Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Nervous


__ADS_3

"Hei," bisik Dinda sebelum ia dan Tiara berpamitan, "nanti ceritakan, ya, bagaimana rasanya malam pertama? Sedetail-detailnya. Oke?" Matanya mengerling nakal.


Dasar! Permintaannya itu membuatku terkikik-kikik. Dan itu bukan hanya dilontarkan oleh Dinda, keponakan-keponakan Daddy yang berusia dua puluhan juga membisikkan hal serupa sewaktu mereka bercipika-cipiki denganku pada saat berpamitan sebelum mereka pulang. Beberapa keluarga yang berasal dari luar kota mulai berangsur pulang setelah asar, sementara yang tinggal di sekitaran Jakarta berpamitan setelah magrib. Kami juga sempat makan malam bersama dalam kehangatan cinta dan canda tawa keluarga.


Setelah semuanya pulang -- kecuali keluarganya Mommy Rani karena ibunya masih ingin bernostalgia bersama Oma -- tiba juga waktunya untuk istirahat kendati pekerjaan orang-orang dari jasa cleaning service belum selesai. Dan karena itu juga Daddy masih sibuk untuk mengontrol semuanya, berharap rumah besarnya sudah bersih seperti sediakala secepat mungkin, baik di bagian dalam ataupun di bagian luar rumah.


"Duluan saja," katanya menyuruhku ke kamar setelah mengantar tamu terakhir dan mobil mereka melaju, keluar dari pekarangan.


Aku menyunggingkan senyuman paham dan segera berlalu. Aku ingin segera mandi setelah beraktivitas seharian yang membuat kulitku terasa gerah dan lengket.


Ting!

__ADS_1


Ponselku berbunyi sewaktu aku meraih jubah mandiku. Ada pesan whatsapp dari Mommy Rani.


》 Selamat menempuh malam pertama. Jangan lupa pakai lingerie-mu. Mommy percaya, Kejora, gadis kecilku yang selalu menepati janji. Ah... Mommy ikut bahagia untukmu, Sayang. Selamat berngilu-ngilu ria. Jangan lupa mengunci pintu, ya....


Aku tersenyum-senyum membacanya. Aku tahu, besok pagi Mommy pasti akan menggodaku habis-habisan.


Well, aku mengambil paper bag yang berisi lingerie berbahan sutra halus, lembut, putih, tipis dan terawang itu dari dalam lemari. Sungguh itu kombinasi detail yang sempurna, bahkan di bagian bahunya hanya berupa tali yang mesti diikat pita, betapa mudahnya bagi Daddy untuk melepaskannya nanti. Aku jadi merasa geli memikirkan lingerie cantik itu terpasang di tubuhku.


Terasa fresh semuanya. Aku baru selesai menyisir rambutku dan keluar dari kamar mandi ketika pintu kamarku terbuka dan Daddy masuk dengan tatapannya yang langsung terfokus padaku. Rambutku tergerai indah, lurus dengan warnanya yang hitam alami, dan aku merasa malu ketika tatapan Daddy menyusuri seluruh bagian tubuhku dan berakhir di kaki telanjangku dan ujung lingerie putih yang mengintip dari balik jubahku.


Aku tersenyum sekilas. "Aku sudah menyiapkan air panas untukmu mandi," kataku gugup.

__ADS_1


"Terima kasih," gumamnya, keterpakuannya sirna. "Kenapa masih memakai jubah mandi kalau sudah berpakaian?"


Aku menggeleng. "Bukan apa-apa," kataku. "Hanya saja, pakaian ini kurang bahan."


"O ya? Aku penasaran," katanya.


"Eh?" Mataku membulat. "Sebaiknya mandi dulu...."


"Oh!" Dia nyengir. "Sepertinya ada yang nervous, ya...."


"Em, ya, kurasa. Sebab itu, pergilah mandi dulu. Tolong? Aku tidak akan ke mana-mana, kok."

__ADS_1


Hahaha! Ampuuun... si pengantin nervous-nya bukan main.


__ADS_2