Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Panik


__ADS_3

Hidupku mulai tidak tenang gara-gara whatsapp dari Riko. Masalahnya, dia sudah tahu kalau aku ini sudah menikah, tapi dia masih punya niat untuk memiliki aku. Cowok dengan karakter yang seperti itu kemungkinan tak akan pernah berhenti sebelum obsesinya terwujud. Bukannya seperti itu yang sering disajikan di dalam novel atau di sebuah film romance? Ya, kan?


Tiara menatapku. "Lu kenapa?" tanyanya. Kami sedang dalam perjalanan pulang diantar Dinda dan supirnya. Mereka juga yang tadi menjemput aku dan Tiara ke acara perpisahan sekolah.


"Tidak kenapa-kenapa," kataku. Aku menatap ke luar jendela. Kami hampir sampai di rumahku. "Gue cuma mengkhawatirkan Daddy, apa dia sudah makan siang tadi."


Dinda yang duduk di kursi depan menolehku. "Daddy lu kan sudah biasa tinggal sendirian. Pasti bisalah mengurus dirinya sendiri. Atau order makanan dari luar, kan bisa."


"Lu bukan sedang memikirkan itu. Gue tahu," sela Tiara.


Tiara memang terbaik, dia paling mengerti, namun aku tak ingin melibatkannya dalam hal ini. Dia pasti kepingin mencari-cari Riko untuk melabraknya kalau dia sampai tahu. Jadi, aku hanya tersenyum.


Sejenak kemudian rumahku mulai tampak, dan aku benar-benar merasa lega. Pak Tono mengemudikan mobil memasuki jalan masuk rumah dan memarkir mobil. Kubuka kunci pintu dan kuletakkan satu tangan pada pegangan pintu. "Gue duluan, ya. Kalian hati-hati di jalan. Terima kasih atas tumpangannya." Aku membuka pintu dan turun dari mobil.


Mereka mengangguk, kemudian mulai melaju. Sementara mobil mereka keluar dari pagar dan mulai tak tampak, suara klakson motor menintin di sana. Nyaris saja aku terperanjat ketika menoleh dan mendapati Riko dan motornya yang bising nangkring di sana.

__ADS_1


Dia tidak menakutkan, yang menakutkan adalah caranya yang seakan sedang mengintaiku. Jelas saja aku merasa ngeri, ketakutan. Bukannya apa-apa, ini bukan soal menyangkut keberanian atau cemen. Tapi, mau dilihat dari sisi mana pun, aku hanyalah sosok perempuan yang tak punya keahlian bela diri, sedangkan Riko nampak seperti predator -- pemangsa perempuan.


"Daddy...," seruku sambil menggedor-gedor pintu dengan keras. "Daddy, bukaaaaa...."


Sejenak kemudian kudengar sahutan dari dalam. Daddy membuka pintu dan matanya nampak sangat merah. Sepertinya dia baru saja terbangun dari tidur gara-gara mendengar teriakanku yang memanggilnya dalam ketakutan.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


Ketika aku menoleh ke belakang, Riko dan motornya sudah tidak ada. Aku menggeleng ke arah Daddy, aku tahu wajahku pasti sangat pucat.


"Kenapa? Cerita," katanya agak keras. Dia menarikku ke dalam pelukan dan mengawasi sekitar rumah, tapi tak mendapati apa pun, lalu menarikku masuk ke dalam rumah. Kami duduk di sofa. "Ada apa?" tanyanya lagi.


Rileks, Kejora. Apa yang terjadi pada ibumu tidak akan terulang padamu. Tidak akan. Ini bukan trauma. Ketakutanmu adalah hal yang wajar.


"Minum dulu." Daddy menyorongkan segelas air padaku dan membantuku minum.

__ADS_1


Tapi tak jauh lebih baik. "Aku lemas," kataku. "Bisa tolong ambilkan pakaian ganti? Pakaian ini gerah."


"Tidak perlu ganti. Buka saja. Nanti kalau kamu sudah mendingan, aku bantu kamu mandi." Dia berlutut di hadapanku dan membantuku melepaskan seragam penuh payet kebanggan Dinda itu dari tubuhku. "Tadi kamu tidak makan siang?"


Aku menggeleng. "Makan, kok," sahutku lemah.


"Terus, kamu kenapa?"


"Cuma lemas, Daddy."


"Ya, kenapa?"


"Butuh istirahat. Bisa oleskan minyak telon ke punggungku?"


Daddy menuruti mauku tanpa banyak bicara lagi. Aku tahu dia menyembunyikan kekhawatirannya dan berusaha menunjukkan sikap tenang di depanku. "Nanti cerita, ya? Janji?"

__ADS_1


Kuhela napas dalam-dalam lalu mengangguk. Mencoba mensugesti diri sendiri bahwa segalanya akan baik-baik saja.


Aku akan cerita nanti. Tapi sekarang aku lemas. Aku butuh istirahat, sebentar saja.


__ADS_2