mom," kataku, "cerita dong, kenapa Mommy bisa menikah dengan Daddy, terus bagaimana ceritanya kalian bisa bercerai? Please, ya?"
"Daddy tidak pernah cerita?" tanyanya, masih dengan tatapannya yang sama.
Aku menggeleng. "Tidak pernah."
Mommy mengangguk, dan tatapannya menjadi sendu. "Tapi jangan kaget, ya?" pintanya. Dia pun menghela napas dalam-dalam. "Mommy... waktu itu Mommy hamil."
Aku tersentak, sedikit terkejut mendengar pengakuannya. Dadaku bergemuruh. "Hamil? Sama Daddy?"
"Bukan, Sayang. Mommy hamil sama Oom Endru. Tapi, karena waktu itu Oom Endru... ditahan karena suatu hal, dia dipenjara, makanya Mommy menikah dengan Daddy. Mommy dan Oom Endru sebenarnya sudah mau menikah. Tapi takdir berkata lain. Gibran lelaki yang baik, demi menyelamatkan keluarga Mommy dari rasa malu, dia bersedia membantu Mommy. Dia bersedia memenuhi permintaan ayahnya Mommy, yang notabenenya merupakan teman sejawat ayahnya Gibran. Sama seperti mereka, Mommy dan Daddy-mu, kami berteman sejak kecil seperti orang tua kami. Dia baik sekali sehingga mau menolong kami, walaupun akhirnya Mommy mengalami keguguran. Kalau kamu tanya kenapa kami berpisah, ya karena kami ditakdirkan bukan untuk memiliki rasa itu. Kasih sayang di antara kami itu seperti saudara, seperti kakak adik. Sedangkan... perasaan Mommy, cinta Mommy tetap ke Oom Endru. Jadi... setelah Oom Endru bebas dari penjara, Mommy minta izin ke Daddy untuk... kamu tahulah maksud Mommy. Dan dia mengizinkan. Mommy tahu dia ikhlas, tapi tetap saja Mommy merasa bersalah. Apalagi dia sampai lama menduda." Dia tersenyum, dan seketika kembali ceria seperti sediakala. "Tapi itu semua hanya masa lalu," katanya. "Intinya, sekarang Mommy lega. Terima kasih, ya, Sayang."
Aku mengangguk kaku. Ini mengejutkan, sekaligus melegakan. Karena dulu aku mengira bahwa akulah penyebab perpisahan di antara mereka. Anak angkat yang terlalu disayang oleh Daddy. Ternyata bukan. Bukan aku penyebab perpisahan di antara mereka.
Terima kasih, Tuhan. Kau telah memberitahukan kenyataan ini padaku. Terima kasih.
"Kejora, maaf, ya. Mommy memang bukan orang baik. Mommy... bisa dibilang Mommy ini cewek nakal. Mommy sampai... hamil dengan Oom Endru, tapi menikahnya malah dengan Gibran. Sedangkan... Kejora, dia hamil, tapi dia malah pergi supaya kekasihnya bisa bersama perempuan lain. Mommy tahu, dia kepingin Gibran bersama perempuan yang masih suci. Tapi... Daddy malah menikahi Mommy yang sedang mengandung anak lelaki lain. Pengorbanan ibumu jadi seolah sia-sia waktu itu. Tapi sekarang tidak lagi, kan? Daddy akan bersamamu. Gadis yang baik, yang cantik, dan... you know what-lah, kamu masih gres. Sesuai harapan ibumu." Dia menunduk, lalu tersenyum. "Eh, sebentar, kamu benaran masih gres, kan? Apa sudah diunboxing oleh Daddy?"
__ADS_1
Ya ampun... gesreknya kumat lagi.