Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Masa Penantian


__ADS_3

Tapi dalam masa kegalauan itu, ada saja hal-hal yang membuatku malah ingin waktu berjalan dengan cepat dan membuatku tak sabar ingin segera menikah -- segera menjadi pengantin yang sah. Misalnya seperti pada saat ada yang sengaja datang ke kamarku di awal-awal kedatangan keluarga Daddy, mereka memintaku menceritakan bagaimana proses awal hubungan asmara antara aku dan Daddy berlangsung. Mereka tak henti membuatku tersipu malu hingga aku lupa pada kegalauanku sebelumnya.


Tentu saja, itu juga karena setiap kali ada kesempatan untuk ngerumpi, mereka sering menggodaku tentang pengalaman malam pertama.


"Uuuuuh... rasanya sakit sekali, Sayang. Ngiluuuuu... tapi nikmat."


Dan suara tawa pun pecah.


"Bikin nagih."


Ya ampun, godaan-godaan dan canda tawa ini berlangsung setiap hari sampai-sampai aku sering memikirkannya: bagaimana nanti malam pertamaku dan Daddy? Sakitkah? Ngilukah?


Ckckck! Untung saja aku tidak sampai bermimpi dan mengompol lagi.


Dan akhirnya, di antara semua proses perencanaan dan belanja, hari besar itu pun sudah di depan mata.


Aku bangun siang setelah malam yang meresahkan. Beruntung, aku diberikan ruang untuk tidur sendirian di kamarku pada malam terakhir aku berstatus sebagai seorang lajang, sebab kamarku sudah dihias bak kamar pengantin, jadi tidak ada yang boleh menumpang tidur lagi di kamarku. Tidak seperti malam sebelumnya yang selalu ramai: ada beberapa orang yang tidur bersamaku. Tapi sekarang aku sendiri, dan...

__ADS_1


"Malam ini akan ada suamiku di sini. Oh, tak sabar rasanya," aku bergumam dan tersenyum-senyum sendiri.


Yeah, saat aku bangun, aku langsung menyadari itu hari pernikahanku. Dan benar-benar hari yang indah. Di antara hari-hari yang menggelisahkan sebelumnya, hari ini -- akhirnya aku merasa bahagia. Kegalauan dan keresahanku, juga penolakanku, sudah hilang sepenuhnya. Meskipun, tetap saja: aku gugup. Dan itu adalah hal yang wajar.


Aku nyaris terlonjak ketika suara ketukan di pintu terdengar. Aku baru selesai merapikan tempat tidurku dan menyimpan seprai dan selimutku ke dalam lemari di ruang ganti. Kata Oma nanti akan diganti dengan yang baru, yang sesuai untuk suasana dan dekorasi untuk kamar pengantin baru.


"Sayang?"


Itu Oma.


"Ya, sebentar," seruku, lalu aku beranjak untuk membuka pintu.


"Aku bahagia, Oma," kataku. "Tapi, ya, jujur saja, aku gugup."


"Semua pengantin perempuan pasti merasa seperti itu," tuturnya.


"Em, tak terkecuali yang ini. Omong-omong, terima kasih sudah membawakan sarapan untukku."

__ADS_1


"Sama-sama. Oma yakin calon pengantin wanita ini tidak mau bertemu pengantin prianya sebelum pernikahan."


Hihi. Aku tersipu malu. "Kan memang tidak baik, Oma. Pamali katanya."


"Oma tidak yakin gadis-gadis zaman sekarang masih mempercayai hal itu."


Well, Oma benar. Tapi yang ini percaya.


"Perias pengantin sedang sarapan di bawah. Cepat habiskan sarapanmu dan segera mandi."


Aku mengangguk, dan kami berpelukan. "Terima kasih untuk semua cinta dan kasih sayang Oma. Aku gadis yang beruntung."


Lagi, dia memelukku, dengan air mata berkilauan di matanya, lalu keluar dari kamar.


Lekas-lekas kuhabiskan sarapanku, lalu aku cepat-cepat mandi, dan ketika aku selesai, Oma dan perias pengantin sudah ada di sana. Kamar pengantinku juga sudah sempurna dengan seprai putih yang membuatku jadi cekikikan.


Oh, Daddy, bagaimana kita akan memulainya di sana?

__ADS_1


Hah! Aku perlu meluruskan otakku kembali.


__ADS_2