
Selama satu bulan berikutnya aku berusaha sebisa mungkin bersikap santai hingga kehebohan tentang statusku yang sempat menjadi bahan perbincangan paling hangat itu meredup dengan sendirinya. Kuncinya hanya satu, aku tak pernah memedulikan bisik-bisik para siswa ataupun tatapan hina mereka kepadaku. Selama ketiga temanku tidak mempermasalahkannya dan tetap bersedia berteman denganku, dan juga guru-guru mengajar seperti biasanya tanpa menaruh perhatian khusus kepadaku selama pelajaran berlangsung, aku merasa semuanya baik-baik saja.
Hingga akhirnya kukira masalahku di sekolah telah usai.
Tetapi, siapa yang menyangka kalau aku mesti menghadapi masalah yang sedikit lebih heboh akibat ulah orang yang sama? Dari tangan Sandra, Riko mendapatkan foto mesraku dan Daddy: foto saat kami berciuman di lantai dansa waktu itu.
"Gue mendapatkan ini dari Sandra," katanya, ia memelankan suaranya karena kami sedang berada di perpustakaan. Dia menghadapkan selembar foto itu kepadaku. "Pantas lu menolak gue. Ternyata lu ada hubungan khusus dengan Oom Gibran."
Aku mendengus. "Memangnya kenapa? Kan lu tahu kalau gue dan Daddy tidak ada hubungan darah."
"Memang sih. Tapi coba pikirkan kalau seandainya foto ini menyebar. Apa yang akan dikatakan semua siswa di sekolah ini?"
Sialan! Dia mengancamku.
"Jangan keterlaluan, Rik!"
"Oh, jadi ada yang takut."
"Gue nggak takut!"
"O ya? Jadi... tidak apa-apa dong kalau...?"
"Rik, jangan kekanakan!"
"Kenapa? Lu takut karena mau jaga nama baik Oom Gibran, kan? Bagaimana kalau gue kasih tawaran?"
Aku menggeleng. "Jangan macam-macam!"
"Ayolah... nggak berat, kok. Cuma jadi pacar gue."
Bedebah!
"Jangan mimpi!"
"Ayolah... cuma semalam doang."
"Berengsek lu, ya!"
"Oke deh kalau lu tetap menolak. Tapi gue nggak tanggung, ya, kalau foto ini bakalan menyebar di tangan Sandra. Cuma informasi, dia sudah mencetak foto ini sampai ratusan."
Serangan mental. Aku mulai resah.
"Lu cuma punya waktu sedikit. Kalau lu berubah pikiran, beritahu gue. Gue bisa halangi Sandra." Dia berjalan mendekat, dan sebelum berlalu, ia berbisik kepadaku, "Gue harap lu masih perawan."
Sinting!
Sepeninggal Riko, sambil menyeret tas sekolahku dengan malas-malasan, aku berjalan menyusuri rak demi rak lalu keluar dari perpustakaan dengan wajah murung dan cemberut, membuat siapa pun yang melihatku enggan menyapa, apalagi mengajak bicara.
Pikiranku dipenuhi bayang-bayang hinaan buruk kalau nanti Sandra benar-benar menyebarkan foto ciuman mesraku dan Daddy. Bukan pandangan orang tentangku yang kutakutkan, tapi pandangan orang terhadap Daddy -- yang mencintai anaknya sendiri. Anak angkat yang dibesarkan, lalu dijadikan kekasih. Bahkan sudah terbayang olehku kata-kata kasar apa saja yang akan dilontarkan orang-orang padanya.
"Door!" Dinda tiba-tiba menubrukku sambil berteriak mengagetkan.
Aku sampai melompat ke bangku kayu di depan kelas saking kagetnya. Sambil mengusap dada, aku buru-buru mengatur napas, kemudian mendelik pada Dinda yang terbahak-bahak.
"Apa-apaan, sih?" seruku galak.
Dinda masih tertawa sambil memegangi perut. "Ya ampun, Ra, kenapa lu sekaget itu?" sengalnya, dia terbahak lagi. "Ekspresi lu lucu sekali, tahu!"
__ADS_1
Aku membuang muka. "Tolong pergi. Gue mau sendiri, Dind."
"Lu kenapa?" tanyanya takut-takut, ia ikut duduk di sebelahku.
Aku hanya melengos, menggeser duduk menjauhinya.
"Hei!" ia protes, mendekat padaku lagi. "Gue nggak kudisan, tahu! Tidak perlu sejauh itu!"
"Tidak lucu," kataku gusar. "Tolong pergi. Gue lagi malas bicara. Sekarang gue benar-benar lagi pingin sendiri."
"Lu marah sama gue?" tanyanya. "Sori deh. Gue cuma bercanda. Gue dari tadi nyari lu ke mana-mana. Ternyata lu ada di sini."
Aku diam saja.
"Lu kenapa sih, Ra? Lu benaran marah sama gue? Apa salah gue?"
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha sebisa mungkin meredakan amarahku akibat ulah Riko, juga Sandra. "Suasana hati gue sedang buruk. Gue... gue punya masalah besar."
"Sebenarnya lu kenapa?" tanya Dinda, sekarang ia nampak betul-betul serius. "Ada apa? Riko lagi? Sandra? Rhere? Atau ada masalah lain?"
Aku menoleh padanya cepat, memandangnya sambil meringis. "Gue diancam Riko. Sandra... dia, dia punya foto gue sedang ciuman dengan seseorang. Dia mau menyebarkan foto itu."
Alis Dinda bertaut. "Yang punya foto si Kunti? Kenapa Riko yang mengancam?"
Aku menggeleng-geleng tak jelas. "Maksud gue itu ancaman untuk gue. Sandra yang punya foto, dia yang mau menyebarkan, dan Riko yang ngasih tahu gue soal itu."
"Dia dapat foto itu dari mana? Lu ciuman sembarangan tempat, ya?"
Aku memandang Dinda dengan perasaan terhina. "Itu kejadian alami!" bentakku. "Jadi mana bisa pilih-pilih tempat. Dasar bodoh!"
"Kriminal itu mah."
"Nah, itu lu tahu."
"Terus gue mesti bagaimana, Dind?"
Dia mengangkat bahu. "Seperti yang tadi gue bilang, itu memang akan memalukan, tapi lu mesti kuat. Seperti biasa, pasang muka tembok."
"Tidak bisa, Dind. Ini bukan soal reputasi gue!"
"Terus? Tentang cowok yang mencium lu? Siapa?"
"Em."
"Siapa sih, dia?"
Aku tidak bisa menjawab.
"Halo? Siapa cowok misterius itu?"
Tiba-tiba Sandra datang. "Ini cowoknya." Dia melempar berlembar-lembar fotoku dan Daddy ke atas hingga foto itu berjatuhan dalam gerak melayang dan berhamburan ke lantai -- menghujaniku. Siswi-siswi yang posisinya berada di sekitar kami berdatangan memunguti foto-foto itu dan semuanya berekpresi sama. Kaget.
"Oom Gibran?" Dinda terbelalak, sejenak kemudian ia buru-buru memunguti foto-foto itu termasuk yang terlanjur diambil oleh siswi-siswi lain. "Sini!" bentaknya pada mereka yang ngotot ingin menyimpan foto itu. Tiara, yang saat itu ingin menghampiri kami cepat-cepat membantu Dinda. Sementara, Melisa hanya melongo dan memilih pergi.
Sambil bergaya congkak, Sandra berkata, "Foto itu diambil di Malang. Di resepsi pernikahan tante gue."
Aku terdiam, benar-benar murka sekaligus menahan malu dan hanya bisa menunduk.
__ADS_1
"Nggak nyangka, ya. Kejora ini tidak tahu malu. Tidak punya harga diri. Pasti dia yang menggoda ayah angkatnya duluan. Jangan-jangan, lu udah nggak perawan, ya?"
Berang. Aku berdiri. Kemarahan pekat menggelegak di dadaku dan aku tak terkendali.
Plak!
Tanganku melayang, menampar gadis itu keras-keras. Dia terhuyung lalu terjerembab ke tanah yang beralas rerumputan. "Sialan! Lu berani--"
"Apa?" raungku. "Seujung kuku pun gue nggak takut pada kuntilanak macam lu!"
Sandra yang masih memegangi pipi lekas-lekas berdiri. "Berengsek!" umpatnya.
Dan, adu jambak terjadi. Aku tahu ini sama sekali tidak elegan, tapi gadis itu yang memulai. Dan saat itu, Rhere malah terpingkal-pingkal sementara siswi-siswi lain bersorak-sorak, mengadu dan memperkeruh suasana. Kecuali Dinda dan Tiara, hanya mereka berdua yang memisahkan kami.
"Kejora!" tegur Dinda yang memegangiku.
"Pergi lu dari sini, Kunti!" teriak Tiara.
"Lepas!" bentakku pada Dinda.
"Kejora, kuasai dirimu. Ini di sekolah."
"Gue nggak peduli!" jeritku liar.
"Lihat, kan? Dia liar sekali. Pasti benar dia sudah diobok-obok ayah angkatnya."
Plak!
Giliran Tiara yang menamparnya. "Pergi dari sini!"
"Jangan pergi! Urusan kita belum selesai!" berangku.
Tapi gadis itu lekas-lekas pergi setelah mendapat dua tamparan. Barangkali dia berpikir akan kami keroyok seandainya dia tidak buru-buru menyelamatkan diri. Sementara aku tak berhenti mengumpat melihat ia berlari menjauh.
"Ra, tolong... berhentilah mengumpat!" kata Tiara.
"Gue kesal!"
"Stop, Ra!" tegur Dinda lagi.
"Tak perlu menegurku!"
"Ra, sadar! Ini lingkungan sekolah. Lihat mereka menontonmu."
Aku melihat segerombolan anak IPA, juga anak-anak IPS, mereka berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjukku. "Apa?" seruku galak. "Pergi atau kucincang kalian!"
Gerombolan itu langsung pergi berhamburan sambil terkikik, membuatku semakin dongkol.
"Tenang," kata Dinda dan Tiara. Mereka berdua memelukku.
Aku mengangguk.
"Lu nggak sendiri. Kita berdua ada di sini. Dan semuanya akan baik-baik saja."
Aku memandang mereka berdua dengan rasa terharu. Mereka teman yang baik, begitu tulus padaku.
Tetapi, hatiku tetap sakit. Nama Daddy tercoreng gara-gara aku. Dan aku tahu, ini akan sangat buruk.
__ADS_1