Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Mendamba


__ADS_3

Berpegangan pada setang sepeda yang kutunggangi, aku bersiap menemani Daddy menjajali hobi olahraganya yang cukup ekstrim ini. Si pria tampan itu mengencangkan helm bersepedanya lalu mengenakan sarung tangan. "Well, ini akan menyenangkan."


"Akan lebih menyenangkan kalau ada hadiahnya," kataku.


Daddy mengernyit. "Hadiah?"


"Mmm-hmm... untuk sang pemenang lomba."


"Waw! Ada yang menantang rupanya."


"Berani?"


"Siapa takut! Siap-siap memberikan hadiah."


"Jangan terlalu percaya diri, Daddy."


Kubenahi penopang lutut di tungkai kiriku, sementara Daddy mengambil botol air yang terjepit di kerangka sepedanya. Bagus, dia membuka botolnya dan menuangkan air itu ke mulutnya. Di saat itulah kuputuskan untuk mengambil kesempatan.


"Bersiaplah dengan hadiahmu, Daddy...!" seruku dari balik bahu sambil mengayuh cepat-cepat melintasi dasar hutan yang diseraki ranting-ranting kecil dari pepohonan di atas jalan yang kulintasi, merasakan desir angin segar pada wajahku.


Aku percaya diri bahwa akulah yang akan memenangkan perlombaan ini.


"Oi!" kudengar dia berteriak memanggilku. "Baiklah, Sayang, silakan kalau mau bermain curang!"


Kami melesat melalui medan lintasan yang berliku-liku, menghindari cabang-cabang pohon yang menggantung rendah dan akar yang mencuat ke lintasan, berusaha menangani lintasan dengan terampil. Namun sayangnya di depanku ada genangan air yang membuatku tergelincir dan jatuh bak seekor kerbau dalam kubangan. Aku baru saja bangkit saat Daddy berhasil mendahuluiku, bukannya berhenti untuk menolongku, ia malah tertawa penuh kemenangan saat melakukannya.


"Bersiaplah dengan hadiahmu, Kejora!" serunya.


Tidak bisa. Aku yang harus jadi pemenang. Aliran adrenalinku memabukkan saat aku buru-buru kembali ke sepeda dan mengayuh mengejarnya.

__ADS_1


Di depan, jalanan bergeronjal dengan akar-akar pohon kecil namun banyak, ini membuatku mampu mengejar Daddy. Jarakku tinggal beberapa senti dari roda belakangnya, namun dia berhasil tetap berada di depanku.


"Aku tidak akan membiarkanmu menang, Sayang!"


Senyum Daddy menerangi hutan lebih jelas dibanding lampu sorot saat bersepeda di malam hari. Dia menemukan cadangan energi entah dari mana lalu membuat jarak ke depan dariku, tertawa-tawa seperti orang gila sambil menoleh ke belakang dari balik bahunya.


Kesalahan! Tepat pada saat itu dia tidak melihat akar yang cukup besar tepat di depannya, roda depan sepeda menghantamnya dan membuat Daddy berjumpalitan melewati setang dan mendarat sekaligus tergelincir beberapa meter di lintasan becek tepat di bokongnya. Pemandangan itu begitu menggelikan sehingga aku terbahak, merasakan kemenanganku sudah dekat.


Tapi sayang, genangan air itu ternyata sangatlah licin hingga aku pun kehilangan keseimbangan dan ikut tergelincir beberapa senti dari tubuh Daddy yang kehabisan napas namun tertawa-tawa.Terguncang karena tawa megap-megap, aku berbaring di tanah selama beberapa waktu, punggungku protes keras.


Ketika tawa kami reda, Daddy menarik dirinya tegak, menawariku tangannya dan menarikku berdiri. "Kamu baik-baik saja?"


Kuperiksa diriku baik-baik, dan aku baik-baik saja. Selain celanaku yang luar biasa kotor, kurasa aku selamat dari jatuh ini. "Ya. Aku baik-baik saja, Dad. Terima kasih."


Dia menyunggingkan senyum. Kami mengambil sepeda masing-masing dan menyeretnya ke bawah pohon besar yang rindang. "Istirahat dulu, Sayang," katanya. Dia mengambil botol air, lalu menyandarkan sosoknya yang tinggi di batang pohon itu, dia mereguk air minumnya beberapa kali. Sementara aku melepaskan topi bersepedaku, lalu mengeluarkan ponselku dari tas pinggang, dan merekam diriku sendiri dengan latar belakang pemandangan yang indah. Dengan pepohonan tinggi nan megah menjulang dari dedaunan hijau rimbun, hutan di sekitar kami menakjubkan baik dalam penampilan maupun ukuran -- membentang ke segala arah sejauh mata memandang. Dan tahu-tahu, Daddy mengecup pipiku.


"Seandainya menang, kamu menginginkan hadiah apa?" Daddy bertanya.


Aku menggeleng.


"Katakan," kata Daddy. "Walaupun kamu tidak menang, mana tahu aku akan memberikannya."


Kuhela napas dalam-dalam lalu aku menatapnya. "Aku mau minta uang, untuk... emm... aku mau mewarnai rambutku."


"Untung kamu kalah."


"Tuh kan... ini kan libur semester, Daddy. Nanti--"


"Aku suka rambutmu yang hitam alami. Oke? Jangan membantah."

__ADS_1


"Nanti bisa kuhitamkan lagi...," rengekku. "Hanya untuk beberapa hari selama libur, please...."


Dia tetap menggeleng. Aku tahu, aku tak akan mungkin mendapatkan izin untuk itu. Setidaknya aku sudah mencoba mengatakannya.


"Jadi, bagaimana dengan hadiah untukku?"


"What? Memangnya--"


"Aku berada di depan, dan kamu belum melewatiku."


Hmm... salahku curang di awal hingga dia pun bisa menetapkan aturannya sendiri. "Baiklah. Nanti akan kupikirkan," kataku.


"Apa kamu tidak mengizinkanku meminta?"


Deg!


Jantungku berhenti. Kuakui otakku berpikir kotor karena kami hanya berdua di tempat yang sesepi ini. "Tidak boleh," kataku. "Biar kupikirkan sendiri. Oke?"


"Kuharap itu sesuatu yang spesial." Mata hitamnya bergeming.


Kelekatan tatapannya membuatku agak tidak nyaman. Aku memalingkan wajah. "Hmm... mudah-mudahan, ya. Pokoknya akan kupikirkan." Aku kembali menoleh untuk menyambut tatapannya. "Pulang, yuk? Kita kotor begini."


Dia mengangguk dan seulas senyum lembut merekah di bibirnya. Sambil mengangkat tangan, dia membersihkan kotoran dari pipiku dengan gerakan terampil, tatapan mata hitamnya tidak pernah lepas dari tatapanku. Napasku jadi agak lebih cepat ketika jari-jarinya bersemayam dengan lembut pada lekuk tulang pipiku, dan aku dapat melihat kembang kempis dadanya yang tampak jelas membalasku. Sekonyong-konyong, seakan-akan seluruh hutan dipenuhi percikan listrik, saat suatu kekuatan tak kasat mata mulai menarik kami mendekat, perlahan-lahan... dan...


Entah bagaimana, aku mendapati diriku terhimpit di antara batang pohon dan tubuhnya yang kekar. Dalam dekapan lengannya, dalam panas ciumannya, dan deru napasnya yang hangat menyapu wajahku dan membuaiku dalam kemesraan. Ada gairah yang menyala liar.


Aku tahu, bagian dirinya sangat mendamba. Ada hasrat yang tertahan dan aku merasakannya ketika ia menekankan tubuhnya padaku sebelum akhirnya ia melepaskan diri dariku. Dia mundur. "Ayo, pulang," katanya dengan suaranya yang serak.


Aku bingung, mesti kecewa, atau justru lega? Aku tahu, aku pun sama mendambanya seperti apa yang ia rasakan.

__ADS_1


__ADS_2