
Terdengar sahutan sayup dari dalam ruang kamar tempat Pak Fikri dirawat. Dua orang polisi yang berjaga di depan pintu mengizinkan kami menemui Pak Fikri. Dan saat kami masuk, Pak Fikri sedang berbaring, dia sendirian. Perasaanku jadi semakin tak karuan. Ada rasa kasihan pada lelaki sebatang kara itu. Tapi rasa marah dan benciku, mungkin juga rasa dendamku, sama berkobarnya dengan perasaan melow itu. Selain rasa iba, aku juga merasa bersalah atas keadaannya yang parah itu, dia rela menderita demi menyelamatkanku. Belum lagi kalau aku mengingat setelah ini dia akan terjerat kasus pembunuhan dan akan dibui. Dia akan kembali merasakan dinginnya kehidupan di balik jeruji besi. Aku sangat merasa bersalah. Tapi dia pemerkosa ibuku. Dia yang memperkosa ibuku dan membuat ibuku semakin menderita, dan itu membuat ibuku terpaksa meninggalkan Daddy. Sungguh, perbuatan Pak Fikri di masa lalu juga membuat Daddy ikut menderita dan jiwanya terasa mati selama belasan tahun. Pun aku, yang juga kena imbasnya. Aku terpaksa lahir sebagai anak yang dicap haram oleh masyarakat.
Dia jahat! Jahat sekali!
Suasana hening. Tak ada yang bersuara. Terdiam semua. Aku yakin Pak Fikri berpikir kalau aku sudah tahu siapa dia dan tentang kesalahannya di masa lalu. Sebab itu dia tak bersuara. Tak seperti ia yang selama ini selalu ramah terhadapku.
"Saya senang melihat keadaan Non sudah lebih baik," kata Pak Fikri kemudian -- mendahului percakapan di antara kami.
Kuanggukkan kepalaku dan mengingatkan diriku sendiri tentang keadaan kami kala itu. "Terima kasih," ucapku. "Terima kasih atas pertolongannya."
"Itu bukan apa-apa, Non. Saya--"
"Maaf sudah melibatkan Bapak dalam kasus ini."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Non. Sungguh. Saya ikhlas. Demi masa depan Non--"
Aku tak ingin mendengarnya lagi. Kubuang mukaku dan kuajak Daddy pergi. "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Permisi."
Tapi aku ingat tujuan utamaku, tapi aku ragu. Bagaimana ini?
Tidak. Aku tidak boleh ragu. Ayo, Kejora, tanyakan. "Sebentar, Daddy."
"Kenapa?" tanya Daddy.
"Ada apa, Non? Apa yang mau Non tanyakan pada saya?"
Tanyakan, Kejora. Tanya!
__ADS_1
"Tanyakan," kata Daddy.
"Itu... aku... aku mau tahu, apa... Pak Fikri melihat... maksudku, apa Bapak melihat...?"
"Tidak, Non. Saya tidak melihat. Tadi pagi, saya mulai curiga karena Non lama sekali di dalam toilet. Saat saya mendekat, saya mendengar suara benda dibanting. Terus, saat mendengar suara benturan keras, saya memutuskan untuk masuk ke dalam toilet. Saya panggil-panggil nama Non, tapi tidak ada sahutan. Saya buka pintunya satu-persatu, ternyata di dalam Riko sudah siap-siap menyerang dengan pisau itu. Jadi saya tidak melihat... apa pun. Sama sekali tidak."
Sedikit lega. Aku menghela napas. Kemungkinan Riko tak sempat memperkosaku. Tapi, tetap saja, ada kemungkinan kecil ia sempat masuk, seperti jarinya, walau sesaat, tetap saja kemungkinan itu ada, mungkin memang terjadi. Kelegaan sesaat itu pun segera berakhir.
"Terima kasih," ujarku.
Air mataku menetes-netes, aku pun segera meminta Daddy untuk membawaku kembali ke ruang kamar rawatku.
"Sayang...," kata Daddy, suaranya serak, ia langsung memelukku, tanpa bisa mengatakan apa pun lagi.
__ADS_1
Aku tahu ia terpukul, dan bukan karena kemungkinan itu, tapi karena aku, karena reaksiku. Aku tahu dia paham perasaanku terhadap kemungkinan kecil itu -- yang membuat sesak.