Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Bully


__ADS_3

Semester terakhirku di SMA awalnya berjalan dengan baik. Aku hanya menyibukkan diri dengan belajar dan membaca, juga belajar memasak. Selain ke sekolah, aku jarang keluar rumah, hanya sesekali dan itu pun hanya untuk menemani Oma ke rumah sakit untuk check up kesehatan, atau sesekali kami pergi belanja ke supermarket.


Satu bulan itu benar-benar berjalan dengan damai. Hari demi hari berlalu dengan cepat. Namun setelahnya, pada pertengahan Februari, masalah mulai datang kepadaku. Ini dimulai saat Riko menyatakan cintanya kepadaku pada hari valentine. Entah dia mendapatkan gagasan itu dari mana, tahu-tahu dia datang ke kelasku pada jam istirahat, persis pada saat siswa-siswi hendak keluar dari kelas, Riko masuk dengan setangkai mawar merah dan berlutut di hadapanku.


"Mawar untukmu, I love you, Kejora. Please, jadilah kekasihku."


Suara riak teman-teman sekelasku mulai bergemuruh. Mereka meneriakkan kata terima sebagai bujukan kepadaku supaya aku menerima cinta dari Riko.


Tenanglah, Kejora. Pikirkan alasan terbaik untuk menolaknya. Tidak dengan mempermalukannya apalagi menyakiti hatinya.


Aku mengingat pesan Oma, bahwa menyakiti hati seseorang yang menyatakan cintanya kepada kita, itu bisa memancing tindak kejahatan yang bisa membahayakan diri kita sendiri. Kita mesti hati-hati saat menolaknya. Harus sehalus mungkin.


Aku berdeham. "Maaf, Rik. Gue bukannya mau menyakiti hati lu. Tapi kan lu tahu sendiri kalau gue dilarang pacaran oleh Oma."


"Gue nggak masalah kalau kita backstreet."


"Sori, tapi gue rasa itu bukan ide yang bagus."


"Tapi gue juga nggak masalah kok kalau kita cuma ketemu di sekolah."


"Well, mungkin itu bukan masalah. Tapi kan kita semua tahu kalau lu pacarnya Sandra."


Dia menggeleng. "No! Bukan, Ra," bantahnya seraya berdiri.

__ADS_1


"Eh, maksud gue pacarnya Rhere."


"Dia juga bukan. Gue jomblo, kok."


"Rik, semua siswa tahu kok kalau lu pacaran dengan mereka berdua atau salah satu di antara mereka. Jadi gue nggak mau cari masalah dengan mereka."


Riko menyambar tanganku dan menggenggamnya erat-erat. "Sebagai cowok, gue bakal melindungi lu dari mereka. Jadi, please, terima gue, ya?"


"Sori, Rik." Kulepaskan tanganku darinya. "Gue cuma mau cari aman dan sekolah dengan tenang. Gue nggak mau kalau gue jadi bahan bully-an mereka berdua karena gue pacaran dengan gebetannya mereka. Gue harap lu mengerti. Permisi."


Aku buru-buru beranjak dari sana dan menyepi di perpustakaan. Dan sejak hari itu hidupku mulai tidak tenang. Persis dugaanku, Sandra dan Rhere yang tadinya bersaing ketat untuk mendapatkan cowok paling tampan di sekolah itu, sekarang mereka malah nampak bersekutu untuk menyingkirkan aku. Maksudku, mereka saling mendukung dan menjadi kompor meledug tatkala salah satu dari mereka menggangguku. Jadi, aku serasa diganggu oleh dua orang sekaligus. Yeah, meskipun ada teman-temanku yang bisa dikatakan melindungiku dan memberiku dukungan, tapi tetap saja, dua kuntilanak itu merusak mood belajarku.


Pada awalnya aku menganggap apa yang mereka lakukan itu seperti angin lalu, atau gonggongan anjing yang tak perlu kugubris karena mereka hanya menyindir-nyindirku ala anak ABG yang bersikap kekanakan. Tetapi, pada dua minggu setelah sindiran-sindiran yang mereka lontarkan itu tak pernah mempan, Rhere -- yang aku tidak tahu dia tahu dari mana, dia mulai mencetuskan hinaan kepadaku di depan banyak orang. Dia menyebut-nyebut statusku yang tak punya ayah kandung. Ini bukan sekadar hinaan yang ketika kau menjadi yatim karena ayahmu meninggal, tetapi -- lebih dari itu.


"Cuma cowok bodoh yang suka pada cewek yang tidak jelas asal-usulnya. Anak haram!" katanya.


Riko. Pasti dia. Tidak ada seorang pun yang tahu statusku, teman-temanku pun tidak ada yang tahu. Dan, apa tujuannya? Merasa sakit hati atas penolakanku?


Sabar, Kejora. Ini kenyataan, ini fakta, tidak perlu merasa terhina.


"Ra, apa itu benar?" tanya Melisa.


"Mel," tegur Tiara.

__ADS_1


"Benar," kataku sambil menahan tangis.


"Oh, gue baru tahu."


"Kenapa? Ada masalah? Kalian--"


"Tidak sama sekali," sahut Dinda cepat. "Itu bukan apa-apa. Kita ke perpustakaan saja, yuk?"


Aku mengangguk, tapi sebelum pergi dari sana aku sempat berpaling ke Rhere. "Itu benar. Cuma cowok bodoh yang suka dan mau pacaran sama gue. Dan cuma cewek-cewek bodoh juga yang suka pada cowok sebodoh itu. Jelas?"


"Sialan lu! Dasar anak haram!"


"Woy, Kunti! Jaga itu mulut!" teriak Tiara.


"Kenapa? Memang dia anak haram, kan?"


"Pergi ke musalla, gih! Sekalian umumkan pakai toa!"


Aku dan teman-temanku pun berlalu dari sana. Aku bersyukur, Dinda, Melisa, dan Tiara tidak memandangku dengan sebelah mata. Mereka tetap mau berteman denganku walau satu sekolahan seakan menatapku dengan hina saat mereka berpapasan denganku.


Tapi, bagaimana jika nanti Dinda dan yang lain tahu kalau aku dan Daddy akan menikah? Apa mereka akan tetap seperti sekarang, atau justru menilaiku buruk seperti siswa-siswi yang lain?


Atau mungkin terungkapnya statusku ini sebagai jalan supaya kelak aku bisa lebih tegar menghadapi pandangan orang-orang terhadap hubungan asmara antara aku dan Daddy? Antara anak dan ayah asuhnya?

__ADS_1


Kuhela napas dalam-dalam dan kucoba menguatkan diriku sendiri. Apa pun itu harus kuhadapi.


Tuhan, tolong berikan aku mental sekuat baja. Demi Daddy.


__ADS_2