
Daddy menemukan meja kosong di luar dan membiarkanku di sana sementara ia kembali ke dalam untuk mencari makanan. Aku pun duduk bersandar di kursi, menikmati keindahan malam. Langit dihiasi berjuta bintang. Bulan yang nyaris bulat sempurna tersenyum kepada kami. Udara dipenuhi suara jangkrik, musik, dan tawa.
Hanya sebentar, Daddy kembali dari dalam dengan beberapa potong kue cokelat, pai apel, dan cangkir berisi jus strawberry. "Semoga ini cukup," katanya.
"Pasti," kataku. Dia memang selalu ingat kalau aku penggila cokelat. Kulahap sepotong cokelat dan mend*sah senang. Cokelat itu sangat nikmat dari jenis yang berkualitas. Aku sangat menikmati cokelat itu, sementara Daddy duduk di hadapanku dan memotong potongan pai apelnya. Ia menatapku dan tersenyum. Lalu...
Ia mengulurkan garpunya kepadaku. "Mau mencicipinya?"
Ah, gagasan memakan dari garpu dan suapan Daddy jauh lebih menggoda daripada painya.
Kenapa tidak, aku mencondongkan tubuhku ke depan untuk menerima tawarannya. Tetapi... huh! Daddy tidak bisa mengalihkan tatapannya dariku sementara mulutku menutupi garpu. Dan ketika aku menjil*t bibirku, ia memalingkan wajahnya.
Sadar dengan reaksi Daddy, aku mengelap mulutku dengan serbet, bertanya-tanya kenapa malam ini cuaca berubah panas. Kuraih gelasku dan meneguk minumanku lama-lama, berharap minuman itu bisa menenangkan diriku dan meredakan lilitan di perutku.
Dan akhirnya, kami menghabiskan kue cokelat dan pai itu dalam keheningan, dan segera kembali ke ruang resepsi setelah perut kami lumayan kenyang.
"Mau berdansa?" tanya Daddy.
Aku melirik para pasangan di lantai dansa, lalu ke hak sepatuku yang kuperkirakan lebih dari sepuluh senti.
__ADS_1
"Tenang saja, tanganku akan selalu sigap melindungimu."
Gleg!
Aku tahu kedua tangan itu yang selalu menjagaku dan melindungiku bahkan semenjak aku lahir. Tapi mendengar Daddy mengatakannya sekarang, jantungku jadi jumpalitan dan ingin melompat keluar.
Aku mengangguk. Daddy pun menggandeng lenganku dan menuntunku ke lantai dansa.
Ini... sungguh tidak terpikirkan. Kami berdansa di antara banyak orang yang walaupun aku tahu tidak semua orang memerhatikan Daddy, tapi tetap saja aku sangat gugup. Aku berusaha memusatkan perhatian, tetapi hal itu tidak mudah. Belum lagi, aku sangat menyadari tangan Daddy yang besar itu menggenggam tanganku. Tubuh Daddy menempel rapat padaku, dan lengannya solid di sekeliling pinggangku. Lagi, kedekatan ini memorakporandakan sarafku. Aroma parfum Daddy yang beraroma kayu menggoda hidungku. Dan, aku juga sangat menyadari otot-otot keras di punggung Daddy yang mana otot itu bergerak di bawah telapak tanganku. Napas Daddy berembus pelan di pipiku. Dan mata pria dewasa itu... matanya sehangat dan segelap hot fudge, seperti belaian intim ketika ia menunduk menatapku.
Lagi-lagi aku gelisah dengan keheningan yang ada di antara kami. Ayolah, Kejora, kau suka membaca novel dan menonton film. Anggap saja ini adegan dari buku yang sering kau baca atau adegan di dalam film yang kau tonton. Katakanlah sesuatu.
Oh Tuhan... lagi-lagi jantungku seakan berhenti berdegup ketika sepasang mata hitam itu menatap mataku.
Itu merupakan adegan yang sudah kubaca dan kutonton entah sudah berapa kali -- sang tokoh wanita berdansa dengan pahlawan bertubuh tinggi, berkulit putih, dan tampan. Kalau ini salah satu adegan dari karya-karya fiksi itu, si pria pasti sudah mencium tokoh wanita itu sekarang.
Tetapi ini kenyataan, yang terjadi justru lebih dari apa yang bisa dijabarkan oleh seorang penulis mahir sekalipun. Dan... aku menatap mata Daddy, debar jantungku semakin cepat ketika dia menunduk. Dia...
Dia menciumku.
__ADS_1
Aaaaah... hatiku menjerit-jerit. Aku gemetarrrrr... dahsyat!
Segalanya jadi hilang. Sentuhan bibir Daddy membuat musik, orang-orang, semuanya seakan tak ada lagi di sekitar kami. Hanya ada aku, dan pria yang sedang memelukku saat ini.
Aroma jantan Daddy membiusku. Lengannya di sekeliling pinggangku mantap dan kuat, tetapi juga lembut. Dan bibirnya... hangat, manis... dan... nikmat. Senikmat cokelat bercampur pai dan strawberry. Sumpah demi apa pun, ciumannya selalu memabukkan. Dan kemudian...
Ya Tuhan!
Ini memalukan. Pasangan-pasangan lain membubarkan diri dari lantai dansa dan malah fokus menonton kami. Aku merasa pipiku terbakar ketika menyadari suasana di sekeliling kami. Suara tepuk tangan menyusup ke dalam telingaku yang berdengung.
"Daddy," gumamku menahan malu.
Ia tersenyum, meraih tanganku dan menggandengku, menyingkir dari lantai dansa itu. "Rileks," katanya setelah kami keluar lagi dari gedung. Ia merangkulkan tangannya mengelilingi pundakku dan mengelus bahu. "Semuanya akan baik-baik saja. Mereka akan menganggap tidak ada salahnya suami istri saling berciuman seperti tadi. Sekalipun itu di tempat umum."
"Ya, tapi kan...."
Suara desisan terdengar dari bibirnya. "You are mine. Istriku tersayang."
Calon, Daddy... baru calon!
__ADS_1
Haddeh! Kumat terus gesreknya.