
Tetapi kenyataan tak sesuai harapan. Tepat pada hari pembagian raport sebelum libur semester, Oma jatuh sakit. Waktu itu aku sudah siap-siap berangkat ke sekolah, tapi kadar gula Oma yang tinggi membuatnya mesti dilarikan ke rumah sakit. Dia jatuh pingsan dan ada memar di sisi kepalanya akibat terjatuh dan menghantam tepian bak kamar mandi. Dengan bantuan Pak Ujang, aku segera membawa Oma ke rumah sakit.
Setelah masuk ke Unit Gawat Darurat dan mendapatkan tindakan medis, aku langsung mengabari Daddy dan memintanya agar segera pulang. Setelah itu, tidak ada yang bisa kulakukan selain mondar-mandir, yang hanya membuatku semakin gelisah.
Beberapa saat kemudian, Daddy mengabarkan kalau ia sudah mendapatkan tiket untuk pulang. Namun, karena mendadak, ia mendapatkan tiket penerbangan jam sembilan pagi. Sementara, aku mesti pergi ke sekolah. Pengambilan raport-ku pada jam yang sama dan tidak bisa kuwakilkan kepada teman-temanku.
Sambil berpikir, aku memandang ke sekeliling ruangan. Jam dinding berbentuk bulat menunjukkan waktu sudah jam setengah delapan. Televisi, yang ditempatkan di rak di sudut ruangan, dinyalakan di acara infotainment pagi, suaranya dipasang begitu rendah sampai tidak terdengar. Jujur saja aku tidak suka rumah sakit, aku tidak suka bau antiseptik, dan lebih tidak suka lagi jika mendapati pasien terluka parah akibat kecelakaan yang baru saja dilarikan dengan ambulans. Aku takut melihat luka yang berlumuran darah. Ngeri sampai merinding rasanya.
Aku menarik napas dalam-dalam. Dan mengatakan pada diri sendiri bahwa ketakutan yang berlebihan itu tidaklah bagus. Kemudian, aku menggerutu dalam hati, untuk apa memasang televisi jika hanya menampilkan gambar tanpa suara? Menyia-nyiakan energi listrik.
Setelah beberapa saat yang rasanya seperti selamanya, tetapi mungkin tidak lebih dari satu jam, sang dokter keluar dari ruangan.
Aku langsung berdiri. "Bagaimana keadaan Oma saya, Dok?"
__ADS_1
"Pasien mengalami gegar otak ringan karena benturan di kepala yang dialaminya. Jadi beliau mesti dirawat inap selama beberapa hari, sampai keadaannya membaik dan kadar gulanya kembali normal."
Setidaknya itu tidak terlalu gawat, pikirku setelah melihat reaksi dokter yang bisa dikatakan biasa saja, dan -- bukan karena mendengar penjelasannya yang aku tidak mengerti seberapa buruk gegar otak yang dialami Oma. Apa "ringan" itu berarti tidak apa-apa? Seringan namanya, begitu?
"Saya boleh melihatnya, Dok?"
"Tentu, silakan."
"Terima kasih."
Sudahlah. Yang penting sekarang semuanya terurus.
Setelah Oma dipindahkan ke ruang rawat, aku menghubungi Daddy lagi, mengabarkan tentang kabar terbaru mengenai kesehatan ibunya dan juga memberitahunya kalau ia sudah dipindahkan ke ruang rawat. Dalam sambungan telepon itu Daddy mengabarkan kalau ia sudah di pesawat dan sebentar lagi akan lepas landas. Itu berarti sudah jam sembilan, pikirku.
__ADS_1
"Aku mesti ke sekolah, Daddy. Mengambil raport. Aku pergi sendiri tidak apa-apa, ya? Biar Pak Ujang yang menjaga Oma."
Daddy diam agak lama. Pasti ia tengah kebingungan karena dia tidak pernah mengizinkanku pergi sendiri tanpa pengawasan.
"Aku bisa pesan taxi online, kok."
"Yakin kamu bisa sendiri? Aku khawatir nanti kamu...."
"Tidak akan terjadi apa-apa, pasti. Aku sudah besar. Sebentar lagi jadi istri, ya kan? Istrimu."
Kudengar ada tawa di seberang sana. Lumayan, penghibur hati kami yang tengah gundah gulana. Dan aku tahu, tak akan ada malam tahun baru di Malang, tapi, meskipun begitu, yang terpenting Oma sehat, dan Daddy tetap akan pulang. Dia akan tetap ada di sisiku di malam pergantian tahun nanti.
Tapi... itu tidak penting juga. Bukan malam pergantian tahun itu yang kunantikan. Tetapi dirinya. Si pria dewasa itu. Kekasih yang kurindukan selama enam bulan penantian. Dia, pelukannya, dan ciumannya yang hangat. Akan seperti apa nanti saat pertama kali kami bertemu?
__ADS_1
Ah, kau ini, Kejora...! Ibunya sedang sakit, mana mungkin dia akan terpikir pada hal-hal seperti itu. Luruskan otakmu!