
Aku bangun sangat pagi pada keesokan harinya, lalu melompat dari tempat tidur. Hari ini aku sangat bersemangat untuk membuat sup hangat ala Oma yang sudah kupelajari dengan baik selama enam bulan terakhir. Aku menambahkan garam paling akhir, setelah memisahkan sup untuk Oma yang hanya kuberi sedikit garam, dan menambahkan sedikit garam lagi ke sup untuk penghuni rumah yang lain. Khususnya untuk Daddy. Aku akan membawa masakanku itu ke rumah sakit pagi-pagi sekali. Dan satu lagi, aku memasakkan ayam bakar dan sambal terasi super pedas untuk makan siang nanti. Tak lupa nasi putih hangat dengan termos mini milik Oma.
Aku tersenyum sendiri tatkala mengingat kegigihanku yang menghabiskan setiap weekend-ku untuk belajar masak -- menguasai resep-resep andalan Oma. Plus, pagi hari yang selalu kurelakan untuk bangun lebih cepat demi belajar membuat sarapan pagi. Supaya kelak, Daddy tidak selalu makan telur dadar dan apa pun itu yang berbahan dasar roti. Dan itu enam bulan yang tak sia-sia.
Setelah semua masakanku siap, aku bergegas mandi, berpakaian, berdandan dan memastikan segalanya sudah sempurna. Setelahnya aku kembali ke dapur untuk mewadahi masakanku ke wadahnya masing-masing dan segera menentengnya. Hari sudah jam tujuh pagi ketika aku dan Pak Ujang meluncur ke rumah sakit.
Dan, mendapati Daddy di ruang kamar rawat Oma, tertidur di kursi. Pasti dia menonton bola semalam, pikirku. Dia tidak pernah melewatkannya. Sementara, Oma tersenyum kepadaku ketika aku memasuki ruang rawatnya dengan termos mini dan rantang makanan di kedua tanganku. Aku menaruhnya di atas meja kecil di bawah televisi yang digantung -- menempel ke dinding.
Aku balas tersenyum. "Bagaimana perasaan Oma?" tanyaku, lalu aku mencium tangannya.
"Seperti orang tua yang bodoh," sahutnya malas.
Aku menarik kursi ke samping tempat tidur dan menggenggam tangannya. "Makanya... Oma jangan bandel di belakangku. Jadi begini, kan, akhirnya? Hmm?"
"Iya, Cerewet... tidak akan Oma ulangi."
"Bagus. Janji, ya?"
"Iya...."
"Awas saja kalau Oma melanggar. Jangan ingkar janji."
__ADS_1
Aku tersenyum, lalu melirik ke arah Daddy. Dan ternyata Oma mengikuti pandanganku. "Dia tidak akan menghabiskan malam yang panjang untuk menonton bola jika sudah beristri."
Aku mendongak, kaget. "Apa, Oma?"
"Dia butuh istri, untuk melewati malam-malamnya yang membosankan. Sendiri itu tidak enak."
Aku melongo saja. Bukannya aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Oma, hanya saja, aku tidak tahu apa yang mesti kukatakan.
Persis di saat itu Daddy bergerak dan aku mengawasinya meregangkan kakinya yang panjang, melepaskan ketegangan dari bahu dan punggungnya yang lebar, lalu tersentak tegak, tatapannya beralih ke tempat tidur. "Ibu sudah bangun," kata Daddy. Ia berdiri, meringis ketika ia melengkungkan punggung. "Bagaimana perasaan Ibu sekarang?"
"Lebih baik dan lebih segar darimu," kata Oma.
Senyum Daddy tersungging. "Ya, kursi ini lebih keras daripada kepala Ibu." Dia melirikku. "Sudah lama di sini?"
"Hei, obrolan kita sampai di mana tadi?"
"Emm...."
"Oh ya, dan Oma butuh cucu."
Sama-sama tertegun, aku dan Daddy bertatapan melewati tempat tidur Oma, arus listrik di antara kami seperti kilat dalam badai yang bergemuruh.
__ADS_1
Oma menatap kami, matanya beralih dari yang satu ke yang lain, lalu tersenyum lebar. "Ujian akhir sekolah tinggal tiga bulan lagi, kan? Setelah itu tinggal menunggu kelulusan. Kalian bisa gunakan waktu itu untuk menyusun rencana pernikahan."
"Oma...," kataku, "tunggu aku menerima ijazah dulu, ya? Baru setelah itu...."
Daddy meraih rantang dan membukanya. "Waktunya sarapan." Dia mencicipinya. "Siapa yang masak sup ini?"
"Aku," kataku.
Dia memejamkan mata sambil tersenyum, dan menaruh sebelah tangan di dada. "Selezat masakan Ibu."
"Ah, Daddy...." Dia membuatku tersipu malu.
"Dia sudah belajar banyak selama enam bulan ini."
"Terima kasih. Aku tersentuh. Kamu terbaik," pujinya.
"Nah, seperti belajar masak yang dari jauh-jauh hari, Oma kan bilangnya menyusun rencana, pernikahannya tetap setelah kamu lulus, saat umurmu tepat delapan belas tahun."
Dengan entengnya Daddy menyerahkan satu nampan rantang ke tangan Oma. "Kami tidak butuh pernikahan yang super mewah. Jadi tidak banyak yang mesti direncanakan. Dan, hanya beberapa lembar undangan saja. Oke? Sekarang makanlah."
"Baiklah, baiklah, bagaimana mau kalian saja. Yang penting cepat-cepat beri aku cucu!"
__ADS_1
Daddy menatapku dengan sorot mata yang mengunci. "Well," katanya, "tanya dulu pada sang calon pengantin, apa maharnya?"
Ya ampun, anak dan ibu itu kompak sekali, mereka membuatku tersipu malu.