Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Obat Stres


__ADS_3

Yeah, memang tidak bisa seperti adegan kekerasan *eksual. Tapi bercinta dengan Daddy adalah pengalihan yang menyenangkan. Ketika dia berdiri di hadapanku, mata hitamnya begitu menusukku. "Aku cinta padamu," kataku. "Please, jadikan sisa malam ini lebih indah."


"Apa pun untukmu, Kejora."


Daddy menangkup dadaku, membenamkan wajahnya di sana, mencumbu, mencengkeram kuat-kuat dengan seluruh tenaganya.


"Oh, Dad...," aku melenguh, dan balas mencengkeramnya. Mengaktifkan tanganku, membebaskannya dan bergerak lincah.


Daddy mendesis. "Sepertinya aku juga butuh kamu turun." Dia nyengir. "Kalau tidak keberatan, please?"


Tentu saja. "Dengan senang hati." Aku pun turun, memenuhi permintaannya.


Aku senang Daddy menikmatinya. Dia menahan dirinya dengan kedua tangan dijulurkan ke dinding, mengeran* nikmat, dan aku merasakan dirinya terbakar hasrat. "Ayo, Kejora," katanya, ia menarik kedua lenganku untuk bangkit. Aku pun berdiri.


Dan, dia mulai masuk. Percintaan yang diawali dengan gerak perlahan, dan dibarengi dengan cumbuan. Daddy memberikan ciuman ekstra di leherku.


"Punggungmu tidak sakit?"


Aku tersenyum. "Tidak kok, hentakanmu tidak membuatku terbentur. Santai saja." Lalu aku berbisik, "Ini nikmat. Dan kamulah ahlinya."


"Kamu suka?"

__ADS_1


"Em, lebih dari apa yang bisa kukatakan."


"Yeah, tapi tinggi kita tidak sama, dan ini sedikit mengganggu."


Euw... aku jadi cekikikan. Apa perlu aku memakai hak lima belas senti?


"Begini lebih baik," kata Daddy, dia mengangkat kedua pahaku dalam posisi gendongannya. "Bagaimana? Perasaanmu jadi lebih baik?"


Aku mengangguk. "Em, karenamu, dan karena bercinta denganmu. Obat stres paling ampuh."


"Kau juga obat yang paling ampuh, Kejora. Aku senang kalau kehadiranku berguna."


Kau selalu berguna, Daddy. Tak sekali pun kehadiranmu sia-sia.


Kupejamkan mataku sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam. "Ada yang ingin kubahas."


"Apa itu?"


"Kalau kamu di posisi korban pemerkosaan, apa kamu akan mempertahankan kehormatanmu meski nyawamu jadi taruhan?"


"Kejora, please...." Wajah Daddy nampak terluka, tapi dia mesti menjawabku. "Ya, harga diri, selagi bisa dipertahankan, pertahankan."

__ADS_1


"Meski aku harus mati, kan? Atau... meski aku yang harus membunuhnya, ya kan? Aku tidak boleh pasrah seandainya hal itu benar-benar terjadi."


"Hei, hei, ssst... itu tidak akan terjadi, Sayang. Aku akan selalu ada di dekatmu. Dan ingat, lusa pembagian ijazahmu, setelah itu kita langsung pindah ke Malang. Oke? Jangan bahas hal ini lagi."


Aku mengangguk. Dan aku sudah mendapatkan jawabanku. Aku tidak akan takut pada apa pun. Akan kupertahankan kesucianku sebagai seorang istri. Kalaupun hal buruk terjadi, aku janji, aku tidak akan terpuruk. Kalau perlu, akan kubuat Riko membayar mahal perbuatannya kepadaku. Bahkan dengan nyawanya. "Well, ayo, ajak aku menggila bersamamu."


"Siap. Akan kulakukan... untukmu."


Ah, Daddy. Dia menarikku bangkit dan memintaku mundur dan menyandarkan punggungku di tumpukan bantal di kepala ranjang. Ditaruhnya kedua kakiku di atas pahanya, rasanya pas dan nyaman ketika ia menyatukan diri denganku.


Aku tercipta untukmu, Gibran.


"Are you ready?"


Lebih dari siap. Dan aku rela menghabiskan waktu, dan menyambut mentari dengan bercinta tanpa henti.


"Kejora...." Daddy bergerak, bantal di belakang punggungku melesak ketika ia menekankan tubuhnya padaku dalam-dalam, mencapai dasarku. "Jangan stres, ya, Sayang. Kesehatan psikismu sangat berpengaruh pada kesuburan. Kamu ingin cepat memberi Oma cucu, kan?"


Aku tersenyum kepadanya. "Daddy benar. Akan kujaga emosiku dan pikiranku baik-baik."


"Bagus. Gadis kecilku yang pintar."

__ADS_1


"Jangan bahas apa pun dulu, ya. Biarkan aku menikmati momen ini. Oke?"


"Yeah." Daddy tersenyum hangat, ceria sekali. "Nikmatilah, Sayang. Aku sangat mencintaimu."


__ADS_2