
Setelah sarapan yang menjelang siang itu, Oma menyuruhku untuk mengepak beberapa helai pakaian, katanya Daddy akan mengajakku pergi ke suatu tempat. Sewaktu kutanya mau ke mana, katanya rahasia. Oma memintaku untuk tidak menanyakan apa pun dulu pada Daddy. Ikut saja katanya. Lalu, setelah makan siang mereka memintaku untuk istirahat. Kami akan berangkat nanti malam. Dan meski tanpa diberitahu, aku yakin aku akan diajak ke Surabaya. Sebab itu, Oma melarangku menanyakan apa pun. Aku yakin, pasti aku akan diajak ke Surabaya. Ke makam ibuku.
Yeah, aku tidak tahu kenapa, aku tidak pernah diajak ke makam ibuku. Alasannya karena jauh. Aku juga tidak punya foto ibuku. Kata Daddy, dia tidak punya foto mendiang ibuku. Dan aku juga belum diberitahu sedikit pun tentang masa laluku. Tapi Daddy pernah berjanji, nanti setelah aku sudah cukup dewasa dia akan menceritakan tentang asal-usulku. Tapi dengan satu syarat: aku tidak boleh bertanya.
Akhirnya setelah sekian jam, malam pun tiba. Sebelum pergi, kami berdua berpamitan pada Oma. Kupeluk dan kucium tangannya, plus tak lupa berpesan pada Bibi Sum untuk menjaga kesehatan, keteraturan makan, juga keteraturan minum vitamin untuk nenekku yang gaul tapi terkadang bandel perihal menjaga kesehatan untuk dirinya sendiri. Daddy pun melakukan hal yang sama. Setelah itu kami sama-sama keluar dari rumah, persis di saat Pak Ujang baru saja memasukkan koper kami ke belakang mobil.
"Pak Ujang ikut, ya?"
"Nggak, Non. Saya cuma nganter ke stasiun."
"Stasiun?" Aku terbelalak.
Ayahku nyengir. "Kamu kan tahu Daddy tidak suka pergi bawa-bawa kendaraan."
"Terus nanti di sana kita pakai apa?"
"Rental mobil temannya Daddy, Sayang."
"Oh, oke. Yang penting jangan naik-turun kendaraan umum sambil nenteng-nenteng koper, ya. Ribet...."
Ayahku baru hendak menyahut ketika suara seseorang menyela, "Kalian mau ke mana?" tanya Tante Sila yang baru saja turun dari boncengan Riko. Motornya yang bising terasa memekakkan gendang telinga.
"Tidak mau ke mana-mana, kok, Tant. Cuma mau manasin mesin mobil." Dengan berani aku mendelik ke ayahku supaya ia tidak berterus terang. Dan huffft... untung saja koper kami sudah masuk ke mobil hingga Tante Sila tidak sempat melihatnya.
Saat itu, Tante Sila memperhatikan pakaian kami dengan seksama. Nampak jelas kalau style kami dalam berpakaian menggambarkan kalau kami akan menempuh perjalanan jauh. Jaket tebal, sepatu, juga tas selempang yang kukenakan, terlebih tas ransel yang bergelantung di bahu Daddy.
"Kok Mas Gibran bawa-bawa ransel?"
"Ini...," ayahku hendak menyahut.
"Bukan apa-apa, Tante."
__ADS_1
"Kalian...?"
"Ayo, Dad. Kan nggak asyik kalau kita kemalaman."
Kutarik lengan Daddy dan membukakan pintu mobil untuknya. Ia pun lekas masuk dan aku pun duduk di sampingnya.
Tin! Tin!
"Bye, Tante... kita pergi dulu, ya...." Aku melambaikan tangan dan segera menutup pintu, lalu cekikikan. "Aduuuh... untung saja mereka tidak melihat koper kita, Dad. Maaf, ya... kalau Kejora terlihat seperti gadis kurang ajar."
Ah, dia tidak marah. Dan bagusnya ia tersenyum lalu mengusap puncak kepalaku. "Santai saja, Sayang. Daddy tidak akan mempermasalahkan soal itu," katanya. "Eh, kamu tadi tidur siang, kan? Daddy takut nanti kamu tidurnya tidak nyaman di kereta."
"Tenang... kan ada Daddy di samping Kejora. Kejora akan selalu nyaman, kok, kalau ada Daddy."
Eh, dia tertegun, lalu beringsut -- bergeser dariku. Padahal aku sudah bicara dengan sesantai mungkin. Kenapa sih, pikirku. Aku jadi bertanya-tanya dengan sikapnya yang kala itu seperti orang yang salah tingkah. Kalau kata teman-temanku, orang yang gelagatnya salah tingkah itu biasanya karena ia punya perasaan -- rasa cinta yang diam-diam bersemayam di hati.
Oh, Tuhan, pikirku saat itu. Kuharap ini tak seperti dugaanku -- tidak seperti yang sering diceritakan oleh teman-temanku. Please, jangan. Aku berdeham. "Dad? Kenapa?"
Dia menggeleng. "Nothing. Daddy tidak apa-apa."
Aku -- berusaha menyangkal apa yang sebenarnya mulai kuyakini. Aku ingin di antara kami tetap terjalin hubungan hangat antara ayah dan anak. Hanya sebatas -- ayah dan anak, yang saling menyayangi dan saling mengasihi satu sama lain. Kehangatan dan keharmonisan dalam ikatan keluarga. Hanya itu.
"Omong-omong, Daddy mau mengajakku ke Surabaya, kan?"
Ia mengangguk. "Tapi seperti kata Daddy, ya. Jangan tanya-tanya. Mengalir saja seperti air. Nanti ada masanya kamu akan mengetahui semuanya."
"Siap, Dad. Tenang saja. Kejora ikut aturan main dari Daddy."
Dan... setelah beberapa menit, kami pun sampai di stasiun. Setelah turun dari mobil, aku mengekori Daddy. Awalnya agak ngos-ngosan. Dia sengaja mengerjaiku dengan berjalan cepat di depanku. Setelah aku menyerah mengejar langkah kakinya, aku pura-pura ngambek dan ia tertawa sampai ngakak. "Ayo, kita jalan lagi. Daddy bakal jalan pelan-pelan."
"Awas, ya, kalau Daddy jahil lagi," rengekku. Kutarik lagi tangkai koperku dan kembali melangkahkan kakiku.
__ADS_1
Ia tersenyum. "Iya, Sayang. Tuh, Daddy jalan pelan, kan?"
Huh! Iya sekarang, lah tadi? Nggak ibu, nggak anak, kok sukanya jahil. Dasar....
Huft, untung tidak butuh waktu lama, kami segera menaiki kereta, dan dalam waktu beberapa menit, kereta pun meluncur. Kurasa perjalanan malam ini pasti indah. Tentu saja, aku super girang karena aku belum pernah diajak bepergian. Dan kalau aku meminta izin untuk pergi liburan bersama teman-temanku, Daddy dan Oma tidak pernah mengizinkan. Apalagi Oma. Uh, tanduknya akan keluar kalau aku berani izin bepergian jauh. Yeah, yeah, aku tahu itu mereka lakukan karena mereka sangat sayang kepadaku.
"Daddy pernah pergi naik kereta malam-malam begini? Dari Jakarta ke Surabaya? Eh," aku menyadari sesuatu, "jag gijag gijug, dong?"
Dahi Daddy mengernyit. "Apa itu?"
Hah! Yang beda generasi, dia tidak paham lagu dangdut itu. Padahal itu juga lagu lama.
"Maaf, Dad. Itu lirik lagu dangdut."
"O ya? Bagaimana lagunya? Coba nyanyikan."
"Beeeh... ogah...! Malu ih!"
"Lo, tidak apa-apa, Sayang."
"Emoh aku...."
"Oke."
"Jadi, jawab dong...."
Ia tersenyum. "Sering, tapi dulu. Semasa Daddy kuliah di Malang. Pulang pergi Daddy selalu naik kereta. Malam-malam begini."
Aku manggut-manggut, lalu memandang ke sekeliling. "Kalau kita ketiduran, aman, kan, Dad? Maksudku... tidak ada yang bakal jahil atau menjarah barang-barang kita, gitu?"
"Aman, Sayang. Lagipula di sini kan ada Daddy. Daddy akan menjagamu semalaman."
__ADS_1
Ya ampun, tentram sekali rasanya hatiku mendengar ucapan Daddy yang sederhana itu. Oh Tuhan... betapa aku sayang padanya.
"Thank you, Dad. I love you...."