
Tiga puluh menit kemudian, aku sudah bersih dan berpakaian. Aku merapikan tepi-tepi kemeja putihku dan merapikan rok abu-abuku yang sepanjang lutut. Aku tersenyum ke arah cermin dan menyandang tasku ke bahu. Di bawah, Oma berteriak agar aku bergegas, bahwa hari sudah hampir jam tujuh. Ini sudah menjadi kebiasaan, padahal jarum jam panjang baru menunjuk ke angka delapan yang berarti masih dua puluh menit lagi menjelang jam tujuh tepat.
Kebiasaan Oma itu selalu membuatku serasa dikejar-kejar anj*ng, seolah dia punya peliharaan dan melepaskannya khusus untuk berpatroli terhadap diriku, hingga aku terburu-buru menuruni anak tangga.
"Pagi, Oma. Pagi, Daddy."
Mode ceria diatur, padahal di dalam hati melesak. Daddy sudah siap untuk menempuh perjalanannya kembali ke Malang. Dia sudah mandi dan berdandan rapi. Namun tetap saja, aku mesti duduk ceria di depan mereka dan menghabiskan sarapanku. Sup spesial Oma tiba-tiba terasa hambar di lidahku.
Setelah sarapanku habis, susu di gelasku juga sudah kosong, kami pun bergegas berangkat. Pak Ujang akan mengantarkanku ke sekolah, setelah itu baru mengantar Daddy ke stasiun. Di dalam mobil, suasana terasa dingin meski tubuhku terlindung dengan jaket yang cukup tebal.
"Hanya enam bulan," kata Daddy pelan. Begitu pelan sampai-sampai aku hampir tidak mendengarnya. "Sayang."
Aku menoleh ke arahnya.
"Semua akan indah pada waktunya, dan komunikasi kita tidak akan terputus," katanya seraya menggenggam erat tanganku.
Rasanya aku tak sanggup bicara, jadi aku hanya mengangguk.
"Waktu akan terasa lebih lama kalau kamu seperti ini."
"Kenapa harus pergi?" tanyaku yang akhirnya buka suara.
"Tanya Oma," katanya. "Oma yang menyuruh Daddy pergi."
"Kenapa? Daddy kan punya orang kepercayaan yang bisa mengurus perkebunan."
"Daddy tahu. Tapi Daddy tidak bisa membantah Oma. Karena kamu bukan lagi gadis kecil yang kami besarkan. Kamu sudah dewasa. Kamu mengerti itu?"
Lagi, aku mengangguk. "Ya, aku mengerti. Aku sangat paham," kataku.
"Daddy juga tidak ingin sekolahmu terganggu. Kamu akan lebih konsentrasi belajar kalau Daddy tidak di rumah."
Itu benar. Dan kupikir, yang terpenting kami selalu berkomunikasi, belajar dan sekolahku pasti akan aman terkendali.
Dan tak terasa, kami pun sudah sampai di sekolah -- tepatnya beberapa meter dari gerbang depan sekolahku.
"Pak, berhenti di sini saja," kata Daddy.
__ADS_1
"Tapi kan gerbangnya masih jauh, Pak," kata Pak Ujang setelah menginjak rem. "Nanti Non Kejora--"
"Kami mau mengobrol dulu. Bapak tolong tunggu di luar, ya. Dan sekalian, itu di seberang ada minimarket, tolong belikan saya permen mint."
Modus terdeteksi! Pak Ujang keluar dari mobil dan Daddy langsung mengunci pintu mobil berkaca super gelap itu.
"Aku perhatikan, sekarang Daddy suka sekali makan permen mint. Kenapa?"
Daddy celingak-celinguk ke luar jendela, lalu fokus menghadapku. Cengirannyaaaaa... supeeeeer lebar. Euw...!
"Daddy butuh permen, proses berhenti merokok."
"Eh, serius Daddy mau berhenti merokok?"
"Hu'um."
"Coba dari kemarin-kemarin dengar--"
Cup!
Bibirnya menempel sekilas di bibirku. "Kemarin tidak ada bibir yang mesti kucium," katanya pelan di depan wajahku, hingga aroma mint menyapu kulitku.
"Ya itu memang demi kesehatan, Sayang."
"Tadi bilangnya untuk--"
"Demi, kesehatan, batin, kita."
"Ih, Daddy mah... gombal terus...."
"Faktanya begitu. Tapi itu tidak penting untuk dibahas sekarang."
"Terus, mau bahas apa? Aku hanya punya waktu lima belas menit."
"Tidak ada. Aku hanya ingin menghibur kekasihku ini supaya tidak sedih lagi."
Oh, ya ampun, yang masa pubernya belum kelar. "Maksudnya? Menghibur... bagaimana?"
__ADS_1
Dag!
Dig!
Dug!
Suasana mendadak panas. Sorot mata Daddy mengunci tatapanku. Jantungku mulai lepas kontrol. Hasrat mulai menjalar. Dan... dengan perlahan... ia mendekat... lalu...
Aku mendapati diriku terbaring di bawah himpitan tubuhnya yang kekar. "Daddy, aku akan pergi sekolah, jangan...."
"Jangan di leher? Hmm?"
"Daddy...."
"Di sini?" Dia membuka kancing kemejaku.
"Daddy...."
Dia meneguk saliva. Sementara aku, di dalam hatiku, jantungku, perutku, semua berdentam-dentum, bergemuruh hebat seperti genderang mau perang. Bagaimana tidak? Apalagi, kali ini ia meng*sap kuat bagian dadaku. Bukan puncaknya, tapi tetap saja, itu bagian dada yang membuatku takut kalau-kalau ia membuka bra-ku.
Ah, kalaupun itu terjadi, aku khawatir aku tak menolaknya. Khawatir? Huh!
Nyatanya ini nikmat. Semakin sempit waktu, semakin aku ingin berlama-lama. Aku suka. Sangat suka. Bahkan aku tergila-gila pada ciuman dan sentuhannya.
Dan setelah itu...
"Inilah kenapa Oma ingin kita berpisah sementara," katanya pelan, napasnya memburu di telinga. Sementara, di bawah sana, tangannya dengan lancang menyelinap ke balik kemeja putihku. Jemarinya membelai kulit perutku, mengelus pelan di sana hingga menimbulkan sensasi geli yang menggelitik.
Gemetar! Nikmatnya membangkitkan gairah dan rasa penasaranku. Ingin sekali rasanya... dibuka secara keseluruhan.
"Waktunya sekolah," kata Daddy. Dia beringsut dariku, menarikku untuk duduk, lalu membenahi kancing-kancingku. "Ingat, selain aku, jangan biarkan orang lain menyentuhmu. Paham?"
Lagi-lagi aku tak sanggup bicara. Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Menyisir rambutku dengan jemari, lalu merapikan kemeja, rok, dan jaketku dengan rasa gugup yang membuncah.
"Sekarang mengerti kenapa sebaiknya aku pergi?"
"Ya," hanya itu yang bisa kukatakan dengan anggukan. Aku sangat mengerti.
__ADS_1
"Bagus. Kejoraku gadis yang baik dan penurut. Sekarang pergilah ke sekolah. Sampai jumpa enam bulan lagi." Ia meletakkan tangan dengan ringan di atas punggung tanganku, lalu mencondongkan tubuh ke telingaku. "Malam tahun baru di Malang, ya? Aku akan menjemputmu."
Ya ampun, jantungku berdebar kencang seperti anj*ng pemburu yang sedang mengejar kelinci. "Ok, I am waiting for you. Aku bahkan tidak sabar supaya kita kembali bertemu."