
Siang berikutnya, hari ke-empat menstruasiku, aku baru saja mengeluarkan kue brownie dari kukusan ketika memberitahu Daddy bahwa Dinda dan Tiara ingin berkunjung siang itu. Selain rindu berkumpul, tentulah mereka ingin membujukku untuk datang ke acara perpisahan sekolah yang akan diadakan pada hari sabtu besok. Sebab, aku ragu untuk datang dengan statusku yang sudah menjadi istri. Aku mengkhawatirkan ledekan teman-teman sekolahku yang akan mereka tujukan kepada Daddy. Kurasa menghindari hal-hal yang semacam itu, itu akan lebih baik.
"Mereka boleh ke sini, kan?"
"Boleh. Tidak perlu minta izin, Sayang."
"Haruslah. Kan Daddy kepala rumah tangga."
"Ya kan yang datang Dinda dan Tiara. Bukannya--"
Cup! Aku berjinjit dan mengecup pipinya dengan mesra. "Aku akan meminta izinmu dalam segala hal. Aku istri yang baik, bukan?"
"Ya." Dia tersenyum. "Kamu yang terbaik. Tapi aku sedikit kecewa, sih," katanya saat aku hendak menyerut keju yang tersedia di atas meja.
Waduh, keningku mengerut. "Kecewa kenapa? Memangnya aku ada berbuat salah?"
"Nggak, sih...."
"Lah, terus?"
__ADS_1
"Kukira kue itu spesial untukku."
"Ya ampun, ini memang untuk Daddy."
"Bukan untuk teman-temanmu?"
"Ya... bagilah sedikit. Beberapa potong."
"Kalau itu untukku, harusnya kamu minta izin dulu."
Ya ampun... bisa-bisanya dia langsung melempar balik omonganku. "Iya, iya. Ini kue spesial, aku membuatkannya khusus untukmu. Tapi aku minta beberapa potong, ya, untuk teman-temanku. Boleh, kan?"
Well, walaupun kelakuannya aneh, aku menurutinya. Kutundukkan kepalaku dan memejamkan mataku sejenak. Kemudian aku tersenyum ketika mengangkat kepalaku kembali. "Daddy... aku minta--"
Oh, ya ampun. Si pria dewasa itu mencium bibirku.
"Minta cium, kan?"
"Ih! Kuenya, Daddy...."
__ADS_1
"Itu kan kuemu. Kamu yang buat. Kenapa mesti minta izin?"
Hah! Lucu! Garing! Kelakuannya yang ekstra manis itu juga jadi terasa sedikit menyebalkan. Dia tersenyum kepadaku lalu melenggang pergi ke ruang televisi.
Dasar konyol. Dengan menggeleng-gelengkan kepala aku lanjut mengerjakan pekerjaanku. Setelah serutan kejuku selesai, aku menyerut cokelat, kedua topping itu kutaburkan di atas kue brownie yang masih hangat lalu memotongnya. Daddy sangat suka ketika kuenya masih hangat.
"Spesial untukmu," kataku seraya menaruh sebuah piring kecil dengan dua potong brownie yang cukup besar di atasnya. Satu dengan topping keju dan satu topping cokelat, plus satu gelas besar strawberry milkshake.
Daddy tersenyum bahagia. Aku tahu dia merasa sangat bosan berada di Jakarta: tidak ada perkebunan, tidak ada kuda jantannya, tidak ada area bersepeda yang menguji adrenalinnya sekaligus memenuhi kebutuhannya akan kesegaran alam. Aku tahu dia merindukan semua itu. Selain aku, bercinta denganku, dan olahraga paginya yang rutin, seakan tak ada sesuatu yang menyenangkan baginya. Dia bukan tipe kaum rebahan, kecuali bila rebahan bersamaku. Dan itu yang sudah kami lakukan setiap hari.
"Bosan, ya?" tanyaku saat melihat Daddy mengganti-ganti siaran televisi.
Dia mengangguk. "Bosan, otot-ototku lebih banyak lemasnya ketimbang aktif."
Duuuh... otakku menyambungkan kalimat itu ke arah sana. Aku jadi cekikikan.
"Aku tidak bermaksud apa-apa lo, ya. Aku bahagia di sini karena ada kamu, bersamamu. Tapi, ya begitu. Aktivitasku sangat terbatas di sini. Apalagi...."
Aku mendelik. "Sabar... baru empat hari. Malah bagus, kan? Semoga saja setelah ini, pas lagi subur-suburnya, aku bisa langsung hamil. Supaya Daddy berasa punya mainan baru. Aku yakin, Daddy pasti akan menjadi seorang ayah yang baik, dan anak kita nanti akan sangat bahagia, sebahagia masa kecilku dulu."
__ADS_1
Dan aku membayangkan Daddy menggendong Gibran Junior di pundaknya. Seperti masa kecilku dulu. Sungguh impian yang begitu manis. Semoga Tuhan merestui, demi Daddy dan Oma. Dibandingkan karir di masa depanku nanti, memberikan keturunan untuk mereka adalah tolak ukur keberhasilanku sebagai seorang menantu. Karena aku tahu, Oma menginginkan seorang cucu kandung sebagai penerus keluarganya. Dan aku akan melakukan apa pun untuk mewujudkannya. Apa pun.