Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Gerah


__ADS_3

Siang berikutnya ketika sedang menyiapkan makan siang yang baru saja diantar oleh juru masak perkebunan, yang bisa kupikirkan adalah Daddy yang sedang menyiapkan Choky dan Tamara, juga kegiatan berkuda yang ia janjikan setelah makan siang ini. Daddy sibuk dengan pekerjaannya setelah kami berkuda kemarin. Meski ia tidak pergi jauh dan hanya berada di sekitar pondok, aku tidak berada di dekatnya dan tak mencampuri kesibukannya. Justru kebalikannya, aku bersantai di kamarku dan menelepon nenekku tersayang di Jakarta. Aku tak pernah meneleponnya sendiri selama aku pergi, kami hanya bicara melalui sambungan telepon dari ponsel Daddy. Katanya kabarnya baik, tapi Bibi Sum menyampaikan laporan kalau orang tua gaul itu bandel. Dia banyak mengonsumsi minuman dan makanan dengan kadar gula yang tinggi setiap kali Tante Sila datang dan mengajaknya nongkrong cantik di teras rumah dan membawakan camilan serba manis itu. Aku jadi khawatir meninggalkannya lebih lama. Tetapi, kalau kami pulang, itu berarti selesai kebersamaanku bersama Daddy. Lebih tepatnya -- kemesraan itu akan cepat berlalu.


Hmm... dengan sedikit sebal, kutegur nenekku tersayang itu via telepon. Katanya, ia tidak enak kalau tidak mencicipi makanan yang dibawakan oleh Tante Sila.


"Oma tidak makan banyak, kok. Cuma cicip sedikit-sedikit."


"Bohong," kataku. "Aku tidak percaya. Oma jangan ngeles."


"Kamu ini, ya, sama persis dengan Daddy-mu. Dasar cerewet."


Lah... malah kena omel.


"Jangan pikirkan Oma. Habiskan saja liburan kalian dan bersenang-senanglah di sana."


Idem. Dia sungguh bandel.


Sekarang, setelah makan siang, sambil duduk di meja makan di depan Daddy, aku memberanikan diri membahas tentang masa lalu itu. Awalnya Daddy menolak, tapi kukatakan padanya kalau aku akan baik-baik saja, terlebih nanti aku akan berlatih berkuda untuk menghibur diri.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Tentang para pelaku itu. Apa mereka...?"


"Satu orang tewas dikeroyok massa. Satunya meninggal di penjara sebelum kamu lahir. Dan satunya, mungkin sudah bebas beberapa tahun lalu. Just it. Hanya itu yang Daddy tahu."


Aku mengumpat "berengsek" dalam hati. Enak sekali pikirku, dia hanya dipenjara selama beberapa tahun dan bisa kembali bebas menghirup udara segar.


"Dia sudah menjalani hukumannya, Sayang. Sudah menjadi haknya untuk kembali bebas. Sekarang--"


Aku menggeleng. "Dia sudah melecehkan seorang perempuan. Dan karena dia ibuku meninggal."


"Ibumu meninggal karena pendarahan pasca lahiran. Bukan jadi korban pembunuhan."


"Tapi kalau ibuku tidak mengalami pelecehan, dia tidak akan hamil. Dia juga tidak akan meninggal."

__ADS_1


"Takdir. Dan jangan menyalahkan Tuhan. Ibumu sudah di surga karena dia bisa menerima kenyataan dan menjalani kehidupan dengan ikhlas. Dan ingat, dia meninggal karena melahirkan. Tuhan pasti menempatkannya di surga. Sekarang giliranmu, ikhlaskan semuanya. Oke? Kendalikan dirimu."


Aku menunduk, kuhela napas dalam-dalam lalu mengangguk. "Aku bereskan dulu mejanya. Daddy bisa tunggu dulu di depan?"


"Kenapa kalau Daddy di sini?"


"Daddy... please...," rengekku.


"Oke, oke. Daddy tunggu di depan. Jangan lama, ya. Dan jangan melamun."


Syukurlah, ia meninggalkanku sendiri. Aku butuh waktu sebentar untuk mengendalikan diri sembari membersihkan meja dan mencuci piring. Ketika aku selesai, aku malah mendapati Daddy tertidur di kursi depan.


Aku tak percaya. Masa dalam durasi waktu yang hanya sebentar itu ia sudah tertidur? Karena rasa tidak percaya itu aku menghampirinya. Kulambaikan pelan tanganku di depan wajahnya dan memanggilnya dengan pelan. Lalu...


"Eh?"


Dalam gerakan cepat ia menarikku hingga aku tertelungkup di atasnya. Ia mendekapku bagaikan sebuah guling yang empuk. "Daddy ngantuk. Biar Daddy tidur sebentar, ya," katanya.


"Ssst... bisa diam?"


"Baiklah, baiklah. Oke."


"Kejora."


"Emm?"


"Kendalikan debaran jantungmu."


Ya Tuhan... bisa-bisanya ia melontarkan kalimat itu dengan begitu enteng. Aku berdeham. "Makanya Daddy jangan peluk aku begini."


"Memangnya tidak nyaman?"


"Nyaman, sih. Tapi...."

__ADS_1


"Jangan protes. Kendalikan saja debaran jantungmu."


Hmm... pria dewasaku ini. Aku jadi bertanya-tanya, seandainya aku berpacaran dengan cowok seumuranku, bagaimana gaya berpacarannya? Apa seperti ini juga? Tapi setelah itu aku sadar, mana berani aku pacaran. Oma akan menjewerku kalau aku sampai ketahuan punya pacar.


Eh? Apa dia sengaja melarangku pacaran demi menunggu waktu bersama anaknya ini?


Segera kutepis pemikiran aneh itu. Tidak mungkin, jatuh cinta dan perasaan itu sama sekali tidak bisa direncanakan. Sudahlah, pikirku. Kulipat lengan kiriku di atas dada bidang Daddy, dan menumpangkan kepalaku di atasnya. Sementara tangan kanan... aman dan nyaman di bahunya yang kekar.


"Kejora, Sayang," panggil Daddy. "Bangun, yuk?"


Ah, sialan. Aku malah ikut tertidur nyaman di atasnya. Tak terasa hampir dua jam berlalu.


"Sudah sore. Jadi mau latihan berkuda?"


"Sebentar," kataku. Mataku masih terpejam dan nyawaku belum terkumpul semua.


"Nyaman banget, ya, sampai kamu tidurnya nyenyak sekali?" tanyanya seraya mengelus kepalaku.


"Hu'um. Sangat nyaman. Lebih nyaman dari tempat tidurku di rumah." Kubuka mata dan senyumku mengembang.


Beberapa saat kemudian, aku beringsut bangun, lalu disusul Daddy yang kini duduk di sebelahku, dan tahu-tahu dia mengecup pipiku. "Sayang kamu," bisiknya.


Aaaaah... lagi-lagi aku bagaikan es krim yang meleleh.


"Me too," kataku seraya menoleh dan tersenyum. Aku sangat menyadari tangan Daddy yang besar menggenggam tanganku. Kedekatan Daddy memorakporandakan sarafku. Dan keheningan yang terjadi membuatku gelisah dan memaksaku memutar otak mencari sesuatu untuk diobrolkan, tetapi tidak berhasil. Aku bahkan lupa dengan rencana kami yang akan berkuda. Dan sekarang, jantungku semakin cepat ketika ia perlahan-lahan mendekat.


Dan menciumku.


Otakku kembali kosong begitu bibir Daddy menyentuh bibirku. Dan persis di saat itulah ponsel Daddy berdering.


"Maaf mengecewakanmu," bisiknya. "Kita akan melanjutkannya lagi nanti."


Astaga... kata-kata itu membuatku tegang. Cuaca mendadak terasa gerah karena bisikan Daddy yang panas. Dia mulai patut mendapat julukan sebagai Hot Daddy masa kini.

__ADS_1


__ADS_2