
"Hei, kamu mau menikah denganku, kan?"
"Iya, itu pasti. Tidak perlu mempertanyakan--"
"Ssst... Kejoraku gadis yang tangguh. Semakin banyak ujian, dia akan semakin dewasa dan menjadi pribadi yang lebih kuat, ya kan, Sayang?"
Hmm....
"Itu benar. Tapi aku juga tidak mau kalau banyak ujian. Aku mau bahagia, Daddy...."
Daddy tersenyum, dia menaruh kedua belah tangannya di pundakku lalu menatapku dalam-dalam. "Apa aku kurang membahagiakanmu? Apa yang kulakukan selama ini tidak cukup? Katakan?"
Aku tertegun, kugelengkan kepalaku cepat-cepat dan berusaha menyunggingkan senyum. "Aku bahagia. Kamu memberiku segalanya. Bahkan kehidupanmu. Maaf kalau tadi aku salah bicara. Tapi aku bahagia bersamamu. Maaf?"
__ADS_1
"Nah, sekarang, mari kita berkeliling." Daddy menarik trolley dan mulai mendorongnya sementara aku berjalan di sampingnya. "Abaikan saja orang-orang di sekitar kita. Aku memang sudah dewasa, tapi aku masih muda, lelaki tampan, kuat dan perkasa, ya kan?"
Praktis aku terbahak lalu mencubit bahunya. "Aku tidak tahu," kataku. "Kan aku belum mencobanya."
"Nanti, setelah kita menikah, aku yakin aku bisa membuatmu kecanduan, dan... sampai ketagihan."
Hah!
Aku mendelik kepadanya. "Percaya diri sekali, sih...!"
Hmm... dia pria termanis dalam hidupku. Walaupun banyak orang yang akan menghujat, tapi aku yakin aku akan menjadi pengantin yang paling bahagia di hari itu.
"Aku yakin aku mengenal kalian," ibu di antrean kasir supermarket berkata sambil menyipitkan mata dan menelengkan kepala ke satu sisi, seakan-akan ini akan membantu ingatannya.
__ADS_1
Aku tersenyum sopan, berharap tadi pergi ke toko di luar kota saja. "Sepertinya tidak," jawabku, berharap ini sudah cukup.
"Kalian pernah masuk televisi? Oh, aku tahu, bukankah kalian yang ada di artikel-artikel yang sedang viral itu? Benar, kan?"
Tolonglah segera bosan dan lupakan saja, aku memohon, namun wanita berbalut setelan olahraga itu yang aku tidak tahu dia akan senam aerobik di mana -- jelas ia tidak berada di frekuensi telepati yang sama.
"Ya," kata Daddy. "Itu benar. Terima kasih sudah mengenali kami. Apa ada yang salah?" Dia mengeratkan genggaman tangannya dan memamerkannya pada orang-orang yang berada di sekitar kami -- orang-orang yang sedang mengantre di kasir.
Ibu itu hanya menggeleng. Tadinya aku mengira dia akan mencetuskan komentar buruk di depan wajahku. Ternyata tidak. Orang-orang yang seperti demikian itu hanya berani bercocot di belakang kami atau melalui tulisan-tulisanya yang tak bermutu di berbagai lapak sosial media tanpa takut ponselnya akan meledak dan jari-jemarinya ikut melepuh.
Setelah cukup lama kemudian dan aku merasa kenyang terhadap tatapan orang-orang di sekitar kami, kami pun kembali ke mobil. Aku duduk rapat di samping Daddy dan bersandar di bahunya yang kekar, kugenggam erat tangannya sambil berharap Pak Ujang tidak kepo dan menoleh ke belakang. "Terima kasih karena selalu menjadi tempat untuk aku bersandar. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu melebihi apa pun yang ada di dunia ini. Dan sudah menjadi kewajibanku untuk menjagamu, permata hatiku yang paling berharga."
__ADS_1
Aaah... agak berlebihan, sih! Tapi aku suka. Bicaranya sangat manis, apalagi ciumannya. Sungguh, aku sangat rindu. Rasa kangenku bertubi-tubi kepadanya, hingga aku berharap waktu cepat berlalu dan ia segera menjadi milikku -- seutuhnya, selamanya. Hanya milikku.