
Positif.
Daddy langsung sujud syukur setelah melihat garis dua di testpack yang kugunakan. Pun Oma, kebahagiaan mereka tak bisa kujelaskan dengan rangkaian kata-kata. Oma langsung memelukku, ditambah Daddy, seakan-akan aku sudah melengkapi keluarga kecil kami. Ya Tuhan... apalagi nanti setelah anak ini lahir, pasti rasanya seakan aku memberikan seluruh isi dunia kepada mereka.
"Terima kasih, ya, Sayang. Oma bahagia. Oma menantikan anak kalian. Oma bahagia sekali."
Aku mengangguk. Air mata haru membasahi wajahku. Mereka tak sedikit pun meragukan kandunganku, jauh dari apa yang kutakutkan. "Terima kasih, Oma. Terima kasih atas kepercayaan kalian."
__ADS_1
"Sudah, sudah, tidak perlu membahas hal ini. Bu Bidan mau mengecek kesehatanmu dulu," kata Oma. "Kamu mau makan apa? Biar Oma buatkan."
Kuseka air mataku dengan tangan. "Apa saja, Oma. Terserah Oma."
"Oma janji, Oma akan ekstra perhatian padamu dan juga pada kandunganmu. Sekali lagi terima kasih, ya, Sayang."
Setelah pengecekan kesehatan oleh Bu Nita yang meliputi tensi darah dan kadar gulaku, Bu Nita menghitung perkiraan bulan apa aku akan lahiran, dan kemungkinan jatuh pada awal Maret nanti, lalu ia memberikan sejumlah vitamin untuk kesehatanku dan kandunganku, ia pun berpamitan. Dan, sekarang giliran Daddy: dengan bahagianya ia mengangkat tubuhku dan melingkarkan tangannya erat-erat di tubuhku.
__ADS_1
"Aku sangat bahagia. Terima kasih," ujarnya. "Dan perlu kutekankan padamu, aku paham penjelasan dokter waktu itu, tidak ada sel *perma lelaki yang masuk ke tubuhmu, dan kamu bahkan diberi pil pencegah kehamilan pasca kejadian itu. Artinya kita tidak perlu ragu, yang kamu kandung sekarang itu benihku. Aku percaya, Kejora. Jangan takut, ya? Kamu tidak perlu memikirkan apa pun. Fokus saja pada kandunganmu. Calon anak kita. Oke?"
Aku mengangguk-angguk, diliputi oleh rasa yang mengharu biru. Bahagianya sungguh tak terbendung. Apalagi setelah hari itu Daddy menjadi suami super siaga setiap saat, setiap hari, setiap waktu, dua puluh empat jam. Dia bukannya kasihan padaku karena mengalami mual-mual, dia malah senang karena dengan begitu dia banyak kesempatan untuk memanjakanku, berperan sebagai suami siaga dan ayah yang baik. Kau tahu, dia bahkan mengantongi minyak telonku. Jadi, saat aku mual, dia langsung mengeluarkan minyak telon itu dari sakunya dan mengoleskannya di punggung dan perutku. Ada rasa syukur yang kuungkapkan di balik derita mual yang mesti kuhadapi setiap hari.
"Enak?" tanyanya setiap kali ia menggosok punggungku atau ia mengelus-elus perutku. Aku selalu menjadi prioritas utamanya, bahkan ketika dia menerima telepon dari pekerja kebun yang menyampaikan laporan tentang perkebunan, Daddy meninggalkan telepon itu dulu untuk mengurusiku. Dia antusias sekali pada calon anak pertamanya ini.
Dan, berkahnya, kehamilan ini menyita perhatian dan pikiranku. Rasa lapar dan mualku yang seakan berlomba dan silih berganti itu membuatku tak punya waktu memikirkan kejadian buruk yang telah berlalu. Aku tidak lupa, tapi aku tidak mengingatnya ataupun kejadian itu kembali terlintas di pikiranku, tidak lagi. Dan justru sebaliknya, aku sangat senang dengan hormon di dalam tubuhku yang mempengaruhi mood-ku. Aku jadi ingin sering bermanja-manja pada Daddy.
__ADS_1