Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Posesif!


__ADS_3

Makan malam berlangsung lancar, aku dan Daddy hanya bercakap-cakap biasa, membahas hal-hal biasa seperti lezatnya rasa makanan yang terhidang di atas meja dan tentang kegiatanku di sekolah selama satu semester yang lalu. Lagipula, aku memang tidak ingin -- tepatnya belum ingin membahas tentang sikap Daddy yang terlalu hangat kepadaku. Dan nampaknya, Daddy pun sama. Meski di dalam hatiku tersimpan pertanyaan: apakah dia bersikap sehangat itu karena menganggap aku -- adalah sosok ibuku, atau justru rasa itu memang untukku? Tapi aku tetap menyimpan pertanyaan itu sendiri. Di dalam benakku sendiri.


Jujur, sebenarnya di satu sisi, aku berpikir dan menganggap bahwa sikap hangat Daddy itu ditujukan kepada ibuku, dan ia menganggap sosok ibuku itu ada di dalam diriku, tapi sebagian diriku yang lainnya juga mempertanyakan -- atau bahkan mungkin berharap kalau rasa itu memang untukku. Hingga aku menegur diriku sendiri. Jangan berharap terlalu dalam, Kejora. Jangan pakai perasaan, dan jangan pakai hati.


Yah, aku mulai takut pada diriku sendiri. Apa jadinya kalau aku berharap dan tahu-tahu Daddy berjodoh dengan orang lain? Jika itu terjadi, tidak mungkin keadaan di antara kami bisa sama seperti sebelumnya -- antara anak dan ayah. Tidak mungkin bisa lagi.


Biarkan saja dia bersikap hangat, Kejora, hanya demi melihatnya bahagia. Dan jika kelak ia menikah dengan perempuan lain, kau tak lantas kehilangan sosoknya sebagai ayah. Please, beranggapanlah bahwa kalian menjalin hubungan ayah dan anak dalam versi paling unik yang pernah ada. Cukup kendalikan dirimu dan jangan kelewat batas seperti tadi sore. Camkan!


Sibuk dengan pemikiranku sendiri, tak terasa Daddy sudah selesai dengan santapannya, begitu pun denganku.


"Daddy sudah selesai?"


"Iya, Sayang. Sudah."


"Biar Kejora bereskan mejanya, ya."


"Mau Daddy bantu?"


"Tidak perlu, Daddy... Kejora bisa, kok."


"Bagus dong, itu artinya--"


Tok! Tok! Tok!


"Sepertinya ada orang."


"Biar Daddy yang buka pintu."


"Ditanya dulu sebelum buka pintu, Dad!" seruku.


Aku yang semestinya mencuci piring malah kepo siapa kira-kira yang datang bertamu. Namun aku hanya mengintip dari balik dinding. Rupa-rupanya salah satu pekerja di perkebunan itu. Dia memberikan setermos kecil wadang jahe kepada Daddy.


"Ini saya bawakan wedang jahe untuk Bapak dan Istri. Biar badannya tetap hangat di cuaca dingin begini."

__ADS_1


What? Istri? Aku menelan ludah dan refleks bersandar ke dinding. Apa Daddy menyebutku istrinya pada para pekerja? Ya ampun... kalau calon istri masih mending. Tapi ini?


"Eh, Sayang," Daddy terkejut. "Kamu...?"


"E, aku... aku tadi cuma mau mengecek, siapa...."


"Maaf, ya. Kamu dengar...?"


"Tidak apa-apa. Kejora ngerti. Kejora--"


"Daddy bilangnya kamu orang rumah, dan mereka mengartikan itu... sebagai...."


Aku mengangguk. "Kejora paham. Bukan salah Daddy. Lagipula... kalau mereka tahu aku bukan siapa-siapanya Daddy, kita tidak bisa tinggal berdua di satu pondok, kan?"


"Em," dia menelan ludah sendiri, "trims... pengertian... kamu."


Siapa pun akan berpikir orang rumah itu adalah istri, Dad. Itu bahkan berarti Daddy sengaja menggiring pemikiran orang ke arah sana. Itu juga kenapa Daddy memintaku jangan mengaku sebagai anak, kan? Ya ampun, apa Daddy benar-benar ingin menikahiku?


"Kamu benaran tidak marah, kan?"


"Oke." Ia tersenyum -- memaksakan senyum. "Kalau begitu Daddy--"


"Daddy duduk di depan saja, ya. Kejora mau cuci piring dulu," potongku secepat kilat.


Kan, kan... nervous lagi akunya. Hmm....


Dengan kikuk, Daddy mengangguk. "Daddy mau ambil gelas dulu."


Sama kikuknya, aku pun mengangguk, tapi tetap mematung di sana hingga jentikan jari Daddy menyadarkanku kembali dari keterpakuan.


"Katanya mau cuci piring. Jangan keseringan melamun, nanti kesambet penunggu pondok."


Ah, Daddy... aku jadi merinding sendiri gara-gara ucapannya. Untung saja hanya sedikit cucian piringku. Aku pun lekas-lekas menyelesaikannya dan segera kabur ke ruang perapian.

__ADS_1


Huffft... kuhempaskan tubuhku di kursi, sementara Daddy tengah duduk bersila di atas permadani di depan perapian. Ia tengah sibuk dengan berkas surat-menyurat tanah yang hendak ia beli itu.


"Belum mau tidur?"


"Kejora mau ngobrol dulu kalau Daddy sudah selesai bacanya."


"Oke, bisa menunggu sebentar? Sedikit lagi pekerjaan Daddy selesai."


Haddeh... sedikit lagi katanya. Hiks, keburu mengantuk aku dibuatnya.


"Kalau mengantuk, mending kamu tidur, gih."


"Tapi aku mau mengobrol dulu."


"Mau bahas apa?"


Kuhela napas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk menyampaikan permintaanku. "Soal identitasku," kataku. "Biar aku plong kalau aku tahu semua ceritanya. Please, Kejora bukannya mau melanggar aturan. Kejora cuma kepingin plong dan tidak menyimpan pertanyaan-pertanyaan lagi. Lagipula biar Kejora tambah cantik, tahu, hidup tanpa beban, ya kan?" Sejujurnya, aku juga ingin tahu tentang masa lalu Daddy dan ibuku, hubungan kalian dulu sejauh apa? Aku ingin tahu soal itu.


Daddy terdiam, dia hanya menatap lekat padaku dan seakan tak bisa bicara lagi. Padahal aku sudah mencoba melontarkan lelucon padanya, meski garing dan payah.


"Dad... please... ini bukan perkara waktu pas atau tidak, tapi ini tentang siap atau tidak aku mengetahui cerita itu. Dan aku siap. Aku hanya ingin tahu. Aku pasti kuat, kok. Paling sedih sedikit. Nggak bakalan kabur, membunuh orang, apalagi sampai bunuh diri. Aku janji, Dad."


Ah, akhirnya ia mengangguk. Betapa senangnya hatiku.


"Tapi besok, ya, Sayang."


"Ya... Daddy mah begitu...."


"Daddy tidak mau kamu kepikiran dan susah tidur nantinya. Jadi... besok saja. Oke? Dan jangan membantah! Turuti aturan Daddy."


Aku mendelik. "Dasar... Daddy posesif!"


"O ya?" Dia nyengir. "Hanya pemberitahuan, Sayang, kalau nanti jadi suami, posesifnya akan lebih dari ini."

__ADS_1


Eh? Apa itu maksudnya?


__ADS_2