
Klontang!
Suara kaleng yang menghantam permukaan keras paving blok di area pagar depan membuat dua penjaga langsung berteriak heboh dan langsung mengejar pesepeda motor yang melemparkan kaleng itu ke halaman rumah. Tapi, dengan derum gas motor yang kencang, sosok berhelm itu segera melejit meninggalkan asap knalpot dan para penjaga yang ditugaskan Daddy di depan rumah. Aku dan Daddy yang kala itu tengah santai di ruang keluarga pun langsung mengecek ke halaman depan.
"Maaf, Pak, orangnya berhasil kabur."
Salah seorang penjaga yang bertubuh besar mengambil kaleng itu dan menemukan selembar kertas di dalamnya. Surat kaleng.
Aku masih menantikan malam indah itu. Malam impianku. Bercinta denganmu, Kejora.
"Berengsek!" Daddy menggeram, ada amarah dalam nada suaranya.
Jantungku bergemuruh karena teror surat kaleng itu, dan bertambah jadi saat menyaksikan reaksi Daddy. Aku tidak pernah melihatnya marah selain pada Pak Ujang yang teledor dulu, dan sekarang, karena surat kaleng ini emosi Daddy mulai terpancing.
Ini gila! Si peneror itu bahkan tak kehabisan cara. Tak bisa masuk ke dalam pagar, melemparkan surat kaleng pun jadi hanya demi mengirimkan teror keji itu untukku. Speechless, aku tidak tahu aku mesti bagaimana, tidak tahu harus berkata apa atau menanggapinya bagaimana, tapi aku juga tak bisa pingsan di tempat. Aku tak bisa membujuk Daddy untuk tenang, sebab aku sendiri dalam keadaan shock yang luar biasa. Aku tak dapat mengeluarkan suaraku. Entah bagaimana, rasanya tanpa sadar, aku pergi dari sana, aku berjalan cepat dalam ketakutan, masuk ke dalam rumah, langsung ke kamar utama. Aku tak boleh ada di pekarangan itu. Seseorang di luar sana -- mungkin Riko, ia tak boleh melihatku ketakutan walaupun sebenarnya aku memang sangat takut.
__ADS_1
"Kalian berjaga terus. Jangan sampai ada yang bisa masuk ke rumah ini," suara Daddy terdengar samar, dan aku tidak tahu apa lagi yang ia sampaikan pada dua penjaga itu.
Di kamar, aku langsung masuk ke kamar mandi, mencuci wajah dan menggosok gigi. Sewaktu aku keluar, Daddy berdiri di samping pintu kamar mandi. Dia menatapku dalam-dalam dan tak mengatakan apa pun. Mungkin, dia tidak bisa mengatakan satu kata pun karena -- jelas, perasaannya pun pasti amat terganggu.
"Aku... aku mau tidur," kataku, tak mampu menyembunyikan rasa gugup, plus rasa takutku di hadapannya, lelaki yang sudah mengenal dan membesarkanku sedari bayi.
Daddy memelukku. "Maaf," katanya. "Aku tidak bisa memberikanmu rasa aman seutuhnya. Maaf, Kejora."
Ya Tuhan, keadaanku memang kasihan karena diteror terus oleh penjahat itu. Tapi Daddy juga kasihan, dia akan terus-terusan dirongrong oleh rasa bersalah. Dia suamiku, tapi ia merasa gagal menjamin keamanan untukku.
Daddy melepaskan pelukan, tapi ia masih menatapku dengan rasa bersalah yang kental di wajahnya, kedua tangannya menangkup wajahku, gemetar. Namun ia tak bisa mengatakan apa pun lagi.
Sama, begitu juga denganku, aku hanya mengangguk cepat. "Sebaiknya kita istirahat. Ayo."
Aku berjalan menuju lampu tidur sebelum Daddy mengatakan apa-apa lagi, menyerukan selamat tidur dengan cepat kepadanya dan menyalakan lampu tidur lilinku dan memadamkan lampu di langit-langit kamar sebelum Daddy melihat mataku yang berkaca.
__ADS_1
Aku tidak boleh menangis. Daddy tidak boleh melihat air mataku. Aku segera menyekanya, dan naik ke tempat tidur. "Ayo, sini. Ini sudah malam."
Dia mengangguk. "Aku ke kamar mandi dulu sebentar."
Yap, sebentar. Begitu keluar dari kamar mandi, ia langsung naik ke tempat tidur. Ia bergerak mendekat dan mengulurkan tangan ke dekat pipiku. Sentuhan lembut -- di tempat sentuhannya mengenai pipiku adalah pengalih perhatian yang menyenangkan, ditambah lagi ia mencium mesra leherku dan membenamkan bibirnya lama-lama.
"Aku mengkhawatirkanmu."
"Aku baik-baik saja," kataku pelan. "Sungguh, aku baik-baik saja."
"Ya, kuharap memang begitu." Dia menunduk mamandangiku, mata hitamnya tampak intens. "Sini, tidur di pelukanku."
Aku mengangguk. Aku tidak tahu apakah itu berarti percakapan ini berakhir, atau apakah itu berarti kami akan membicarakannya lagi setelah ini, tapi aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah berada di buaian tempat tidurku yang nyaman, dan, dalam hangatnya pelukan suamiku tersayang.
Tapi sayang, sesungguhnya aku tak bisa menyingkirkan firasat buruk yang merayapi diriku....
__ADS_1