Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Haemadipsa Sialan!


__ADS_3

"Aaaaa...!"


Suara teriakanku melengking keras memenuhi ruang kamar mandi yang kecil itu dan seketika membuat Daddy menghambur ke belakang.


"Jijiiiiik...! Lepas! Lepas! Lepas! Pergi! Pergiiiii...!"


Sambil melompat-lompat dan menggeliat geli, kusentak-kusentakkan dress-ku ke belakang pinggang, namun hewan kecil pengisap darah itu tak mau lepas dari kulitku. Haemadipsa alias pacet hitam sialan itu sudah gemuk berkat mengisap darahku yang manis.


Sementara di luar, Daddy berteriak sambil menggedor-gedor pintu, dia memanggil-manggil namaku dan bertanya ada apa. Tapi, bagaimana aku bisa menyahut sedangkan aku sendiri histeris dengan rasa panik yang membuncah? Aku paling jijik dengan hewan-hewan kecil, licin, pengisap darah itu. Aku benci pacet, lintah, dan sebangsanya.


Dan, karena tak mendapati respons dariku, Daddy yang ikut panik di luar pintu terpaksa mendobrak pintu kamar mandi.


Oh, no!


Meski area kewanitaanku tertutup dan untungnya bawahan yang kupakai itu bukanlah segitiga bermuda, tetap saja itu memalukan. Sejak usiaku balig, nenek melarangku berpakaian terbuka jika ada Daddy di rumah, jadi ia tidak pernah melihat bagian tubuhku yang tak semestinya. Dan kalau aku tidak salah menyadari -- Daddy langsung memalingkan pandangannya ketika ia melihatku yang nyaris polos di depan matanya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya, suaranya agak keras bawaan panik yang belum reda.


Aku, yang kala itu lupa akan keberadaan haemadipsa kecil itu akibat kehadiran Daddy, malah mematung sesaat di sana. "Oh," gumamku sesaat kemudian. Aku langsung berpaling -- memutar tubuh dan saling memunggungi dengan Daddy. "Pacet, Dad...," rengekku.


"Di mana?"


"Di pinggang."


"Oke, kamu tenang. Daddy...." Dia berbalik dan tanpa kata langsung mengamati -- mencari hewan kecil yang menempel di tubuhku itu.


Oh, Dad... semoga Daddy kuat melihatku yang nyaris polos begini.


Uuuh... gemetar aku begitu buku-buku jari Daddy menyentuh kulitku. Merinding!


Tapi suka. Bagaimana, dong?

__ADS_1


Nah, kan... otakku jadi konslet lagi.


Buang jauh-jauh pikiran itu, Kejora...! Sadar... Idiot!


Ya ampun, jiwa kegadisanku melompat-melompat kegirangan.


Ada dua haemadipsa yang berhasil ditemukan Daddy dan dibunuhnya dengan sadis. Ah, kalau saja tidak ada pacet yang terjatuh sewaktu aku membuka pakaianku tadi, aku tidak akan mengecek bagian belakang tubuhku melalui kaca dan melihat hewan kurus yang mendadak gendut itu menempel padaku dengan amat sangat betah. Euw... geli, tahu! Jijik!


"Maaf, ya," kata Daddy sebelum menyibakkan rambutku yang panjang untuk memastikan tak ada lagi haemadipsa lain yang menempel di bagian belakang tubuhku. Setelah ia mengamati dengan seksama, yang aku yakin ia benar-benar berniat memastikan hewan kecil itu sudah tidak ada -- bukan untuk memanfaatkan keadaan dan menikmati keindahan tubuhku, ia pun berkata, "Sudah tidak ada lagi, Sayang. Daddy keluar, ya. Panggil Daddy kalau...."


Aku mengangguk, lalu menoleh dan menatapnya. "Terima kasih, Dad," kataku canggung. "Maaf, ya...."


Dia tersenyum kecil. "Rileks. Daddy nggak lihat yang macam-macam, kok," katanya. Ia pun berbalik, keluar dan menutup pintu.


Argh! Dasar hewan sialan! Hewan kecil itu sungguh membuatku malu.

__ADS_1


__ADS_2