
"Kejora, Sayang, bangun."
Daddy memanggilku, dan aku membuka mata, masih melihat kegelapan di depanku. Aku berusaha melepaskan lenganku yang terjebak di samping tubuh, dalam belitan selimut.
"Tenanglah," kata Daddy. "Tenang. Apa kamu baik-baik saja? Kamu berteriak-teriak sambil tidur."
Aku membebaskan diriku sendiri dan duduk tegak. Berusaha mati-matian mengingat di mana diriku berada, mataku terpaku kepadanya. Meneliti, apa benar Daddy yang berada di depanku, atau orang lain?
Mimpi. Cuma mimpi. Ini benar Daddy.
"Sayang?"
"Aku baik-baik saja," kataku.
"Mimpi buruk?"
"Em, tapi bukan apa-apa. Lupakan."
"Kelihatannya tidak begitu. Kamu tidak baik-baik saja. Apa yang terjadi? Maksudku... kamu mimpi apa?"
"Mimpi itu lagi, Daddy. Pelecehan. Aku... aku mengalami pemerkosaan." Aku menggeleng. "Riko. Tapi...."
Alis Daddy bertaut, dia memelukku. "Tapi apa?"
Aku menggeleng. Jantungku mulai berdebar lagi, dan tanganku gemetaran mengingat di dalam mimpi aku membunuh Riko. "Lupakan saja, Daddy."
"Apa ada yang bisa kulakukan?" tanya Daddy.
Aku tidak tahu apa yang bisa dia lakukan. Aku tak dapat menjelaskan apa yang terjadi pada diriku.
"Apa kamu mau minum?" tanyanya. "Selimut?"
Aku menggeleng. "Beri aku waktu sebentar." Aku menarik napas dalam-dalam. Mencoba untuk menjadikan segalanya kembali normal. "Sebenarnya, kupikir aku mau minum," kataku.
Daddy bangkit untuk berdiri.
"Tunggu."
Ia berhenti.
"Biar kuambil sendiri."
__ADS_1
"Sayang?"
"Aku saja, Daddy."
"Kamu yakin? Aku tidak keberatan mengambilkannya."
"Aku tahu. Tapi aku butuh meregangkan kakiku. Biar aku saja."
Daddy mengangguk, dan aku bangkit perlahan-lahan, kakiku gemetar bagaikan batang bunga rapuh yang tertiup angin. Dan aku jatuh terjerembab.
"Sayang!"
Daddy cepat-cepat menghampiriku, meraih lenganku dengan penuh kekhawatiran. "Aku tidak apa-apa!" kataku, tanpa sengaja aku bicara agak keras. Mati-matian aku berdiri, terseok-seok ke kamar mandi, dan tanganku masih bergetar saat kunyalakan lampunya. Seraya mencengkeram pinggiran wastafel, aku menatap ke cermin, mengamati mata yang menatap balik ke arahku. Tapi aku tak dapat menemukan jawaban apa pun di sana. Hanya pantulan mata berwarna hitam yang kini memerah menahan tangis.
Namun gagal. Aku tak bisa menahannya. Tangisku pecah. Aku terisak keras sampai tubuhku terguncang-guncang hebat.
"Kejora... buka, Sayang."
Maafkan aku, Daddy. Aku tak bisa selalu kuat. Aku rapuh....
Aku menghela napas, bersandar kembali ke dinding. Rasa kalah membuatku capek. Setiap tulang di tubuhku terasa lelah. Semua ini sungguh sulit....
"Sayang...."
"Jangan menangis sendiri. Jangan buat aku merasa tidak berguna."
Maaf, Daddy. Maafkan aku.
Aku membuka keran dan menangkup airnya, membawa kesegaran yang sejuk itu ke mulutku. Aku berkumur beberapa kali. Pipiku tadinya pucat pasi, tapi setelah kupercikkan air, warnanya mulai berubah merah muda. Ketika kakiku terasa lebih nyaman, dan gemetar tanganku mulai tenang, aku berjalan keluar dari kamar mandi. Daddy menunggu di ambang pintu dengan segelas air putih di tangannya, dan lampu kamar sudah dinyalakan.
"Minum, Sayang."
Aku mengangguk, meminum air dari tangannya. "Terima kasih, Daddy." Lalu aku duduk di tempat tidur, mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan, merasa resah dan gelisah. Saat itu masih dini hari, baru jam tiga pagi, tapi aku tidak ingin kembali tidur.
"Aku mencemaskanmu," kata Daddy, dia baru saja menaruh gelas ke atas meja dan sekarang duduk berjongkok di lantai, di hadapanku, dan menatapku dengan prihatin.
Demi menghindari tatapannya, aku mengalihkan pandanganku ke lampu lilin karakterku. Momen romantis. "Tidak perlu cemas," kataku. "Bukan masalah besar. Tapi...."
"Emm? Ada apa?"
"Emm... itu."
__ADS_1
"Ya?"
"Aku tidak ingin tidur lagi."
"Aku mengerti."
"Tapi, Daddy kan pernah janji akan mengajakku menghabiskan malam dengan cara yang lebih indah."
Daddy menundukkan pandangannya. "Aku rasa...."
Tidak tepat waktu? Atau tidak etis dalam suasana seperti ini?
"Dad...?"
"Sayang...."
"Please...?" aku berkata pelan. "Aku mimpi buruk. Aku mimpi diperkosa. Bagaimana kalau Daddy realisasikan saja?" Mendadak aku jadi cekikan.
Tapi... Daddy malah kebingungan. Keningnya sampai bertaut. "Maksudnya apa?"
"Ayolah, paksa aku. Kita buat seolah-olah...."
"Hah! Kamu tidak akan terpaksa, dan kamu tidak akan melawan."
"Yeah, benar. Bagaimana bisa aku menolakmu? Aku juga sudah istirahat, kan? Atau...?" Aku berdiri, juga Daddy, lalu aku mendorongnya pelan ke dinding.
"Atau apa?" Dia mengambil kendali, menarikku ke dalam dekapannya dan ganti menyandarkanku ke dinding, lalu dia menghimpitku. "Apa yang kamu inginkan?"
"Tidak jadi. Silakan, kamu saja yang melakukannya. Buat aku senang dan melupakan semuanya." Kulingkarkan kaki kiriku ke pahanya, dan ia menahan kakiku dengan lengannya.
Daddy tersenyum senang. "Apa?" tanyanya. "Mau sambil berdiri? Hmm?"
"Mmm-hmm... sepertinya asyik, ya kan? Please...?"
Uuuh.... Daddy dan tubuhnya paling bisa mengalihkan perhatianku. Bukan, bukan hanya itu: tapi bercinta dengannya -- sungguh bisa mengembalikan gairah hidupku.
"Please, turunlah sebentar. Buat aku merasakan pemanasan yang menyenangkan. I need you, Daddy."
Dengan sigap, aku dan Daddy saling melepaskan pakaian. Kemudian ia turun, berlutut di hadapanku dan membenamkan bibirnya, menyesapku kuat dan dalam.
Ya Tuhan... terima kasih, Daddy. Ini menyenangkan, dan mampu mengalihkan perhatianku. Membuat rasa takut dan frustasiku agak berkurang, setidaknya sekarang perasaanku jadi lebih baik. Terima kasih.
__ADS_1
"Mari, kita lampiaskan. Kejoraku tidak boleh larut dalam kesedihan, hmm? Aku bersamamu, Sayang. Dan aku cinta padamu."