
Apa kau pernah ketindihan?
Aku pernah, dulu -- aku pernah mengalami itu beberapa kali. Perasaan aneh ketika bangun tidur. Ingin bangun tapi tidak bisa. Seakan sedang berada di alam lain. Takut akan kematian, dan, ingin menggapai-gapai sesuatu, ingin memanggil siapa pun untuk meminta pertolongan, namun tetap tidak bisa. Pada akhirnya hanya bisa pasrah menunggu dalam ketakutan.
Dan, sekarang, aku merasakannya lagi. Aku ketindihan -- ketindihan cinta. Eh?
Haha! Aku hanya bercanda. Yang kualami sekarang ketindihan dalam versi paling nikmat yang pernah kurasakan. Aku ketindihan suami.
Enak, bukan?
Uuuh... dia menindihku dengan keseluruhan bobotnya yang berat. Tapi kupikir, itulah hebatnya seorang perempuan, seberat itu beban yang menindihnya tapi ia bisa menahannya. Termasuk aku. Daddy itu badannya besar, kalau dia ada di atasku, badannya bisa menutupi tubuhku yang langsing. Dan kali ini, dengan posisi tidurku yang tengkurap setelah dimanjakan dengan pijatannya, Daddy menindihku dan membebankan keseluruhan bobot tubuhnya padaku. Berat sih, tapi enak.
Tetapi, di saat itu, saat kusadari ia tengah menindihku, aku pura-pura masih tertidur. Dari rasa kulitnya yang menempel padaku, aku tahu dia sudah sama polosnya denganku.
"Kejora, Sayang, bangun, yuk? Hari sudah sore."
"Aku masih mengantuk, Daddy. Sebentar lagi, ya...."
"Oke. Silakan," lagi-lagi ia berbisik, "seperti janjiku tadi, aku akan membangunkanmu dengan cara yang paling manis."
Ck! Aku terkikik dalam hati. Dasar pria dewasa! Dia menggigit punggungku seperti kucing jantan yang sedang *irahi, sedang tangannya menyelinap ke bawah, ke bagian dada. Praktis, tak bisa kutahan, aku jadi cekikikan.
"Kenapa?" tanya Daddy.
__ADS_1
Aku menggeleng, masih memejamkan mata. "Hanya teringat masa lalu," kataku.
Daddy pun ikut cekikikan. "Sori... maaf untuk yang waktu itu," ucapnya. "Saat itu aku hanya penasaran pingin pegang. Untung kamu malu, kan? Kalau tidak... tidak bisa kubayangkan, kamu bisa menunjukkannya padaku."
"Enak saja! Nggak, ya! Membiarkan Daddy menyentuhnya saja itu salah. Apalagi melihatnya secara utuh. Nope!"
Cup! Sebuah kecupan mendarat di leherku. "Kamu sudah tidak mengantuk lagi rupanya."
Hmm... ternyata hanya pancingan. Euw!
"Aku masih ngantuk, Daddy...."
"O ya?"
"Kejora...."
"Emm? Apa?"
"Feel me."
Ya ampun...! Bagaimana aku masih bisa pura-pura tidur? Bagaimana aku bisa menahan *ranganku? Dengan telapak tangannya yang lebar dan jari-jemarinya yang terampil, dia membuatku merasakan betapa nikmat sentuhannya.
"Masih mengantuk, Sayang?"
__ADS_1
Aku mengangguk sambil menahan senyum.
"Ada yang ingin bermain-main denganku rupanya," kata Daddy pelan. "Oke. Kalau begitu kita bermain yang lama."
Hah! Sekarang dia malah membuka interval kakiku. Dia membuatku bergidik ketika jemarinya menelusur ke bawah, lalu ia membelaiku dan memberikan sensasi geli yang menggelenyar. Dan...
"Aku datang, Sayang."
Oooh... bisikannya membuatku gemetar. Dengan kegagahannya yang tak perlu diragukan lagi, dia mengarahkan diri kepadaku, masuk, perlahan... dan... yeah, sempurna.
"Are you ready?"
"No, Dad...."
"Rileks, Sayang...."
Well, rileks, dia bergerak pelan. Tapi... itu hanya di awal. Dan setelahnya...
Omaaaaa... ringsek badanku...!
Daddy menyerangku dengan membabi buta. Kupeluk bantalku erat-erat -- bertahan dari kekuatan Daddy yang bertubi-tubi. Aku bahkan menggigit bantal untuk menahan *rangan. Sementara, di belakangku, Daddy mengeran* menahan desisan.
Ya ampun... benar kata Oma, si pria dewasa ini begitu buas dan liar.
__ADS_1