
Empat puluh hari kemudian....
Di bawah langit sore yang indah, aku duduk manis di undakan sambil menggendong bayi kecilku, Bintang Aditama, di depan dada, tatapanku terpaku pada Daddy yang menghela kuda jantan miliknya itu untuk berderap. Kedua makhluk itu merupakan pemandangan yang luar biasa, kuda jantan yang tegap dan pria yang tampan dan gagah.
Aku tidak pernah bosan memandangi mereka. Kuda jantan itu bergerak dengan santai, di bawah bimbingan tekanan kaki Daddy dan isyarat tubuh yang tidak kentara. Sementara di dalam pelukanku, bayi mungilku yang tampan tertidur dengan lelap. Sama seperti ayahnya, dia begitu memikat bagi setiap mata yang melihat.
Yeah, empat puluh hari sejak kelahiran putra pertamaku, itu merupakan saat-saat terbaik, paling membahagiakan, dan paling menggembirakan di sepanjang hidupku.
Saat ini aku sudah memiliki ketenangan hidupku. Bahkan, untuk rasa bersalahku terhadap Pak Fikri, sudah nyaris tidak ada lagi. Sebab, aku melakukan berbagai cara untuk membuat perasaanku menjadi lebih baik. Setidaknya, sekali seminggu aku meminta Pak Ujang untuk mengunjunginya ke lapas, membawakannya makanan yang enak, dan tak pernah lupa untuk melakukan panggilan video denganku, juga dengan anakku. Meski hidupnya terkurung di lapas, namun aku bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Pak Fikri. Dari matanya aku bisa melihat kasih sayang seorang ayah, juga kasih sayang seorang kakek untuk anakku. Bahkan katanya, dia selalu jadi tidak sabar untuk menunggu hari jumat, di mana setiap jumat siang Pak Ujang akan datang ke sana dan meminjamkan ponselnya. Selain itu, sejak aku memberitahunya bahwa aku sudah melahirkan, dia meminta izinku untuk menyimpan foto anakku. Dia meminta untuk dicetakkan. Kalau diizinkan katanya.
"Tidak apa," kata Daddy. "Mungkin lebih baiknya lagi foto Bintang bersamamu. Bintang Kejora. Aku mengizinkan."
Ya Tuhan, dia pria berhati malaikat. Karena kebaikan hatinya, kata Pak Ujang sewaktu mengantarkan hasil cetak fotoku bersama Bintang, mata Pak Fikri sampai berkaca memandangi foto itu. Entah kenapa aku yakin, jauh di dalam lubuk hatinya, ia meyakini bahwa aku memang darah dagingnya, dan Bintang adalah cucu kandungnya. Tapi, yeah, kebenaran itu akan tetap menjadi rahasia yang tak akan pernah terungkap sampai kapan pun. Itulah yang terbaik.
Dan hari ini, di bawah batang pohon besar yang rindang, aku berjalan menghampiri Daddy saat ia turun dari kudanya, ia melepaskan tali-temali dari kuda jantan itu. Daddy menjatuhkan pelana ke atas bangku yang terbuat dari bambu, menyampirkan selimut di atas pelana, memasang tali kekang di ujung pelana, lalu menarikku ke dalam pelukan.
__ADS_1
"Hai, Jagoan," sapa Daddy pada putra kecil kebanggaannya. "Tidurlah yang nyenyak."
Aku tersenyum. "Kurasa dia sudah benar-benar terlelap. Aku baru saja menyusuinya, dan dia akan anteng selama beberapa jam. Dia nyaman dalam pelukanku."
Daddy menatap putranya yang tertidur pulas di dadaku. "Ya," katanya dengan nada datar. "Aku kira begitu."
"Tapi?"
"Tapi sekarang ayahnya butuh sedikit perhatian."
"Oh... perhatian seperti apa? Apa ayahnya lapar?"
Aku tergelak. "Baiklah, mau makan apa? Biar kubuatkan. Hmm?" kataku, berpura-pura tidak mengerti dan bersusah payah menahan tawa.
"Jangan berpura-pura, Kejora," kata Daddy sambil mengulu* daun telingaku. "Aku merindukan kehangatanmu. Dan aku akan coba membuat waktumu berharga."
__ADS_1
Lagi, aku terbahak-bahak. "Baiklah. Bagaimana aku bisa menolak tawaran seromantis itu? Tentu, aku bersedia."
Well, setelah masuk ke dalam pondok dan menaruh si Bintang kecil ke dalam boks tidurnya, Daddy yang baru menyusulku ke kamar langsung melingkari tubuhku dengan kedua lengan kokoh miliknya.
"Aku kangen sekali padamu," kata Daddy, kemudian ia menyurukkan kepalanya ke leherku. Dan, dalam detik berikutnya, tubuhku sudah terhimpit dinding bersamanya yang mendekapku dengan sepenuh hasrat.
Yeah, empat puluh hari penuh penyiksaan bagi sisi kelelakiannya. Empat puluh hari tanpa penyatuan yang ia tahan karena keadaan, hari ini mesti ia tuntaskan dengan penuh kemenangan.
Tapi ia mesti berhati-hati. Selain karena bekas jahitan operasi cesar-ku yang masih rentan, surga kenikmatan miliknya ini juga seolah mengalami penyempitan.
"Akhirnya hari ini tiba juga." Daddy mengusapkan ujung telunjuknya ke bibirku, lalu menelusur ke bawah menuruni lekuk leherku dan berhenti di ujung ritsletingku, kemudian menurunkannya. Seraya menangkupkan tangannya di dada, mata kelamnya membara, menatapku penuh gairah. "Aku akan melakukan yang terbaik. Dengan perlahan tanpa menyakiti."
Aku tersenyum. "Aku tahu, dan aku percaya padamu."
"I love you, My Beautiful Kejora. Kau Bintang terindahku."
__ADS_1
Dan kau adalah satu-satunya cinta dalam hidupku. I love you more, Daddy....
Yeah, inilah kisahku: Kejora Aditama, Beautiful Kejora milik Gibran Aditama. Aku menemukan suami, dan cinta sejati dalam sosok ayah asuhku. Dia suami, dan teman hidupku yang terbaik. Seseorang yang menerimaku, tanpa peduli pada kelamnya masa laluku.