Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Luka


__ADS_3

Daddy sedang membuat sarapan ketika aku bangun keesokan paginya. Ia berdiri di depan penggorengan dengan rambut sedikit acak-acakan dan hanya mengenakan celana panjang butut plus kaus pas badan yang ia pakai semalam. Ternyata ia juga belum mandi, pikirku.


"Selamat pagi, Sayang. Mau telur dadar?"


Kuacungi jempol, ia tahu aku ada di belakangnya meski ia tak menoleh. "Pagi juga, Daddy. Boleh... sepertinya lezat. Tapi kukira ada kiriman makanan seperti semalam. Tidak ada, ya?"


"Di luar hujan belum berhenti, Sayang. Siapa yang mau keluar dari pondok hujan-hujan begini?"


Yeah, masuk akal. Kalau tak segan padanya, mungkin aku pun masih memejamkan mata di bawah selimutku yang hangat. Tapi, mengingat bahwa aku adalah seorang gadis dan ada Daddy bersamaku, jadi kupaksakan diriku bangun, dan tetap saja -- ternyata aku kalah cepat darinya.


"Ada yang bisa kubantu?"


"Sure, kalau tidak keberatan, Daddy rasa kita butuh teh."


"Panjang banget, sih. Bilang saja, tolong buat tehnya, Sayang."


Aku nyengir, Daddy pun nyengir. "Iya, Sayang... tolong buat tehnya, ya...."


"Jadi, hari ini Daddy akan menepati janji Daddy semalam, kan?"


Dia menggeleng.


"Please, Daddy... aku ngambek lo nanti."


"Di luar hujan tidak mau berhenti."

__ADS_1


"Lah, hubungannya apa...?"


"Daddy khawatir nanti kamu sedih."


"Terus?"


"Kita tidak bisa ke mana-mana untuk menghiburmu, kan hujan."


"Alasan! Kenapa berjanji kalau ujung-ujungnya ingkar lagi? Mending tidak usah biar aku tidak kecewa. Menyebalkan, tahu!"


Fix, kecewa berat. Aku paling tidak suka dikecewakan oleh Daddy. Dengan merengut, kutaruh lagi teko teh yang tadi sempat kuambil dan aku langsung angkat kaki menuju kamar.


Lihat saja, akan kubuat dia bercerita hari ini.


Tok! Tok!


"Sayang, Daddy masuk, ya?"


Aku sengaja tidak mengunci pintu, biar saja dia masuk, biar dia melihat tampangku yang cemberut, biar dia merasa bersalah dan dia akan membujukku supaya aku tidak ngambek lagi padanya.


Dan, kurasa inilah waktunya.


Dia duduk di depanku, di tepi ranjang, lalu menghela napas dalam-dalam. "Kamu yakin kamu sudah siap mendengar cerita ini?" tanyanya lirih.


"Lebih dari siap, Daddy. Meski itu adalah hal yang paling buruk sekalipun, Kejora siap."

__ADS_1


Dia menunduk, memejamkan matanya sejenak, lalu menatapku. "Ada hal buruk yang menimpa ibumu sepeninggal Daddy pulang ke Jakarta."


"Apa? Ceritakan saja, Daddy."


Dia mengangguk, lalu berdeham parau. "Kejora... dia... ternyata dia bukan menghilang untuk menikah seperti yang ia tulis di dalam surat. Itu hanya alasan supaya Daddy tidak mencarinya. Dan yang terjadi... sebenarnya...."


"Sebenarnya apa?"


"Sebenarnya... dia mengalami kekerasan seksual. Dia disekap, dan dilecehkan."


"Apa?" nyaris tak bersuara -- mungkin benar tak ada suara saat aku mengucapkannya.


"Ya, itu yang terjadi. Ibumu menceritakan hal itu lewat surat yang ia titipkan pada suster."


Ya Tuhan, jadi aku...?


Ini lebih buruk dari yang kuasumsikan kemarin. Aku bukan hanya terlahir tanpa ayah, tapi juga dari benih hasil pemerkosaan. Benih dari lelaki bejat yang tak bermoral. Oh, malangnya nasib. Menangis aku karena sesak. Perih!


Yang kuat, Kejora. Kendalikan dirimu. Kau pasti bisa. "Daddy tahu cerita selengkapnya? Siapa pelakunya? Katakan padaku, please?"


"Ya, setelah pemakaman ibumu, Daddy menitipkanmu ke Mom Rani sebentar, sementara Daddy mencari tahu fakta yang sebenarnya terjadi. Daddy mendatangi tempat kost-nya yang dulu. Dan... pemilik kost itu membenarkan kejadian itu. Pelakunya... sepupunya sendiri. Buronan kasus perampokan. Kejora yang tidak tahu apa-apa membukakan pintu saat sepupunya itu datang ke sana. Alhasil... dia malah disekap dan mendapatkan perlakuan buruk. Setelah beberapa hari tidak terlihat, pemilik kost mulai curiga dan mengecek ke dalam kost-an ibumu. Dan... katanya... dia menemukan ibumu dalam keadaan terikat di dalam kamar kost, mulutnya dilakban, tanpa pakaian, dan... dia... dia sedang digilir. Tiga -- tiga orang."


Aaaaaargh...! Berengseeeeek...! Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya. Keji! Luar biasa keji para bajingan itu. Setan! Biadab! Binatang mereka semua.


Tubuhku terguncang-guncang karena isakan tangis. Dan kurasa aku sudah tidak kuat mendengarkan lanjutan cerita itu. Aku berlari, meninggalkan Daddy dengan air matanya sendiri sementara aku -- langkahku berhenti di bawah siraman air hujan.

__ADS_1


Aku berteriak -- sekencang yang dihasilkan pita suaraku. Tapi hujan menelannya begitu saja. Bahkan deraian air mataku tersamar olehnya. Sungguh, aku sangat marah. Marah pada takdir. Marah pada si penulis takdir. Tapi aku bisa apa selain meneriakinya? Coba katakan padaku, kenapa Dia memberikan takdir yang buruk kepada orang yang sudah sebegitu menderita hidupnya? Bahkan aku berteriak menanyakan hal itu kepada-Nya. Kenapa?


Tapi tidak ada jawaban. Dia, tidak memberiku jawaban.


__ADS_2