Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Modus Ala Pria Dewasa


__ADS_3

Sebuah sedan hitam menderum-derum di pelataran parkir, persis di samping mobil kami. Setelah menderum beberapa kali yang seakan sengaja untuk menarik perhatian, mobil itu pelan-pelan melaju dan keluar dari parkiran di saat langkah kami mulai mendekat. Dan, aku berani bersumpah melihat gelang tali pada pergelangan tangan yang menggelantung keluar dari jendela.


Kepanikan menguasaiku. Aku berhenti melangkah dan berdiri lebih tegak.


Riko...?


"Kenapa?" tanya Daddy.


Aku hanya menggeleng. "Tidak apa-apa."


"Kamu yakin?"


Aku mengangguk. Lupakan, Kejora. Itu hanya mobil, dan ada banyak orang memakai gelang tali seperti itu. Kau tidak bisa yakin itu dia. Jangan bodoh! Tidak ada gunanya membuat cemas semua orang. Lupakan saja. Jangan diungkit-ungkit lagi.


"Kamu kembali cemas," celetuk Daddy.


Aku menghela napas dalam-dalam, dan memaksakan senyum. "Aku baik-baik saja." Seraya mengangguk mantap, aku berusaha untuk tidak berpikir tentang Riko lagi. "Kita langsung pulang, ya. Aku tidak sabar sampai di rumah."


"Sebentar, kita ke sana dulu." Daddy menunjuk ke arah tenda kecil yang menjual aneka minuman dan jus buah. "Kamu mau beli jus apa?"


Aku berpikir, memilih-milih mau jus rasa apa, dan pilihanku jatuh pada jus durian. Mumpung belum hamil, sementara Daddy ingin jus mangga kesukaannya. Setelah itu kami pun langsung pulang.


Sesampainya di rumah, aku ingin membawa sebagian belanjaan yang sudah kuraih, tapi Daddy tidak mengizinkan. "Itu tugasku sebagai lelaki. Tolong bawakan jus manggaku saja, tapi jangan dihabiskan."


"Baiklah, silakan melaksanakan tugas lelaki." Aku nyengir dan keluar dari mobil.


Sementara Daddy membungkuk untuk mengambil belanjaan di kursi belakang, aku berdiri di sampingnya, menelusurkan jemariku di punggungnya. "Sabar dong, Sayang," ia protes. "Di dalam saja, ya. Jangan di mobil, gerah."

__ADS_1


Uuuh... panjang, ya, sahutannya. "Aku hanya bercanda, Daddy...."


"Silakan kalau mau bercanda. Tapi tetap, aku tidak akan mengampunimu."


Menggairahkan! Reaksinya membuatku semakin ingin menggodanya.


"Masukkan ke lubangnya, Daddy," kataku sewaktu menyerahkan kunci rumah kepadanya.


Seakan tak tahan karena gemas, dia mencengkeram bokongku. "Kau benar-benar membangunkan singa."


"Oh, buas dong?"


"Yap. Akan kutunjukkan bagaimana kebuasannya."


"Uuuh... ngeri...." Aku cekikikan. "Cusss, dicolok, Daddy. Masukkan dalam-dalam dan benamkan sampai tuntas."


Benar-benar geram, dia memekik, "Kejoraaaaa... masuk! Cepat!"


"Iiiiih... pikiran Daddy kotor, ya. Kan aku ngomongin lubang kunci dan kuncinya."


Haha!


Aku segera ngacir ke dapur saat Daddy mengunci pintu depan lalu menaruh jus mangganya ke dalam lemari es.


"Sini, Gadis Kecil!" serunya. Dia menaruh belanjaan kami di lantai dan langsung menyambarku ke dalam pelukan. "Hari ini kamu sangat nakal. Akan kuberi kamu pelajaran."


Oh, ya ampun... tanpa aba-aba dia melahap bibirku. Namun sayang, sesaat kemudian dering ponselnya malah menyela.

__ADS_1


"Maaf, Anda belum beruntung."


"Hanya sebentar, Kejora. Awas saja."


"Well, aku menunggumu. Emmmmmuach!"


Ckckck! Daddy hanya tersenyum, dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menerima telepon, sepertinya dari Pak Amir. Sebab itu aku memakai waktu free itu untuk menyusun barang-barang ke lemari dapur. Itu telepon penting yang tak semestinya kudengar.


Beberapa menit setelahnya, setelah semua bahan masakan itu tersusun dalam lemari, aku memutar badanku, dan... mendapati Daddy di belakangku -- nyaris polos. Yang tersisa hanya celana pendek ketat yang menampilkan hasrat. Dia on fire.


"Bisa tunggu sebentar? Aku perlu menyimpan belanjaan ini ke dalam kulkas. Oke?"


Dia menggeleng, menarikku ke dalam pelukan dan bicara pelan di telinga, "Nope. Kamu benar-benar nakal. Mau menyiksaku lagi? Menyuruhku menunggu lagi? Hmm? Tidak bisa."


"Hanya sebentar...."


"Tidak bisa."


"Aku lupa, tadi kita beli daging beku, ya kan?"


"Oh, sial. Cepatlah." Tapi dia tetap menyempatkan diri melepaskan dress dari tubuhku.


"Aku hanya sebentar," kataku. "Sabarlah sedikit." Lalu aku mengecup lehernya. "Sabar, ya, Pria Manis."


Well, daging, ayam, aneka seafood, sayur-sayuran, juga buah-buahan sudah tersusun rapi dalam beberapa menit. Lalu, kemudian...


"Daddy...!" aku memekik kaget.

__ADS_1


Pria dewasa itu menyiramkan jus mangganya ke punggungku. Dia terkekeh-kekeh. "Sini, biar kubersihkan."


Dasaaaaar... modus!


__ADS_2