Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Memuja


__ADS_3

"Kamu suka?" tanyanya, ia berbisik pelan di telinga. Tangannya yang licin berminyak dengan aroma daging panggang bergerilya, membelai setiap inci kulitku dengan mesra.


Bagaimana hasratku tidak menyala, coba? Sungguh menggelora.


Mataku terpejam, meresapi nikmatnya sentuhan Daddy dan indahnya romantika cinta yang tak pernah terpikirkan akan sehangat ini. "Aku suka," sengalku, seakan-akan aku lupa bernapas karena asmara yang begitu memabukkan.


"Kejora," bisiknya, "lain kali, bangunkan aku kalau kau tidak bisa tertidur. Biarkan aku menemanimu, aku mohon? Bersamaku, akan kubuat malammu menjadi lebih indah. Berjanjilah padaku. Berjanjilah."


Aku mengangguk, masih dengan mataku yang terpejam. "Yeah, Daddy. Aku... aku berjanji."


OMG...! Dia menikmati diriku, dengan rasa dan aroma daging panggang berminyak. Lebih gurih, lebih nikmat, dan lebih lezat dari irisan daging sapi panggang yang baru saja kami cicipi.


Ini gila!


"Daddy...."


"Emm?"


"Beritahu aku, cara yang lebih indah untuk menghabiskan waktu."

__ADS_1


"Well, akan kutunjukkan kepadamu. Ayo, berdirilah, Sayang."


Aku berdiri, melepas pengikat jubahku dan membiarkan Daddy menariknya turun meluncur di atas kaki kami. Lalu...


Oh, ingin aku berteriak, ingin memekik, bahkan ingin kuagung-agungkan namanya lewat *rangan yang tak tertahan.


"Aku ingin memberimu lebih dari ini. Nikmat yang lebih."


Oh, Tuhan....


Dia menggigit lembut cuping telingaku, lalu memutarku perlahan. Menggendongku dan mendudukkanku di tepian meja.


Daddy mencium bibirku, lalu bermain dengan lidahku. Sambil menjadikanku bagian dari kerongkongannya, ia membimbingku hingga terbaring. Kecupan demi kecupan ia hujankan melintasi perut dan turun ke inti jiwaku. Lalu, kemudian...


Yang tak pernah kuduga, Daddy meraih piring berminyak itu, menetes-neteskan minyak beraroma daging panggang itu di sepanjang kakiku, ke perutku, juga di sana. Yeah, tepat di sana.


Memabukkan! Dengan bibirnya, dia menyusuri jejak-jejak minyak itu, nyaris memuja -- memujaku dari ujung kakiku tanpa rasa jijik sedikit pun.


Ukh! Sensasi geli mulai menggelitik ketika ia mencapai keindahan di kulit perutku, dia menciumnya, lalu menari-narikan jemarinya hingga aku merasakan gelenyar hebat dan membuat saraf-sarafku seakan menegang seperti senar gitar yang kencang.

__ADS_1


Oh, Tuhan... betapa pria ini sangat mencintaiku. Dia memujaku dengan cintanya yang agung. Sungguh aku terbuai.


Sadar atau tidak, hatiku terenyuh dan aku bergetar oleh suatu perasaan -- haru nan manis, ketika ia mengecup di sana: yang berminyak dan beraroma daging panggang yang lezat.


Daddy menikmatinya, dia duduk di kursinya dan membenamkan bibirnya padaku, seakan-akan ingin memakannya dan melahapnya habis tanpa sisa.


Well, kusadari, Daddy sudah menyiapkan ini, ia merencanakannya, dan sengaja menaruh banyak minyak ke piring itu. Sungguh, dia kekasih yang sangat manis.


Dengan senyuman hangat, Daddy bangkit dari duduknya. "Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan." Cengiran edan terbit di wajahnya yang tampan.


Iyuuuh... dia sudah gila.


"Baiklah, silakan kalau kamu bisa mengambil alih semua pekerjaanku. Tidak masalah jika setelah ini aku tidak bisa berjalan. Aku menantikanmu."


Yeah. Dia naik, merangkak ke atas tubuhku dengan kilatan pemangsa terpancar dari matanya. "Kata-katamu seakan menantangku, Kejora. Jangan menyesal. Oke? Jangan menyesal."


Dan...


Aku merasakannya, keperkasaannya yang luar biasa ketika ia masuk, menyatu denganku, mengekspresikan cintanya dengan membabi buta.

__ADS_1


Sungguh, tak bisa lagi kujelaskan. Gairahnya sampai ke puncak cinta yang maha tinggi.


__ADS_2