Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Mengobati Luka


__ADS_3

Tidak ada jawaban pasti.


Itu -- yang dikatakan oleh Daddy. Pak Fikri tidak menjawab iya. Jadi, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


"Tapi katanya dia merasa bertanggung jawab karena hanya dia yang masih hidup. Dan... dia juga bilang sebaiknya kita jangan mencari tahu. Katanya kamu lebih baik tidak tahu siapa ayahmu, sebab... dia bilang dia tidak mau kalau kamu tahu kalau dialah ayahmu, dia yang seorang penjahat, seorang nara pidana. Bahkan, dia bilang... jangan ada gagasan untuk tes DNA. Dia tidak mau."


Aku mengangguk paham. Lagipula, kalau dia memang menginginkan identitas jelasku, sudah sejak dulu ia akan melakukan tes DNA. Aku menghargai keputusannya. Kalaupun dipaksakan, dan aku tahu kalau dia benar ayah kandungku atau bukan, memangnya kenapa?


Lebih baik tidak tahu. Lebih baik tidak tahu.

__ADS_1


Aku berpikir demikian, dan menahan diri untuk tidak menemuinya. Kukeraskan hatiku untuk teguh dengan pendirianku meski aku sangat ingin menemuinya. Sampai akhirnya, saat aku sudah diizinkan pulang, aku tidak tahan untuk pergi begitu saja, namun aku tetap enggan menemuinya. Jadi, aku hanya menitipkan surat kepada seorang suster. Melalui surat itu aku mengucapkan terima kasih dengan tulus dari dasar hatiku atas pertolongan dan pengorbanannya. Aku juga menyampaikan bahwa aku mengingat semua kenangan-kenangan di antara kami selama tujuh tahun itu, termasuk saat Pak Fikri memberiku tujuh ekor ikan warna-warni yang kutaruh di dalam akuarium yang dibelikan oleh Oma. Dan aku selalu memberitahu Pak Fikri kalau ada ikan yang mati. Pak Fikri selalu menggantinya dengan ikan yang baru, ikan dengan warna yang sama dengan ikan yang mati itu.


Ya Tuhan... aku menangis sewaktu menulis surat itu. Dan akhirnya aku meninggalkan rumah sakit dengan perasaan tak karuan. Mesti menolak atau menerima kehadirannya? Aku tidak tahu.


Tak cukup sampai di situ, sesampainya di rumah, perasaanku semakin tak karuan. Apalagi, ternyata Oma, Bibi Sum, dan Pak Ujang sudah pulang. Daddy merahasiakan kepulangan mereka dariku karena aku tak ingin mereka tahu apa yang terjadi padaku. Tapi itu mustahil, Oma curiga kenapa kami tak kunjung menemuinya di Surabaya. Akhirnya Daddy menceritakan apa yang menimpaku. Aku sangat malu bertemu mereka semua meski Oma tidak mengatakan apa pun. Ia hanya memelukku dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa.


Dan, nyeri sekali sewaktu aku memasuki kamar utama. Kamar indah itu mestinya untuk bercinta dengan indah, dengan penuh cinta. Tapi, keadaan justru menyiksaku. Aku dilingkupi rasa bersalah yang teramat karena merasa gagal menjaga kehormatanku sebagai seorang istri.


Daddy menahanku. "Bilang saja kalau kamu mau kuterapi sekarang," kata Daddy dalam suara gemetar. Memaksakan diri untuk tetap tegar.

__ADS_1


Aku telah menyakiti hatinya, tapi aku tak mampu menutupi perasaanku saat itu. "Maaf, Daddy," kataku. Aku semakin merasa bersalah.


"Akan kumaafkan, asal kamu tetap di sini," katanya. Dia menciumku, membimbingku terbaring.


Tetapi rasa benciku terhadap diriku sendiri membuatku tetap menangis sesenggukan, aku menelungkup, memunggungi Daddy.


"Menangis, menangislah, Kejora. Tapi aku tak akan pernah menyerah padamu."


Daddy menyibakkan rokku, melepaskan dalamanku, lalu menelungkup di atasku. Kausku sudah ia lepaskan, berikut pengait braku. Dia mencium-ciumi punggungku, leherku, bahkan ia menggigit di sana. Kemudian, dalam isak tangis, aku merasakan ia menyatu denganku.

__ADS_1


"Kau... bintang terindahku. Aku tak akan pernah menyerah. Tak akan pernah."


Aku menggenggam tangannya, erat-erat. Dan membiarkan Daddy mencintaiku dengan caranya. Bahkan, ketika ia selesai, aku memintanya untuk tetap di posisinya, di atasku. Sampai aku tertidur.


__ADS_2