Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Sapaan Pagi


__ADS_3

Aku terbangun keesokan paginya oleh suara Oma yang berseru dari ruang tangga bahwa sekarang waktunya untuk sekolah, dan langsung melihat wajah tampan Daddy dan senyum manisnya menyapaku. Ia duduk di tempat tidur, di sampingku.


Ah, cuma mimpi, pikirku. Lalu kupejamkan kembali mataku, bermaksud tidur lima menit lagi.


"Selamat pagi, Cantik," katanya.


Praktis mataku terbuka lebar. Aku cepat-cepat duduk dan berusaha menutup-nutupi keterkejutanku. Kugosok-gosok mataku dengan kedua tangan dan melihat ke sekeliling, menyadari keberadaanku yang benar-benar berada di dalam kamar -- di rumah, bukan di pondok yang ada di Malang.


"Daddy... kenapa ada di sini?"


"Ssst... jangan berisik."


"Makanya, kita bisa dijewer Oma kalau Daddy menyelinap ke kamarku."


"Makanya," dia meniru nada bicaraku, "jangan berisik. Oma tidak tahu kalau Daddy sudah pulang dari lari pagi."


Oh, ya, aku baru menyadari kausnya yang basah, juga aroma keringat pada tubuhnya yang seksi. Dan, itu menggairahkan.


No! Apa sih, Kejora... luruskan pikiranmu!


Aku menunduk memandangi seprai, merasa sangat malu dengan segalanya. Dengan keadaanku yang baru bangun tidur, dan caraku barusan yang memandanginya dengan hasrat.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyaku gugup.


Senyumnya mengembang. "Tidak ada. Hanya sekadar ingin menjadi yang pertama kamu lihat pagi ini."


Sungguh, aku tidak bisa menahan bibirku, senyumku mengembang bak bunga yang bermekaran di pagi hari. "Dasar gombal!" ledekku.


"Ada lagi," katanya.


"Eh, apanya?"


"Ingin merasakan manismu."


Aku mendelik. "Ini di rumah, Dad." Kugeleng-gelengkan kepalaku sambil tersenyum malu. Aku tak ingin menolak kalau tidak takut pada ibunya yang akan menjewer kami berdua jika ketahuan berduaan di dalam kamar. Dia mengatakan itu semalam sewaktu kami baru saja sampai di rumah.


"Daddy...," seruku pelan.


Ia menarikku dan praktis membuatku terguling dan langsung menindihku. "Beri aku waktu sebentar," pintanya. "Aku mohon?"


Deg!


"Daddy...." Aku menelan ludah.

__ADS_1


"Please?"


"Aku takut--"


"Aku tahu batasanku."


"Bukan, aku hanya takut kalau... kamu akan menilaiku murahan kalau aku membiarkan--"


"Ssst...." Jarinya menempel di bibirku. "Simpan kekhawatiranmu. Beri aku waktu sebentar saja. Ya?"


Aku menggeleng, namun itu tak berarti apa-apa ketika ia menjauhkan jemarinya dari bibirku, dan menggantikannya dengan bibirnya yang seketika berhasil memorakporandakan sarafku. Aku menegang -- seperti dirinya, dan, kehabisan napas. Dia tak melepaskan mulutnya dariku setelah ciuman lembut yang berujung -- menjadikan ruang di dalam mulutku sebagai tempat bermain bagi lidahnya yang liar.


Sejenak kemudian, aku baru saja berusaha bernapas ketika ia melepaskan bibirnya dariku, tapi napasku serasa sudah berhenti lagi ketika ia membenamkan bibir dan barisan gigi putihnya di sisi depan pundak kananku. Sakit, tapi nikmat. Berdarah, tapi aku bergairah. *rangan nikmat keluar dari tenggorokanku bersamaan dengan jemariku yang lancang mencengkeram rambutnya yang hitam dan lebat.


"Trims," katanya seraya tersenyum senang -- gambaran kepuasan atas hasratnya yang sedikit tersalur. "Aku menemukan jiwaku kembali hidup berkat kehadiranmu. I love you so much, Kejora." Dia mendaratkan satu kecupan di keningku lalu beranjak turun dariku.


Hmmmmm... Doraemon, mana Doraemon? Pinjamkan aku mesin waktu! Buat tahun ini cepat-cepat berlalu.


Argh! Sungguh, Daddy membuatku gila.


Setelah Daddy keluar dari kamarku, aku pun berdiri dan meregangkan tubuh, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Seraya meraih handuk, aku berbalik untuk menutup pintu di belakangku. Dan sewaktu aku menanggalkan pakaianku, pantulan di cermin menarik perhatianku pada tanda merah yang ditinggalkan Daddy di tubuhku. Aku pun tersenyum.

__ADS_1


"Jiwanya kembali hidup setelah tujuh belas tahun?"


__ADS_2