
"Ya ampun, Mom. Bagus sekali...."
Aku terkagum-kagum pada gaun pesta pilihan Mom Rani. Warnanya hitam elegan. Dengan bahu terbuka dan leher bermodel V. Bagian dadanya terasa pas dengan ukuranku. Sedangkan bagian bawahnya melebar dan panjangnya hingga ke mata kaki. Tapi ada satu yang membuatku cemas: bagian belakangnya yang terbuka dan nyaris mengekspos keseluruhan punggungku. Terlebih, sebelum mengenakan gaun itu, Mommy sudah menata rambutku ke atas, sehingga tidak hanya terasa feminin, gaun ini membuatku terlihat seksi.
"Aku takut Daddy marah kalau punggungku terekspos begini, Mom."
Mommy yang sudah siap dan sama cantiknya denganku, berjalan menghampiri. "Tenang saja," katanya. "Kalau dia marah, Mommy yang akan pasang badan untukmu, oke? Senyum dong, kamu sangat cantik, tahu!"
Yeah, aku tahu. Tapi ini membuatku gugup. Aku memikirkan bagaimana nanti reaksi Daddy saat pertama kali melihatku? "Mungkin akan sama seperti di pesta ulang tahunku kemarin," kataku pada diri sendiri.
"Sayang, Mommy mau menyiapkan botol susu si kembar dulu, ya. Tidak lucu kalau nanti mereka menangis di tengah-tengah keramaian pesta."
Aku mengangguk, dan Mommy pun langsung berlalu. Secara keseluruhan aku sudah siap. Aku juga sudah menyemprotkan parfum ke tubuhku.
"Terima kasih sudah mewariskan kecantikan ini untukku," kataku sambil menatap wajah pada pantulan cermin di depanku. Dan persis di saat itu, Daddy masuk ke ruang kamarku. Praktis, senyum indah menghiasi bibirku ketika tatapan kami bertemu. "Malam."
Aku tersenyum padanya, jelas-jelas senang dengan kekaguman yang kulihat di matanya. Jantungnya pasti serasa berhenti berdetak.
"Kamu sudah siap berangkat?"
"Ya."
"Kalau begitu ayo."
Ayo, katanya. Tapi ia malah masuk dan melingkarkan kedua lengannya di pinggangku.
"My Beautiful Kejora. Aku mencintaimu."
Uuuuuh... jantungku melorot ke perut. Kata-kata yang ia bisikkan mendendangkan hatiku dan membuat kawanan kupu-kupu menari-nari di dalam perutku.
"Ehm, masih ada banyak waktu untuk bermesraan kelles...," tegur Mommy. Ia berdiri di depan pintu dan mengajak kami untuk lekas pergi.
Kuraih tas tanganku yang baru dibelikan Mommy, lalu meyambut uluran tangan Daddy dan berjalan mesra di sampingnya. Kusadari, Daddy mengembuskan napas panjang ketika membukakan pintu mobil untukku. "Silakan, Tuan Putri Cantik."
"Terima kasih."
Aku tahu ini akan menjadi malam yang panjang.
Dalam perjalanan itu, kami jarang berbicara. Aku memandang ke luar jendela, berpura-pura menikmati pemandangan, yang sebenarnya di dalam hatiku terbesit rasa cemas, bagaimana suasana di pesta nanti? Kuhela napas dalam-dalam, mencoba untuk tenang. Meski akhirnya -- lagi-lagi jantungku terasa berhenti ketika Daddy mematikan mesin mobil di pelataran parkir sebuah gedung besar tempat di mana resepsi Pak Alpian diselenggarakan.
__ADS_1
"Sayang?"
"Emm?"
"Kalau nanti... emm... Daddy memperkenalkanmu sebagai istri, boleh?"
Hoaaaaa... dadaku kembang kempis dibuatnya. Mataku membulat lebar, dan aku tidak mengerti kenapa aku masih saja terkejut mendengarnya. Padahal kan dari kemarin Daddy sudah mengakuiku sebagai istrinya.
"Hei, boleh?"
"Ya. Oh, ya. Ya, boleh. Boleh, Daddy."
"Oke." Ia tersenyum. "Terima kasih... Istriku."
Haddeh! Sesak napas aku gara-gara pria dewasa yang mendadak puber ini.
Aku pun mengangguk. "Ya," kataku, "sama-sama, Suami."
Aku terbahak, merasa geli dengan ucapanku sendiri.
Well, pesta resepsinya meriah ketika kami tiba. Acara itu tepat seperti yang kubayangkan. Megah dan meriah. Bahkan ada panggung buatan dipasang di salah satu sudut. Band beranggotakan beberapa orang menyediakan musik. Selain hiasan di langit-langit ruang pesta itu dan bunga-bunga indah yang menghiasi hampir di setiap sudut, ada juga kain linen putih menutupi meja-meja yang penuh dengan berbagai jenis makanan dan minuman, yang didominasi dengan jenis-jenis kue, jus, sirup, dan anggur khas kalangan atas.
Hal pertama yang kami lakukan setibanya di sana ialah menghampiri sepasang pengantin baru itu dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Dan sama seperti Daddy, istri Pak Alpian terlihat masih sangat muda. Perkiraanku, mungkin pertengahan dua puluhan. Tapi itu tak berarti apa-apa. Faktanya, perbedaan usia antara aku dan Daddy yang mencapai angka dua puluh tahun, menegaskan bahwa aku memang lebih pantas berstatus sebagai anaknya. Dan, meski Daddy lelaki yang awet muda, tetap saja, usiaku yang masih belasan ini membuatku agak minder dengan tatapan orang-orang di sekitarku. Padahal belum tentu mereka menilaiku dengan penilaian yang aneh-aneh.
Euw! Membodohi, atau menghibur diri sendiri? Entahlah. Mungkin keduanya.
"Perkenalkan," kata Daddy. "Ini Kejora Aditama, istriku."
Aku tersenyum pada pasangan pengantin itu. Dan kusimpulkan bahwa mereka tidak mengenal mendiang ibuku, karena tidak ada sirat keterkejutan pada ekspresi mereka.
"Cieee... istrinya Gibran. Cantik, ya...," bisik Mommy menggodaku.
Aku mendelik. "Jangan begitu, Mommy. Aku malu."
"Biarkan saja Mommy Kuntimu itu berceloteh," kata Daddy. Kemudian dia menggandengku dan kami beranjak dari sana.
Aku menyadari beberapa wanita tersenyum kepada Daddy. Pasti mereka kumpulan orang-orang yang mengira kalau aku anaknya Daddy. Bahkan salah seorang di antaranya menyenggol Daddy dengan kilatan pemangsa di matanya.
"Hei, Tampan. Masih menduda, kan?" tanya wanita itu, suaranya lembut mendayu-dayu.
__ADS_1
Daddy tersenyum. "Baru saja berganti status lagi," sahut Daddy, meski ia berbohong, tapi aku senang. "Perkenalkan, ini istriku, Kejora Aditama. Dan Kejora, ini Gisel."
Kami berjabat tangan, tanpa suara. Bukan bermaksud untuk tidak ramah, tapi aku memang tidak tahu, apa yang mesti kukatakan.
"Kukira kamu masih menduda setelah bercerai dengan Rani. Padahal aku sudah berencana, lo, mau kita CLBK lagi, seperti dulu, couple G."
Daddy tertawa. "Ayolah, jangan gesrek seperti Rani, dong, Sel...."
"Oke, oke. Selamat menikmati acara kalau begitu, ya." Sambil mengibaskan roknya, wanita bernama Gisel itu berbalik dan berjalan pergi.
Hmm... seorang Gibran Aditama ini banyak penggemarnya ternyata.
"Mantan pacar?" tanyaku, berharap aku tidak terdengar cemburu seperti yang kurasakan.
Daddy menggeleng. "Bukan," katanya. "Cuma pernah dekat saja. Dia PDKT denganku, dan tahu-tahu dia menganggap kalau kami pacaran. Syukur waktu itu ada libur semester. Aku pulang ke Jakarta, dan... kontak terputus." Ia pun cekikikan.
"Ada berapa banyak yang seperti itu? Pasti banyak."
Seulas senyum tersungging di sudut bibirnya. "Tidak banyak. Hanya satu atau dua."
Bohong. Aku merasa sepuluh atau dua puluh lebih tepat, tetapi aku tidak mengatakannya. Seiring malam bertambah larut, aku merasa perkiraanku terlalu rendah. Sepertinya setiap wanita di tempat itu mengenal Daddy, walaupun, untung saja, sedikit yang bersikap blakblakan seperti Bu Gisel.
"Jangan cemburu," bisik Daddy sembari mencondongkan tubuhnya kepadaku. "Ayo, kita mengambil minuman."
Aku mengikutinya mengelilingi ruangan ke arah minuman.
"Mau minum apa? Jus atau sirup?"
"Apa saja, asal bukan bir," sahutku pelan.
"Apa?"
"Sirup juga boleh."
Aku mengamati Daddy mengambil segelas sirup, dia meminumnya, lalu mengulurkan tangan dan memberikan gelas itu kepadaku. Dengan merapatkan diri padaku, ia berkata, "Minumlah tepat di bekas bibirku."
Eh? Apa maksudnya?
"Memangnya kenapa?" tanyaku.
__ADS_1
Daddy tersenyum. "Hanya ingin menyejukkan hatimu yang panas, atau mau dengan cara yang lain? Hmm?"
Euwww... gesrek!