Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Gelisah


__ADS_3

"Sori," kataku. Aku mendorongnya pelan. "Maaf, tapi aku takut kita kelepasan."


Dia mengangguk paham. "Sori," katanya, dan ia kembali ke posisi semula.


"Em, aku mengerti. Kalau begitu... selamat malam." Aku membuka pintu dan praktis berlari menaiki anak tangga beranda dan tidak berhenti sampai aku sudah aman di dalam kamarku dengan pintu terkunci. Aku tidak menunggu Daddy keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku. Aku tidak bisa berada di dalam mobil bersama Daddy lebih lama lagi.


Begitu di dalam, aku berjalan mondar mandir sambil menanggalkan pakaian. Gaunku mendarat di meja rias, sebelah sepatuku melesat ke kolong tempat tidur, dan yang lain mendarat di atas tempat tidur. Setelahnya, aku mengenakan piyamaku, lalu pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membersihkan mekapku.


Ketika kembali ke kamar, aku duduk di pinggir tempat tidur. Sambil menatap karpet di lantai, aku mengenang betapa menyenangkan berdansa dengan Daddy. Aku bersuka ria karena kedekatan dan pelukannya. Dan... andainya tadi aku memberikannya waktu sedikit lebih lama, mungkin...

__ADS_1


Ah, tidak!


"Jangan pikirkan itu, Kejora. Please!"


Sambil mend*sah, aku pergi ke jendela untuk menutup tirai. Saat itulah aku melihat Daddy. Ia sedang menunggang kuda tanpa pelana di padang rumput di bawah jendela kamarku. Bertelanjang dada dan kaki, dengan cahaya bulan menyinarinya, dia terlihat liar, bebas, dan... sangat seksi. Otot-ototnya menyembul menghiasi tubuhnya yang kekar.


Ia berkuda tanpa kesulitan dan tali kekang dipegang longgar di sebelah tangannya, tangan lainnya diletakkan di paha.


Aku tidak menyadari waktu sementara aku berdiri di sana, mengamati, terpesona dengan kecepatan dan kekuatan kuda dan penunggangnya, sensualitas tanpa sadar dari pria yang jelas menggambarkan keperkasaan dirinya.

__ADS_1


Ini penyiksaan, aku ingin berlari ke bawah, memanjat ke belakang Daddy, melingkarkan tanganku di pinggangnya, menyandarkan kepala di punggungnya yang telanjang, menghirup aroma keringatnya yang jantan dan merasakan kehangatan kulitnya yang menempel intim di kulitku.


Rasa panas mengaliri pembuluh darahku sementara aku membayangkan diriku menyerah pada hasr*t hatiku dan berlari ke luar. Apa Daddy akan senang melihatku? Tapi... aku tahu persis, kemungkinan besarnya jika kami berdekatan dalam situasi seperti ini, pasti hasr*t kami tak bisa terbendung lagi.


Tidak, Kejora. Kalian memang sudah berciuman dengan indah. Ketertarikan kalian memang besar. Tetapi jangan pernah menjadi murahan dengan sengaja mendatanginya. Kau minus besar jika melakukan itu. Please, kau dibesarkan bukan untuk dinilai sebagai seorang j*lang.


Oh, andainya aku punya rantai kaki, akan kurantai kakiku supaya aku tetap di tempat.


Sambil menggigit bibir bawah, aku menatap pria gagah di bawah itu. Rasa panas masih saja menjalari leher sampai ke pipi. Lalu, aku berbalik, kututup tirai jendelaku, dan aku kembali ke tempat tidur. Aku mesti minum obat tidur. Kalau tidak, aku akan gelisah sepanjang malam dan daya tahan tubuhku akan melemah. Risikonya, aku tidak hanya akan sakit fisik, tapi juga akan sakit jiwa karena imajinasiku yang begitu liar terhadap pria dewasa itu -- terhadap kejantanannya yang membuatku begitu bergairah.

__ADS_1


"Ingat, ya, Kejora, jangan mimpi lagi." Aku menggeleng. Betapa aku menginginkanmu, Gibran Aditama.


__ADS_2