
"Hei, kamu sedang bermimpi apa?"
Kelopak mataku terbuka mendengar suara Daddy. Dia berjongkok di samping kursi goyangku, di beranda pondok itu, kemejanya disampirkan di sebelah bahunya. Ia bertelanjang dada dengan otot-otot menghiasi dada, lengan, dan perutnya. Senyum yang menawan, kulit yang basah dengan keringat dan aroma lelaki yang khas. Memabukkan.
"Pasti mimpi yang bagus, melihat caramu tersenyum," komentarnya. "Apa Daddy ada di dalamnya?"
Aku menggeleng. "Tentu saja tidak! Mana mungkin aku memimpikan Daddy."
"O ya?" Menegakkan tubuh sedikit, Daddy mencondongkan tubuhnya ke depan dan menempelkan bibirnya di bibirku.
Tak pelak, er*ngan pelan karena nikmat keluar dari tenggorokanku. "Daddy... ukh...!"
"Apa kamu yakin tidak sedang memimpikan Daddy?" Bibirnya kembali menyapu. "Mungkin Daddy sedang menciummu di sini...." Ia mencium daerah sensitif di belakang telinga. "Atau di sini...." Bibirnya bergerak naik turun di leherku, menimbulkan getaran nikmat, lalu kembali ke bibirku. Tangannya menangkup bagian belakang kepalaku dan menariknya mendekat, memperdalam ciuman.
Semua pikiranku buyar begitu ia menarikku ke pangkuan. Kulingkarkan lengan di sekeliling tubuhnya, mendekapnya erat, haus dan mendamba. Yah, aku pasrah, dan menyerah dalam pelukannya, bersuka ria dalam belaian tangan Daddy yang menuruni lekuk punggungku yang indah. Entah bagaimana, kami terbaring di beranda, ia berada di atasku, menindih dan menekanku dengan gairah, dengan lidah yang liar membelai bibirku.
Sungguh aku mengagumi, betapa gagahnya ia, ketampanan wajahnya, dan kejantanannya yang tak perlu diragukan. Dan...
Aku mendongak menatapnya, napasku tercekat. "Daddy, apa ini? Daddy mau apa?"
"Mencari jalan," bisiknya. "Mencari rute persemayaman kita." Tangannya bergerak perlahan membelai kulitku. "Daddy ingin mengajakmu." Tangannya meluncur menelusuri pinggul. "Ke sini, ke pegunungan ini." Dengan lembut tangannya membelai dada. "Lalu di sini, di lembah yang lembab dan basah ini."
Dia menciumku lagi, tubuhnya menempel dengan intim di atasku, kemudian menuruniku. Dan... Dan...
"Oh, ukh...!" Lidah dan jemarinya menggelitik. Mencicipiku dengan rakus dan menegangkan semua saraf.
__ADS_1
Lalu... ia kembali naik, membenamkan wajahnya di lekuk leherku dan meng*sap kuat di sana. Aku meng*rang kuat. Nikmat. Nikmat. Luar biasa nikmat.
"I love you, Kejora." Dia tersenyum dan menyangga tubuhnya dengan siku, lalu menatapku dengan mata yang gelap dan lapar. "Ingin menyusuri lembah bersama Daddy?"
Aku mengangguk, napasku terengah dan sedikit malu. "Aku mau."
Dengan lembut, ia menarik turun tanganku menyentuh ikat pinggangnya. "Lepaskan," pinta Daddy sambil mencium lembut puncak hidungku dengan gemas.
Dan... aku melepaskannya, membuka pengait dan menurunkan ritsletingnya, lalu menurunkan celananya. Kemudian... aku merasakan ia hidup, dan mendamba. Pun aku, aku mendambakannya. Sangat mendambakannya.
"Siap, Sayang? Kita mulai?"
Kuanggukkan kepala dengan malu. "Em, Kejora milikmu."
"Eummmmm... Daddy...."
"Feel me, feel me, Kejora."
"Oh, Daaaaad," aku mend*sah keras ketika ia masuk perlahan.
"Rasakan, Sayang. Rasakan Daddy di sini. Menyelamimu dengan cinta. Kamu bisa merasakannya, Sayang? Hmm?"
"Iya, Daddy. Aku merasakanmu. Kehangatanmu. Dan... oh, Dad...," suaraku berupa *rangan pelan tak tertahan. Betapa nikmatnya dan aku tak ingin ini berakhir.
Sehingga...
__ADS_1
"Daddy... aku...."
"Nikmati, Sayang...."
"Tapi aku kepingin pipis, Daddy."
"I know, lakukan. Lepaskan di sini."
"Tapi, Daddy...."
"Lepaskan, Sayang. Lepaskan saja."
"No, Dad."
"Please, please, Kejora. Lepaskan dirimu, Sayang."
"Aku, aku, aku tidak tahan lagi, Daddy. Aku... eummmmmm...."
Ya ampun, sungguh, aku tidak bisa menahannya lagi. Tidak bisa kutahan lagi. Aku... sudah tidak kuat.
"Ukh... Dad...!"
Basah! Dan...
Argh! mimpi sialan!
__ADS_1