Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Pulang


__ADS_3

Tiket sudah di beli, nasi kotak untuk makan siang juga sudah dibeli. Dan sekarang, kami sudah santai di gerbong kereta. Kalau boleh jujur, ada rasa sakit di dalam hatiku jika mengingat besok Daddy akan kembali lagi ke Malang, dan kami akan berpisah selama enam bulan. Dia akan pulang lagi ke Jakarta saat aku libur sekolah di semester depan. Tapi, kuputuskan, aku mesti menikmati sisa waktu yang kami punya untuk bersama -- kami mesti menjalani ini dengan bahagia.


Dalam perjalanan siang ini, aku bisa menikmati pemandangan di luar jendela. Juga pemandangan di sampingku. Wajah tampan kekasihku, si pria dewasa itu. Walaupun begitu, sebenarnya lebih asyik perjalanan malam, tidak perlu alasan mengantuk untuk tidur dan bersandar di bahu Daddy. Sedangkan sekarang, aku mesti menegakkan bahuku atau bersandar di sandaran kursi melewati menit demi menit yang terasa berat tanpa pelukannya.


Hari itu, kami mengobrol banyak, seru dalam canda tawa. Tapi, yang tidak bisa untuk kulupakan itu ketika Daddy membahas tentangku dan masa remajaku. Dia bertanya: apakah aku pernah jatuh cinta sebelumnya?


Ouwww... aku jadi cengar-cengir. "Kurasa aku belum pernah jatuh cinta. Tapi aku pernah naksir cowok."


"Berarti pernah."


"Beda arti lo, Dad."


"Apa bedanya?"


"Kalau jatuh cinta, barangkali sempat naksir. Tapi, kalau naksir, belum tentu sudah jatuh cinta. Misalnya naksir karena cowok itu ganteng, atau karena dia itu cowok berwajah manis. Belum tentu itu cinta, ya kan?"


Dia mengangguk. "Jadi, kamu pernah naksir cowok karena dia cowok yang ganteng?"


"Ya begitu deh."

__ADS_1


"Terus, apa cowok itu tahu? Dia nembak?"


"Yap. Tapi aku menolak, karena aku menuruti perkataan Daddy dan Oma. Kan aku juga sudah bilang hari itu kalau aku belum pernah pacaran. Daddy percaya, kan?"


Hmm... dia malah mengedikkan bahu. "Jadi kamu belum pernah dicium sebelumnya?"


"Belum. Aku belum pernah mencium atau dicium. Dan faktanya, aku hanya pernah dicium... oleh Daddy."


Dia mengulum senyum, lalu mengelus puncak kepalaku dengan lembut. "Bagus. Itu berarti kamu gadis yang penurut dan bisa dipercaya."


"Dan aku masih perawan. Daddy ingin mengetahui itu, kan? Aku akan menjaga itu untukmu."


"Daddy?"


"Emm?"


"Peluk aku?"


"Peluk?"

__ADS_1


"Ya, please?"


"Oke, sini."


Aaah... akhirnya senyum lepasnya mengembang. Dia memelukku, dan akhirnya perjalanan ini kami lalui dengan duduk santai sambil berpelukan.


"Selalu jaga diri baik-baik, ya. Pulang sekolah langsung pulang ke rumah, jangan kelayapan. Jangan lepas dari pengawasan Pak Ujang. Kalau ada kerja kelompok, ajak teman-temanmu ke rumah. Tapi kalau tidak bisa, hati-hati di rumah orang. Jangan makan dan minum sembarangan."


Paranoid!


Tapi aku tak boleh membantah atau apa pun itu yang bersifat menentang omongannya. Kuanggukkan kepalaku dan mengiyakan perkataannya. "Aku janji, aku akan menjaga diriku baik-baik."


"Janji satu hal lagi."


"Apa?"


"Apa pun yang terjadi kelak, jangan menghilang tanpa jejak. Aku akan selalu ada untukmu. Akan selalu bersamamu, apa pun yang terjadi. Tolong berjanjilah, Kejora."


Ya Tuhan, mataku berkaca. Aku mengangguk cepat, aku tahu dia mengingatkan aku tentang keputusan ibuku dulu yang pergi meninggalkannya -- keputusan yang salah. "Aku janji, aku tidak akan pergi ke mana pun. Apa pun yang terjadi, kamu tempatku untuk kembali. Kamu tempatku pulang. I love you."

__ADS_1


__ADS_2