
Kemarin aku sudah mengemas barang-barangku ke dalam koper di saat Mommy memberi susu untuk Indra dan Indri. Aku juga sudah menata dan memastikan isi lemari es dan lemari dapur cukup untuk kebutuhan Daddy saat ia kembali ke Malang nanti, hasil belanjaan dari minimarket hari jumat kemarin. Sedangkan untuk pakaian kotor, kata Daddy dibawa pulang saja, biar dicuci di rumah. Dia juga mengatakan kalau kami sarapan di jalan saja nanti, di dekat stasiun sambil menunggu Oom Hendri mengambil mobilnya. Kendati demikian, aku tetap bangun pagi-pagi untuk memastikan segalanya sudah oke. Dan setelahnya aku bergegas mandi dan menyelesaikan mandiku dalam waktu yang singkat. Tapi...
Sial! Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika Daddy masuk ke dapur. Tanpa sengaja kami berpapasan dan berhenti tepat di hadapan masing-masing.
"Oh!" seruku, tanganku refleks mencengkeram kerah jubah mandiku. "Kukira Daddy belum bangun."
Aaah... memangnya kenapa coba? Mulut dan otakku mulai tidak sinkron.
"Baru bangun," sahutnya. Tatapan Daddy menelusuri tubuhku, meski aku tahu dia mencoba melawannya dan mencoba berpaling setelahnya.
Yang jadi masalah saat ini, bagaimana aku bisa melewatinya? Ketegangan *eksual yang menyala di antara kami justru semakin mendekatkan, merapatkan hingga tak ada lagi jarak. Yang sebenarnya terjadi, dia menarikku ke dalam pelukannya.
"Daddy...." Aku menelan ludah dengan susah payah, tidak sanggup berbicara, tidak sanggup berpikir ketika ia mendekapku begitu erat, ketika Daddy menatapku seperti itu, matanya dipenuhi api dan gairah. Dan aku tahu, wangi sabun dan sampo yang melekat di tubuhku menjadi aroma yang memikat.
Aku bersandar padanya, tidak berdaya untuk melawan. Jelas aku menyukai ini. Rasanya tergelitik ketika dadaku menempel pada dada bidangnya yang keras dan berotot. Jantungku berdebar liar. Kurasakan, satu tangannya melingkar erat di pinggang, sementara tangannya yang lain mengepal rambut hitamku yang tergerai. Sambil menunduk, dia mencium bibirku, keras dan lama. Lalu, perlahan-lahan, bibirnya membelai pipi hingga bersemayam di lekuk leherku. Mataku terpejam. Betapa menyenangkan merasakan bibirnya yang hangat membelai kulitku yang halus.
__ADS_1
Oh, ya ampun, aku merasa lututku melemah, tahu bahwa aku akan jatuh ke kaki Daddy kalau ia tidak memelukku erat-erat.
"Kejora," bisiknya, namun tak ada kata-kata lagi, sementara otakku yang kosong itu bisa mengartikan kalau ia menginginkan jawaban iya untuk pertanyaan yang tak terutarakan.
Sejenak kemudian, ia menciptakan jarak di antara kami untuk bisa menatap ke dalam mataku. Namun aku tak punya keberanian untuk balas menatap sepasang mata hitamnya yang indah. Dan persis di saat itu aku terpekik pelan.
"Ada yang menggigitku."
Sebelah alis Daddy terangkat.
"Bukan Daddy," kataku, pipiku memanas. "Di dalam jubahku."
"Serangga," katanya. Ia mengibaskannya dari punggungku dengan sapuan buku jemarinya.
Aku mendesis merasakan denyutan di punggungku. "Sakit Daddy," rengekku.
__ADS_1
Dan...
Kemudian...
"Ukh!"
Aku mendapati mataku terpejam lagi -- menahan *rangan. Daddy, dia... dia mengisa* punggungku, menggigit lembut di sana, di bekas gigitan serangga itu. Denyutan yang menyakitkan dari gigitan hewan kecil itu tergantikan dengan rasa nikmat dari gigitan si pria dewasa itu.
Ya Tuhan....
Aku pasrah. Menyerah ketika ia mendorongku pelan ke dinding. Dia berdiri di belakangku. *sapannya pun berpindah ke lekuk leherku. Dan tak pelak, kali ini *rangan pelan karena nikmat akhirnya lolos jua dari tenggorokanku. Daddy *engisapku begitu kuat di sana. Menegangkan semua saraf-sarafku.
"Aku sangat menginginkanmu," katanya, suaranya teramat pelan di telinga, berat dengan *rangan.
Namun sejenak kemudian ia justru melepaskanku.
__ADS_1
Aku tercengang, menatap kepergiannya. Tak bisa kupungkiri, aku merasakan seberkas kekecewaan karena ia pergi, tetapi pada saat yang bersamaan, aku pun bersyukur dan merasa lega karena ia pergi. Selain rasa ingin yang kuat, aku pun sangat takut pada apa yang akan terjadi kalau pria dewasa itu tetap di sini. Aku tidak ingin merusak hubungan kami. Tetapi...
Ah, entahlah. Cinta dan hasrat ini membuatku begitu naif.