
Daddy terbangun mendengar suaraku yang kesakitan akibat terjatuh dari tempat tidur. Dia bangkit berdiri dan menyalakan lampu yang seketika membuat mataku silau.
Aku yang masih kesakitan memegangi sisi kepalaku yang terbentur di lantai. Darahku mendesir, jantungku masih berdebar kencang, dan wajahku basah oleh keringat dan air mata.
"Kenapa?" tanya Daddy, dia buru-buru menghampiriku, mengangkatku dan menaruhku kembali ke tempat tidur yang kusut. "Kamu menangis?"
Tidak bisa menjawab, aku menghambur ke pelukannya. Aku sudah menyadari bahwa yang kualami tadi hanyalah mimpi buruk. Namun entah kenapa, aku begitu yakin bahwa itu bukan sekadar mimpi. Firasat buruk itu tak bisa hilang dari dalam benakku.
"Mimpi buruk?"
Masih tak bisa bersuara, aku hanya mampu mengangguk. Dan aku bingung tentang mimpi itu kendati aku memikirkannya: berusaha membuat adegan yang membingungkan itu menjadi lebih masuk akal.
"Kamu mimpi apa sampai menangis begini?"
"Entahlah, aku bingung."
"Yang kamu ingat?"
Terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Pemerkosaan," kataku. "Tapi aku bingung. Seakan-akan aku yang mengalami, tapi di sisi lain seperti bukan aku. Tapi... entahlah, seperti aku yang mengalami, dan seperti aku juga yang menyaksikan diriku sendiri diperkosa. Aku bingung."
"Mungkin itu karena kamu terlalu cemas, jadi terbawa sampai ke alam mimpi. Sudah, ya. Jangan takut. Ada aku."
Sekali lagi aku mengangguk. Kuhela napas dalam-dalam dan melirik ke arah jam dinding. Jam setengah lima. "Aku mau ke dapur," kataku.
__ADS_1
"Mau masak?"
"Em, aku butuh pengalihan pikiran."
"Tidak usah, ya. Tunggu jam lima, nanti kita keluar. Kita lari pagi sekalian cari sarapan pagi."
Kurasa itu gagasan yang bagus. Aku setuju, kecuali pada kata lari pagi. Aku tidak suka lari, apa pun jenisnya, baik maraton, jogging, apalagi sprint. Aku hanya akan lari dalam sutuasi terjepit atau sedang berusaha menghindari sesuatu. Sebagai gantinya, aku mengajukan jalan santai pada detik-detik kami akan keluar rumah.
"Kalau lari, aku tidak jadi pergi. Aku sudah cukup tersiksa bertahun-tahun sekolah dan disuruh lari dalam mata pelajaran Olahraga. Aku sangat tidak suka."
Daddy menatapku simpatik, lalu mengalah. "Baiklah," katanya. "Kita jalan santai."
Itu lebih baik. Dengan sepatu kets, jaket, dan pakaian olahraga masing-masing, kami siap menyelinap dalam kelembapan subuh yang beberapa menit lalu sudah berkumandang. Di atas sana, bulan masih bersinar terang, namun sebentar lagi aku yakin ia akan tersamar karena hari beranjak siang.
"Aku akan menggendongmu."
"Sungguh? Sampai ke rumah?"
"Yeah, kalau aku tidak sanggup, kita akan pesan taksi online."
Aku terkekeh-kekeh mendengarnya. "Baiklah," kataku sambil membenamkan tanganku dalam-dalam ke saku jaket. "Tapi aku yakin, kok, suamiku pasti sanggup. Suamiku kan kuat. Dan itu yang kuharapkan."
"Kamu bicara tentang apa, Kejora? Hmm?" Senyuman merekah di wajahnya yang tampan.
__ADS_1
Aku melontarkan senyuman nakal kepadanya. "Hanya bicara tentang sesuatu yang kurindukan. Kita, kamu dan aku."
Ia tertawa. "Aku tidak mengerti. Apa itu?"
"Tidak usah dibicarakan kalau kamu tidak mengerti. Lakukan saja nanti kalau sudah waktunya." Lalu aku berbisik mesra, "Aku kangen sekali."
Hah! Ekspresi di wajahnya begitu lucu sehingga aku senang. Aku bisa menyingkirkan firasat-firasat buruk itu -- walau hanya untuk sementara.
"Aku juga," sahutnya. "Aku kangen bercinta denganmu."
Ck! Terang-terangan sekali, sih, dia. Haha!
"Omong-omong," kataku, "nanti kita cari gado-gado, ya."
"Bukannya kamu tidak terlalu suka? Kok malah mau makan gado-gado?"
"Bukan apa-apa, sih. Aku akan belajar menyukainya. Yang penting... banyak taugenya. Aku ingin cepat-cepat hamil."
Uuuh... Daddy senang, dia sampai terkekeh-kekeh. "Terima kasih, ya. Kamu sudah sangat pengertian. Aku senang, pemikiran gadis kecilku ini sangat dewasa."
Dan aku berharap Tuhan memberikan kesempatan itu: menjadikanku ibu dari anaknya, dan membesarkan anak kami bersama-sama.
Tolong, Tuhan... andaipun aku memang manusia yang terlahir kembali, jangan samakan nasibku dengan peristiwa di masa lalu. Kalau bukan untukku, setidaknya kabulkan ini untuknya. Dia seorang lelaki yang baik. Bukankah dia pantas untuk bahagia?
__ADS_1
Iya, kan?