
Setelah beberapa saat berbaring di ruang keluarga dan Daddy sudah mendapatkan kembali tenaganya, dia langsung menggendongku ke lantai atas, seperti yang ia katakan tadi, dia membawaku ke kamar mandi, menyiapkan air hangat dan mengajakku berendam air hangat bersamanya. Yap, sebenarnya bisa dikatakan kalau kami hanya berpindah tempat untuk bersantai, sekalian merileksasi diri dengan air hangat.
"Bercinta di sini pasti asyik," katanya.
Praktis aku merengek, "Lain kali, ya... jangan sekarang...."
Daddy terkekeh. "Iya, Sayang. Nanti malam saja."
"Daddy...," aku memekik gemas.
"Oke, oke. Langsung bilang kalau badanmu sudah fit, ya."
"Menyebalkan! Kalau satu jam lagi badanku sudah fit, Daddy langsung mengajakku bercinta lagi, begitu? Bercandanya tidak lucu!"
__ADS_1
Mode ngambek otomatis on, sementara Daddy malah terkekeh-kekeh, lalu ia menyandarkanku lagi ke dalam pelukannya.
"Daddy, aku mau tanya-tanya, boleh?"
Dengan alis naik sebelah, ia malah balas bertanya, "Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Emm... bukan apa-apa. Hanya saja, pertanyaan ini sudah lama. Aku hanya ingin tahu jawabannya. Soal... emm... aku mau tahu, siapa yang memberiku nama Kejora? Apa...?"
Daddy mengangguk. "Ya, aku," katanya. "Dia yang memintaku untuk memberikan nama untuk putrinya." Lalu ia terdiam sejenak. "Selain kenangan, hanya kamu yang ia tinggalkan untukku. Dulu... dulu setelah dia menghilang, aku membakar semua yang kumiliki darinya. Jadi... aku juga tidak memiliki apa pun selain... kenangan, dan... juga namanya. Nama yang selalu ada di hatiku. Maksudku dulu, itu dulu. Dulu sekali. Kamu mengerti, kan? Eee... sudahlah, ini alasan yang sulit dimengerti. Yang jelas, aku tidak bisa memikirkan nama lain. Jadi... Ya begitu."
Lagi-lagi dia terdiam.
"Semalam... kamu bilang bertahun-tahun kamu tersiksa oleh perasaanmu. Apa kamu bicara tentang...?"
__ADS_1
Dia menggeleng kuat, seakan menyangkal sesuatu. "Aku bicara padamu. Apa lebih dari satu tahun tidak bisa dikatakan bertahun-tahun? Maaf kalau aku salah. Aku tidak bermaksud--"
"Jadi, sejak kapan?"
"Kejora...."
"Katakan saja, please?"
Dia meraih jemariku, menggenggamnya erat -- seolah menyampaikan rasa takut, dan dia tidak berani menatap mataku saat aku berputar menghadapnya. "Sejak... sejak pertama kali aku melihatmu memakai seragam abu-abu. Maaf kalau... tapi aku tidak ingin berbohong. Kamu bisa memahami soal itu, kan? Tolong?"
"It's ok. Jangan khawatir. Aku memahami segalanya. Aku hanya ingin tahu. Itu saja."
Yeah, ini tujuan Oma yang sebenarnya -- kenapa sejak aku mengerti tentang nasihat baik, Oma selalu menjejaliku tentang keikhlasan: bahwa aku mesti menerima setiap hal yang terjadi di dalam hidupku. Kurasa Oma tahu kalau anaknya ini akan melihat mendiang kekasihnya di dalam diriku. Dan aku mesti menerima, kalau keberadaanku -- tak sepenuhnya karena aku. Tapi aku bukanlah bayangan: aku nyata dengan jiwaku sendiri, meski -- aku seakan berasal dari jiwa yang mengalami reinkarnasi kehidupan.
__ADS_1
Hanya karena aku memiliki paras dan raga yang sama persis dengan mendiang ibuku, bukan berarti aku tidak memiliki kehidupanku sendiri. Aku bukan ibuku. Aku adalah diriku sendiri. Aku bukan wujud reinkarnasi. Sama sekali bukan. Yang ini adalah Kejora Aditama. Bukan bayangan, dan bukan reinkarnasi. Tapi, dari dasar hatiku yang paling dalam, aku tahu bahwa aku rela kalau Daddy menganggapku sebagai mendiang kekasihnya yang kini sudah kembali.
Itu bukan masalah bagiku....