
Mungkin karena kurang istirahat, dan hari juga sudah sangat larut, aku tidak bisa menahan rasa kantukku. Menyadari keadaanku itu, Daddy pun langsung mengajakku pulang. Ia berpamitan pada teman-temannya yang berada di sekitar kami. Sambil menggandeng tanganku, ia menuntunku ke pelataran parkir. Lalu, sesampainya di mobil, ia membukakan pintu untukku, dan menutupnya dengan sekali sentakan sebelum berjalan ke sisi pengemudi, membuka pintu lalu masuk ke mobil.
Daddy menyalakan mesin dan melaju lancar keluar dari tempat parkir, berhenti di jalur masuk, dan memandang kedua arah sebelum membelok ke jalan. Merasa santai, aku ingin sekali membahas sesuatu yang tersimpan di dalam benakku semenjak kedatangan kami ke pesta tadi.
"Daddy," kataku, "pestanya meriah, ya. Megah. Aku suka."
Daddy mengangguk, dia juga tersenyum. "Kalau kamu mau, kita juga bisa mengadakan resepsi pernikahan kita nanti semeriah itu."
Eh, kok dia langsung mengarah ke sana? Sebegitu kentara, kah, maksudku?
"Siapa, sih, wanita yang tidak mau dirayakan resepsi pernikahannya semeriah itu? Jelas aku mau. Tapi... Daddy sudah bilang ke orang-orang kalau kita ini suami istri. Terus, kalau kita mau menikah nanti...?"
Dia melepaskan satu tangannya dari setir, lalu meraih dan menggenggam tanganku. "Hanya di sini. Di Jakarta kan tidak. Kita akan menikah di Jakarta, lalu kita pindah ke sini seandainya kamu dan Oma mau."
Aku mengangguk-angguk, memikirkan banyak hal yang kontras di antara kami. Tapi, entah bagaimana, Daddy sepertinya tahu persis apa yang ada di otakku itu.
"Satu tahun itu masih lama, Sayang. Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Tapi yang pasti, aku serius, dan tidak sedang bermain-main denganmu."
Aku tahu itu. Tapi bukan itu....
__ADS_1
"Sayang, tidak masalah kok, mau resepsinya digelar dengan mewah dan megah, atau malah sederhana. Yang penting itu kehadiran keluarga kita, dan orang-orang terdekat kita. Mereka hadir untuk mendoakan dan memberikan restunya pada kita berdua. Kalau teman, cukup Oom Hendri, Mommy Rani, dan Oom Endru. Itu saja. Nah, kalau kamu mau mengundang semua teman-temanmu, silakan. Tidak jadi masalah, kok. Please... aku harap kamu juga tidak masalah tentang itu, mengingat...."
Daddy menghentikan kata-katanya. Tapi tanpa dilanjutkan pun aku mengerti. "Aku juga hanya ingin mengundang teman-teman dekatku saja, kok. Cukup yang mau, dan bersedia memahami perasaan kita."
Lagi-lagi ia tersenyum. "Terima kasih, Sayang. Kamu sangat pengertian."
"Tapi tetap, resepsinya mesti dirayakan dengan megah. Dihias dengan banyak bunga-bunga, dan gaun pengantinnya juga mesti sangat mewah. Oke? Supaya kecantikanku tidak mubazir."
Kali ini ia tertawa senang. "Iya, iya, supaya kecantikanmu tidak mubazir, ya." Ia mengelus kepalaku. "Daddy senang, dari dulu kepercayaan dirimu selalu tinggi."
"Iya, dong. Kan Daddy yang mengajariku."
"Mmm-hmm, aku ingin menjadi ratu sehari, wanita tercantik dengan seorang raja yang tampan di sampingku."
Ouw...! Wajah Daddy memerah, dia tersipu. Cute sekali.
"Sayang, ya, anak SMA belum boleh menikah. Kalau sudah boleh...."
Giliran. Aku yang sekarang tersipu. "Daddy, aku mengantuk. Aku mau tidur, ya. Nanti bangunkan aku kalau kita sudah sampai," cerocosku.
__ADS_1
Cepat-cepat kumiringkan tubuhku ke jendela di sampingku. Aku tidak ingin obrolan kami merembet terlalu jauh.
"Rileks, Kejora...," ledek Daddy dengan santainya. Lalu ia menyalakan radio dan musik dari radio pun mengisi keheningan di antara kami.
Kurang dari setengah jam kemudian, Daddy menghentikan laju mobil di depan pondok dan mematikan mesin. Mommy Rani, Oom Endru dan kedua anaknya pasti sudah tertidur, pikirku. Tadi mereka pulang duluan karena anak-anak mereka sudah pulas di tengah-tengah pesta. Ternyata belum, Oom Endru membuka pintu, melongok sebentar ke luar, lalu kembali masuk.
Dan, supaya pura-pura tidurku tidak setengah-setengah, tetap kupejamkan mataku dan menunggu Daddy membangunkanku. Tetapi...
"Aku tahu kamu belum tidur," katanya.
Kuhela napas dalam-dalam seraya memutar tubuhku ke kanan. Dan...
Ya Tuhan, wajah Daddy persis di depan wajahku ketika aku berputar menghadapnya. Dan dalam hitungan detik yang bagaikan kelebat itu, Daddy... menciumku.
Tidak. Ini bukan sekadar ciuman. Dia mel*mat bibirku. Panas, dalam, dan mendamba. Lalu... tangannya, telapak tangan yang hangat itu menelusuri punggungku. Aku merinding, bergetar, bahkan aku memejamkan mataku, dan menahan diri supaya tak meng*rang. Tapi tak bisa. *rangan haus akan belaiannya lolos dadi bibirku. Dan, ketika bibirnya berpindah ke leher...
Oh, no!
Jangan biarkan ini, Kejora! Jangan!
__ADS_1